Perempuan-perempuan Perkasa di Pasar Wuring

“ikan layang, lima ribu dek”, “lamadangnya, 40 ribu dek, masih segar”, “selar-selar-selar”, dan berbagai kalimat ajakan lainnya untuk membeli dagangan. Kondisi ini bisa kita temui di Pasar Wuring, sebuah pasar tradisional yang berada di perkampungan Bugis-Bajau. Letaknya persis di sisi kanan dan kiri jalan utama. Berderet meja-meja kayu yang digunakan sebagai display bagi ikan-ikan mereka. Kita akan sulit menemukan lelaki yang berjualan di pasar ini, sejauh mata memandang hanya ada ibu-ibu yang menawarkan dagangan mereka. Mereka adalah istri-istri nelayan yang menjual hasil tangkapan suami mereka. Pola tangkapan nelayan disini adalah One […]

Continue Reading

Mencatat Sejarah Perikanan di Desa Nangahale

sirip ikan hiu yang dikumpulkan Nangahale adalah sebuah desa nelayan yang berada di bilangan Kelurahan Talibura, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa nelayan yang dihuni oleh para pengungsi tahun 1992 dari Pulau Babi, Pulau Permaan, Pulau Besar dan pulau-pulau lain yang terkena dampak tsunami besar. Mereka notabene berprofesi sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap berupa pancing dan pukat. Untuk target tangkapan mereka bervariasi, mulai dari ikan layang, tembang, selar, bahkan ikan tuna. Saya malah menemukan Pak Nahril yang berprofesi sebagai pengumpul teripang dan sirip ikan hiu.  Ia berkisah bahwa di […]

Continue Reading

Imajinasi Kita Sama!

  Malam ini anak-anak nelayan yang saya ajar merasa kesulitan menjawab soal yang saya tulis di papan. Padahal menurut saya ini adalah sebuah soal yang sangat mudah. Siapa sih yang tidak suka berkhayal? Mengimajinasikan masa depan cerah dan juga karier yang gemilang. Saya meminta anak-anak untuk berimajinasi seperti apa mereka di tahun 2025. Saat itu mereka sudah berumur 23 tahun, umur yang sama dengan saya saat ini.  Who are you at 2025? Siapa kamu di tahun 2025? Ketika saya memberikan tugas untuk berkhayal, tiba-tiba mereka semua protes. Namun ada dua-tiga anak […]

Continue Reading

Nostalgia Kelam Nelayan Bajau di Wuring

Namanya Pak Rahman, umurnya tidak ia ketahui secara pasti. Ia hanya menyebutkan angka 70 untuk membuat saya tidak lagi bertanya mengenai umurnya. Ia sudah tinggal di Flores sejak lama. Awalnya ia lahir di Kabupaten Ende, namun ia memutuskan untuk menjadi nelayan dan pindah di Wuring. Dimana di daerah Wuring, banyak warga pendatang dari Sulawesi Selatan seperti Bone, Sinjai, Bulukumba, Makassar dan Maros. Ia pun menikah dengan salah seorang wanita keturunan Bugis.  Sejak saat itu ia pun berprofesi sebagai nelayan. Pekerjaan yang ia pilih ini rupanya membuat hidupnya memiliki banyak cerita. Ia […]

Continue Reading

Ini Cara Gue Mencintai Indonesia, Kamu?

Perjalanan untuk mencintai Indonesia dimulai pada tahun 2008, ketika gue memilih untuk sekolah di luar daerah jajahan gue, Bogor. Pilihan untuk berkuliah di luar daerah (gue memilih Makassar sebagai destinasi pertama), memang tidak salah. Makassar adalah lokasi yang strategis untuk belajar lebih mengenal Indonesia. Dari sini gue mulai mengenal dunia tulis menulis. Dan mulai menuliskan apa yang udah gue lakukan. Indonesia, sebuah negeri surga bagi para petualang. Gue mencintai banyak hal tentang Indonesia. Perjalanan pertama gue di Pulau Khayangan, Makassar menjadi tulisan jalan-jalan gue yang pertama. Ketika mendapatkan komentar positif, gue […]

