17 Hal yang Pasti Dirasakan Orang Indonesia di Wageningen

Wageningan selalu memiliki ruang di hati banyak anak Indonesia. Tercatat lebih dari seribu mahasiswa Indonesia pernah menginjakkan kakinya di kota kecil ini. Dan bagi saya, Wageningen selalu penuh dengan kejutan yang tak terlupakan.

Oia, list ini sebenarnya cuman lucu-lucuan aja. Dibuat saat saya lagi naik sepeda menuju arah pulang. Semua list yang saya pikirkan, saya rekam melalui pesan suara. Setelah tiba di rumah saya langsung memindahkan rekaman dalam tulisan.

Dan taaraaa, jadilah 17 hal yang pasti dirasakan orang Indonesia ketika kuliah di Wageningen. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengetahun pribadi saya, kalau ada yang mau ditambahkan atau dikurangi, monggo. Hoho.

1. Terima dan Beri Barang Hibah

Buat anak Indonesia, ini adalah top list yang paling membantu. Barang hibah atau free things sangat lumrah di Wageningen. Kenal dengan senior atau kakak tingkat sangat-sangat membantu. Mereka dengan baik hati memberikan barang-barang milik mereka secara gratis.

Ketika saya pertama kali datang di Wageningen, saya langsung dapat barang-barang hibah seperti selimut, kulkas, meja, lampu belajar dan lain-lain dari Aken dan Awi untuk tinggal di Asserpark. Setelah pindah ke Bennekom, saya pun dapat banyak barang hibah dari tenant sebelumnya, Acha. Mulai dari kulkas, sofa, meja dan lain sebagainya.

Bisa dikatakan barang-barang yang saya beli hanya sedikit sekali. Sisanya barang hibah dari orang-orang Indonesia sebelumnya. hehe. Terima kasih kakak-kakak. 🙂

sofa dibelakang saya gratis loh…

Atau kalian juga bisa menemukan barang-barang hibah dari informasi di Facebook, ikuti grup Wageningen Student Plaza. Disana informasi berjibun. 🙂

2. Area Wajib Bersepeda

Kalau ini sih hal yang udah pasti banget dilakukan anak Wageningen. Kalau dulunya gak bisa naik sepeda, disini WAJIB bisa naik sepeda. Karena banyak banget tempat kuliah yang gak terjangkau dengan publik transport. Misalnya nih ya, kuliah di Forum terus harus kuliah di Leuwenborch sorenya. Kalau naik bis, itu artinya harus dua kali. Kalaupun jalan, yaaa lumayan jauh..

sepeda is my life

Paling parah kalau kejadian kelas pagi di Forum dan kelas siang di De Dreijen. Kalau naik bis, naik bis dua kali. Kalau jalan, hmmmm agak gak mungkin. Karena itu jauuuh banget. Hahah. Jadi memang kuliah di Wageningen harus kudu wajib banget bisa naik sepeda.

Nilai tambahnya adalah banyak spot-spot menarik yang bisa dilihat sambil sepedahan keliling Wageningen. Ini yang bakalan saya rindukan kalau meninggalkan Wageningen suatu saat. Sepedahan tanpa harus bingung dengan asap kendaraan.

3. Ice-Skating di Danau WUR

Kalau ini hanya bisa dilakukan saat musim dingin. Setiap tahunnya, danau WUR akan membeku dan membuat danau yang dangkal menjadi ajang unjuk bakat ice-skating. Ini adalah hal yang paling seru dilakukan. Karena lumayan juga rasanya jatuh di atas es yang membeku.

Tahun lalu adalah musim dingin terdingin selama 50 tahun, jadi gak heran satu danau membeku hingga ada seekor angsa yang terjebak es. Sedih sih.

4. Ikut Potluck

Potluck adalah tradisi yang sepertinya sangat jamak di Belanda. Biasanya potluck dilakukan ketika ada orang yang ulang tahun atau party. Potluck adalah tradisi membawa makanan masing-masing yang dibawa dari rumah kemudian dimakan beramai-ramai di sebuah acara.

Saya pernah datang ke acara ulang tahun, kita diminta membawa makanan. Seru sih. Kita jadi bisa mencicipi makanan dari negara lain. Biasanya sih teman-teman sudah tahu bahwa saya muslim, jadi gak akan masak yang mengandung babi. Untungnya disini gerakan Vegetarianism dan Veganism sangat marak. Jadi banyak makanan yang gak mengandung hewan. Heheh.

5. Pergi ke Arboretum atau Botanical Garden

Arboretum Belmonte di Wageningen adalah salah satu spot menarik untuk dikunjungi saat musim gugur. Karena hampir semua pohon-pohon disana menguning dan menjadi objek menarik untuk difoto. Tak hanya itu, Arboretrum merupakan titik tertinggi yang ada di Wageningen. Saya paling suka Arboretum saat sore hari, karena ada pemandangan indah menghadap sungai Rhenen. 🙂

titik tertinggi di Wageningen

Biasanya tempat ini dikunjungi saat acara Annual Introduction Days (AID) oleh mahasiswa baru. Karena untuk pengenalan kegiatan dan organisasi mahasiswa biasa dilakukan di tempat ini.

6. Belanja di Pasar Lokal (Open Market)

Setiap hari Rabu dan Sabtu ada pasar lokal atau biasa disebut dengan Open Market yang menjual buah dan sayur dengan murah. Biasanya hanya bawa 5 euro sudah bawa tentengan buah yang lumayan banyak. eheh. Kalian bisa baca cerita tentang pasar lokal di Wageningen melalui link ini (Belanja di Open Market Wageningen).

Biasanya saya datang di saat pasar akan tutup, sekitar pukul 3 sore. Beberapa penjual sayur akan menjual sayur dan buah mereka dengan harga yang sangat murah. Bayangkan saja satu kilo tomat dijual dengan harga 1 euro. Saya biasanya patungan sama teman untuk membeli sesuatu. Karena gak mungkin menghabiskan tomat 1 kilo sendirian. Haha.

7. Ikut memilih makanan dengan logo sustainable

Saya awalnya gak terlalu aware dengan logo yang ada di kemasan makanan. Tapi setelah belajar tentang logo di kemasan makanan membuat saya sadar tentang perubahan yang bisa dimulai dari diri sendiri. Tapi kayaknya bakalan panjang kalau dibahas dalam sesi ini. Hoho.

Saya jelaskan sedikit kenapa harus memilih makanan dengan logo. Awalnya juga saya gak terlalu percaya dan skeptis dengan logo. Namun ternyata ketika saya mempelajarinya, saya yakin semakin tinggi teknologi, traceability atau ketertelusuran sebuah makanan semakin mudah dilakukan. Hampir semua makanan di supermarket di Wageningen memiliki barang logo sustainable, mulai dari Biologische, MSC, ASC, Fair Trade, FSC, dan lain sebagainya. Saya akan menjelaskan mengenai logo ini di tulisan yang lain. Tunggu yaaa. Heheh.

8. Sehari Tanpa Nasi

Buat anak-anak Indonesia, kayaknya agak susah keluar dari kebiasaan untuk gak makan nasi. Tapi kebanyakan dari anak Indonesia bakalan nyobain sehari makan kentang ketika tinggal di Wageningen. Alasannya bisa sangat beragam, mulai dari “bosan makan nasi”, “mau coba cari makanan baru”, atau bahkan “mengurangi carbon foot print”.

Tapi kenapa harus makan kentang? Sepanjang yang saya tahu, karena kentang diproduksi dari Belanda itu artinya ditanam disini. Untuk menanam kentang, membawanya ke pabrik hingga akhirnya tiba di piring, tidak banyak menggunakan carbon. Para ahli menyebutnya dengan “carbon foot print”. Carbon foot print ini berlaku untuk semua jenis barang. Misalnya saja beras, bayangkan saja berapa banyak carbon yang digunakan untuk membawa (import) dari negara-negara lain misalnya Thailand ataupun Philippines untuk tiba di Belanda.