Continue Reading

Hemat Air dengan Cara-cara Seru

Danau Tadah Hujan di Dusun Urang Pigang, Flores, NTT Air menjadi barang penting yang langka di beberapa negara. Di beberapa tempat di Indonesia, kamu akan sangat sulit mendapatkan air tawar. Tengok saja keadaan di pulau-pulau terpencil, masyarakat disana masih harus menggunakan air payau untuk kehidupan sehari-hari. Seperti contoh di Pulau Sukun atau Pulau Permaan di Flores.  Apalagi dengan jumlah air yang terbatas dan semakin banyaknya manusia menyebabkan terjadi krisis air bersih di beberapa daerah. Bukan hanya itu saja, kualitas air tawar pun saat ini semakin menurun. Jangan harap akan menemukan air […]

Continue Reading

Berburu Savana di Bukit Wailiti

Padang Savana di Bukit Wailiti Setiap minggu saya selalu menyempatkan diri untuk berburu tempat-tempat baru di Flores. Tinggal di Kabupaten Sikka membuat saya haus akan tempat-tempat baru disini. Kali ini saya berkesempatan jalan-jalan pagi dengan anak-anak SMP yang saya ajar Bahasa Inggris. Mereka sudah tidak asing dengan bukit Wailiti yang terletak di Dusun Urang Pigang.  Daerah ini masuk dalam wilayah Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat-Kabupaten Sikka. Kami menempuh perjalanan ke bukit dengan berjalan kaki. Sekalian olahraga, mengingat berat saya yang sudah mencapai angka 68 kilogram.  Perjalanan menuju bukit Wailiti, saya melewati […]

Continue Reading

Jong Dobo, Cerita Kapal yang Dikutuk

Jong Dobo Minggu ini, (16/3), kami berencana melihat kapal yang dikutuk. Atas ajakan Mas Budi, kami pun berangkat ke daerah tersebut. Daerah yang dinamakan Dobo ini, ditempuh sekitar 30 menit dari Wuring. Setelah memasuki jalan masuk menuju Jong Dobo, ternyata perjalanan panjang dari jalan utama untuk menuju Jong Dobo lumayan panjang. Ada beberapa perkampungan mesti dilewati, yakni Kampung Habilopong, Apinggoot dan Wolomotong. Dengan kecepatan motor hingga 60 km/ jam, kami pun tiba sekitar 30 menit. Disambut dengan gapura dalam bahasa Sikka ”Uhet Dien Dat Hading” artinya, ”Selamat Datang, Pintu Terbuka”.  Secara […]

Continue Reading

Rintihan Rindu Anak-anak Dobo

Pemandangan dari Desa Dobo Perjalanan ke daerah Dobo di Waipare hari minggu kemarin masih menyisakan beragam tanya. Seperti ada yang resah dan ingin saya luapkan.  Ketika mencapai desa tua di daerah Dobo membuat saya terpekur. Ketika kami datang ,mereka menyambut kami dengan ramah. Semua orang tersenyum. Saya pun bermain bulu tangkis untuk menunjukkan keterbukaan saya dengan orang-orang disana.  Menhir Menurut saya, senyum adalah hal yang paling mudah dilakukan untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Entah kenapa, senyuman tulus bisa membuat orang menjadi nyaman. Saya percaya itu. Karena itulah, dimulai dengan senyum, saya […]

Continue Reading

Save Room for My Loneliness at Tanjung Kajuwulu

Perjalanan ini saya mulai ketika saya mulai penat dengan aktivitas yang terkesan hanya itu-itu saja. Save room for my loneliness. Butuh ruang untuk kesendirian saya. Mengenang memori masa-masa kuliah yang saya lewati dengan aktivitas penuh. Ga bisa diem. Pagi ada di Identitas, nanti siang di Kelautan, makan siang di Kantin Ekonomi, ngemil sore di Kantin Sastra. Haaaaaaahhhh. Rindu masa-masa itu membuat saya galau setengah mati.  Akhirnya setelah dari Kantor Kecamatan Alok Barat saya memberanikan diri untuk pergi ke Tanjung Kajawulu. Saya sudah pernah kesini sebelumnya sama Mas Firman (1/3), namun kali […]

Continue Reading