Karena itu memakan penganan lokal menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi carbon foot print. Seperti contoh, kalau di Jawa karena memproduksi beras sangat bagus makan beras lokal. Kalau di Maluku lebih baik makan sagu, karena dekat dengan sumber sagu.

Tapii, kayak saya nih yaa, sehari tanpa nasi hanya berhasil setiap sebulan sekali. Hahah. Belum bisa istiqamah. >_<

9. Belanja di Kringloop atau Emmaus

Kringloop atau Emmaus adalah daftar tertinggi buat anak-anak Wageningen untuk belanja barang-barang murah. Disana kita bisa membeli barang-barang furniture ataupun hal-ahal lainnya dengan harga sangat murah. Saya pernah membahas mengenai Kringloop dan Emmaus di dalam tulisan saya yang ini.

Konsep menggunakan kembali atau re-use sangat digunakan disini. Mereka dengan sadar membeli barang-barang yang masih bagus dan digunakan kembali.

10. Beli makanan Indo di toko Indo atau teman yang jual makanan Indo

Seringkali kita merindukan makanan Indonesia. Kadang kita gak bisa bikin makanan Indonesia seenak itu. Nah asiknya di Wageningen ada beberapa orang Indonesia yang menyediakan makanan Indonesia dengan harga murah. Misalnya nih Bakso Malang dengan harga 4 euro. Atau Mie ayam enak dengan harga 3 euro saja.

Hampir bisa dipastikan anak-anak Indonesia disini pasti pernah beli makanan Indonesia yang dijual di Toko Rajawali ataupun Toko Tiga Star. Sisanya beli dari Depot AY ataupun anak-anak Indonesia yang jualan makanan melalui broadcast Whatsapp ataupun announcement di Facebook. Hehehe.

11. Buat yang Muslim, shalat di Radix atau shalat di pojok-pojok gedung Forum

Buat teman-teman yang Muslim hal yang lumrah untuk menemukan tempat shalat yang convenience. Karena emang agak susah mendapatkan mushalla seperti di Indonesia. Untuk menyiasatinya, Muslim di Wageningen meminta sebuah ruangan di Radix yang bisa digunakan untuk shalat. Padahal sih sebenarnya ruangan itu bisa digunakan untuk orang beragama lain untuk melakukan meditasi. Jadi ada peraturan yang tak tertulis bahwa ruangan itu bisa digunakan sebagai prayer room pada waktu-waktu tertentu setelah jam 12 siang.

shalat dibawah tangga darurat

Kalau ternyata agak jauh dari gedung Radix suka agak mager kalau mau kesana. Jadinya shalat di pinggir-pinggir gedung. Saya paling sering shalat di tangga darurat kalau di Forum. Pun sama jika saya sedang kuliah di Leuwenborch, saya memilih shalat di dekat tangga darurat lantai dasar.

12. Foto musim semi di Bennekom

Wah kalau lagi musim semi, kalian akan melihat tagar #SpringinBennekom bertebaran di Instagram. Bennekom adalah sebuah desa kecil yang bersebelahan dengan Wageningen. Hanya 10 menit dari kampus. Tapi saat Spring adalah hal yang paling membahagiakan. Karena hampir di semua jalanan Bennekom ada pohon-pohon cherry atau jamak disebut pohon sakura oleh orang-orang Indonesia.

Ada beberapa titik yang menjadi konsentrasi anak-anak Indonesia saat bunga sakura sedang mekar, yaitu di Centrum Bennekom, jalan van Hoffelaan, dan jalan Commandursweg. Karena disanalah paling banyak sakura berguguran dan sangat cantik untuk difoto.

13. Foto di depan Forum atau Atlas

Ini sih jadi hal yang paling ikonik buat mahasiswa internasional di Wageningen University and Research. Bangunan kotak berwarna coklat menjadi bangunan ter-instagrammable. Pusat kegiatan mahasiswa ini selalu ramai hingga tengah malam. Jadi tak heran foto di depan bangunan ini sebuah hal yang tak boleh dilewatkan.

Biasanya sih selain di depan Forum, banyak orang yang memilih untuk berfoto di depan gedung Atlas. Sebuah gedung rektorat yang berwarna putih dan sangat cerah. Sehingga sangat sering dijadikan tempat foto mahasiswa WUR disana. Heheh.

14. Stay hingga tengah malam di Forum

Memasuki minggu exam atau ujian, Forum buka hingga pukul 24.00! Dan biasanya banyak orang yang pulang di jam tersebut. Jangan heran jika mereka sudah membawa gelas ataupun makan malam untuk bertahan di Forum hingga pukul 12 malam.

Biasanya banyak orang yang merasa tak bisa konsentrasi untuk belajar di rumah, sehingga memilih untuk berdiam diri di Forum untuk menghadapi ujian. Selama satu minggu sebelum ujian atau biasa disebut Study Week, para mahasiswa berbondong-bondong mencari tempat ‘bersemedi’ di perpustakaan. Biasanya meja-meja perpustakaan sudah penuh dengan mahasiswa yang membawa bahan bacaan atau catatan mereka.

15. Makan es krim di Cicuto

Cicuto adalah toko es krim yang sangat terkenal di Wageningen. Mereka memiliki varian rasa es krim yang berbeda. Yang paling saya suka di Cicuto adalah mereka memberikan informasi dari bahan-bahan apa saja es krim yang mereka jual. Saya paling suka Biscotino dan Oreo.

Biasanya toko ini hanya buka di musim Semi dan musim Panas, sedangkan di musim gugur dan musim dingin toko ini tutup. Hal ini berlaku untuk toko es krim lainnya di sekitar Wageningen, seperti Antonio Ijjsalon. Jadi bye-bye es krim di musim dingin.

16. Belanja di Indrani atau Zam-zam untuk bahan-bahan masakan ala Indonesia

Indrani dan Zam-zam adalah dua toko yang menyediakan bahan makanan Indonesia. Kalau Indrani adalah toko yang dimiliki oleh seorang ibu asal Suriname. Disana ada bahan-bahan masakan seperti kencur segar, daun pandan, lontong, santan kara, bahkan pete dan jengkol.

Sedangkan toko Zam-zam juga menjual beberapa bahan makanan Indonesia seperti bumbu-bumbu kering ala Indonesia, santan kara, indomie dan beberapa jenis lainnya. Dulu kalau dengar dari anak-anak Indonesia sebelumnya, mas-mas di Zam-zam ini jadi idola. Haha. Selain ganteng dan juga berwibawa. Sekarang sudah punya anak. Lucu banget.

17. Belanja daging halal di Zam-zam atau Ivan Market

Nah urusan beli daging ayam atau sapi bagi Muslim, toko Zam-zam ahlinya. Mereka memiliki varian yang banyak mulai dari ceker ayam, paru, hati ayam, daging steak, daging giling dan lainnya. Harganya juga bervariasi. Harganya beda jauh dari supermarket dan terjamin halal.

Tapi sejak tahun 2018, toko Zam-zam sudah punya saingan yang namanya Ivan Market. Toko ini juga menyediakan daging-daging halal, mulai dari domba, sapi dan ayam. Harganya juga bersaing sekitar 50 sen atau 1 euro dari Zam-zam. Sehingga banyak orang-orang Indonesia yang mulai berbelanja di Ivan Market.

Epilog

Sebenernya banyak banget list yang bisa ditulis tentang ini, tapi saya cuman punya waktu 1 jam istirahat untuk menulis. Hehe. Jadi hanya segini yang bisa saya tulis saat ini. Nanti kalau ada lagi, saya akan lanjutkan di tulisan yang lain. 🙂

ditulis di Commandeursweg 500

21:41 AM

sambil dengar lagu tahun 70 an “I want to know what love is – Foreigner”

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.