24 jam di Prague

Perjalanan ke Prague sebenarnya tak terencana. Masih jelas dalam ingatan, setelah kami memesan tiket bis dari Paris, kami kehabisan tiket pulang ke Belanda. Jadilah kami memutar perjalanan menuju negara disekitar Paris. Setelah lama memutuskan, kami pun sepakat untuk memilih Prague sebagai destinasi perjalanan kami. Kebetulan kami menggunakan moda transportasi bis, yaitu Flixbus yang bisa jalan-jalan ke berbagai negara hanya dengan 20 euro.

Tiba di Prague

Setibanya di Prague, waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Segera setelahnya kami mencari tempat untuk sikat gigi dan istirahat sebentar. Pilihan kami jatuh ke Islamic Center yang terletak tak jauh dari Central Station hlavní nádraží. Disana kami bertemu dengan dua orang Indonesia yang sedang shalat dhuha. Kami bertukar informasi dan menambah jejaring pertemanan di Instagram.

Setelah sikat gigi dan membasuh muka, kami pun segera mencari makan dan siap untuk menjelajah Prague. Untuk makan siang, kami menuju Restauran Barakat dan memilih membeli nasi dan daging dengan harga 7 euro untuk seporsi besar. Kami memakan nasi itu berdua, biar romantis. Haha. Padahal sih karena emang budget kita berdua sangat terbatas.

Kami menukarkan uang 20 euro dengan mata uang Czech Krona. Kami mendapatkan uang sekitar 500 krona. Uang ini lah yang kami gunakan untuk membayar akomodasi kami selama di Prague nantinya.

Menaiki Transportasi di Prague

Setelah kenyang dan siap melakukan perjalanan, kami pun menuju hlavní nádraží untuk mencari kereta ke Prague Castle. Kami membayar 110 CZK atau sekitar 4.25 euro untuk mendapatkan one day ticket di dalam kota Prague. Tiket ini bisa digunakan di bis dan train di dalam kota Prague. Murah banget! Dibandingkan dengan Belanda. Haha. Kami membeli di Supermarket di dalam stasiun.

tiket bis dan kereta yang bisa dipakai 24 jam

Kami turun di Stasiun Malostranska. Dari stasiun kami mengikuti papan penunjuk ke arah Prague Castle. Kami jalan kaki untuk tiba di Prague Castle sekitar 20 menit berjalan kaki. Karena kami sudah lumayan capek, akhirnya mood agak berubah. Apalagi cuaca di Prague sedang tak bersahabat. Seharian ini hujan rintik-rintik mewarnai kota Prague. Langitnya berwarna kelabu.

Prague Castle

Setibanya di Prague Castle, Arif mengalah untuk saya. Ia tak naik ke atap tertinggi Prague Castle. Karena budget kami terbatas, ia merelakan saya naik sendiri dan ia menunggu di pintu masuk. Harga yang saya bayar untuk naik adalah 150 czk atau sekitar 5.79 euro.

Tapi untuk naik kesini saya butuh naik ratusan anak tangga yang lumayan bikin saya engap dan kehabisan nafas. Untungnya tangga lagi lumayan sepi, sehingga saya bisa istirahat sebentar-sebentar. Hahah. Kegemukan ini lama-lama bisa membunuhku. Kerja keras bagai kuda untuk naik ke atas dibayar tuntas. Pemandangan dari atas Prague Castle sangat indah. Melihat landscape Kota Prague yang sangat antik. Walaupun langit Prague lagi mendung, tetap tak mengurangi keindahan Prague dari ketinggian.

Dinding John Lennon

Menurut beberapa referensi perjalanan, kita harus pergi ke John Lennon Wall sebelum menuju pusat kota. Kami berjalan kaki mengikuti panduan dari Google Map, walaupun hari sudah gelap tapi saya masih tetap semangat. Karena memang kami hanya punya waktu sedikit sebelum harus menuju hostel. Jadilah kami berdua berjalan-jalan kecil sambil menikmati Kota Prague.

 

John Lennon Wall awalnya hanya merupakan tembok biasa yang kemudian diisi dengan gambar dan lirik dari lagu The Beatles. Gambar John Lennon sudah tertutup dengan grafitti-grafitti baru yang terus berganti setiap tahunnya. Selain gambar, disini juga ada beberapa musisi jalanan yang menghibur para turis yang datang kesini. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan biasanya adalah lagu-lagu The Beatles. Selain itu ada beberapa kafe yang menyediakan minuman hangat yang bisa dijadikan pilihan untuk kongkow disekitar Charles Bridge.

Charles Bridge dan Kota Prague

Setelah ke John Lennon Wall, kami pun melewati Charles Bridge. Sebuah jembatan yang menghubungkan dua bagian kota yang terpisah oleh Sungai Vltava. Konstruksinya dibangun pada tahun 1357 dan baru selesai pada abad 15. Awalnya nama jembatan ini adalah Stone Bridge, tapi sejak tahun 1870, jembatan ini lebih dikenal dengan Charles Bridge.

Di Charles Bridge inilah kita bisa melihat puluhan patung yang dibangun sejak ratusan tahun lalu. Jembatan ini menjadi penghubung antara Prague Castle dan kota Prague, maka tak heran jika ada ribuan orang yang melewati jembatan ini tiap harinya. Ikon Charles Bridge juga tak jauh dari tiga Bridge Tower yang dibangun untuk menjadi menara pengawas di bagian kota. Oia, hati-hati dengan pencopet disini. Karena sangat ramai dan sangat rawan bagi para turis.

Dicancel Airbnb

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, dan langit pun mulai gelap. Kami yang telah mendapatkan airbnb, pun bersiap untuk menuju hostel. Namun apa yang terjadi? Kami dicancel sama pemilik hostel karena pemilik kamar yang sebenarnya pulang lebih awal daripada jadwal. Akhirnya kami luntang lantung dan saya update di IG Story! Alhamdulillah, salah satu teman WUR, Atina, membaca IG Story saya dan menelpon kami.

Kebetulan, ia dan teman-teman sedang melakukan perjalanan di Prague malam itu. Dan mereka menyewa rumah besar. Kami diajak untuk tinggal disana dengan gratis! Alhamdulillah. Jadilah kami selamat malam itu dan mendapatkan tempat yang sangat keren. Kami tidur di loteng lantai 2 yang disinari cahaya rembulan. Terima kasih kawan-kawan. 🙂

Mencicip Jajanan Khas Prague

Kami pun menuju tengah kota, kebetulan sedang ada Pasar Malam di pusat kota tua. Jadilah kami berkeliling di pasar malam untuk mencari jajanan. Saya ingin sekali mencoba Tredelnik, tapi sayang kami gak punya uang banyak. Sisa beberapa krona dan tak cukup untuk membayar sebuah Tredelnik. Ketika kami akhirnya bertemu dengan Atina CS, ada yang membeli Tredelnik dan kacang Prazene. Enaaakk banget.

 

Tredlenik ini mirip seperti kue serpong tapi ada rasa kayu manis dan gula tabur. Sedangkan kacang Prazene rasanya manis gurih yang membuat nagih. Enak banget lah. Harganya juga gak terlalu mahal sih. Tapi kalau gak punya uang, tetap aja gak bisa kebeli. Hiks.

Drama di Esok Pagi

Keesokan paginya, saya, Arif dan Ines pun bersiap pulang ke Arnhem. Kami berangkat pukul 9.40 dari hlavní nádraží ke stasiun Arnhem. Karena waktu pulang ke Arnhem masih ada sekitar 40 menit akhirnya saya kepikiran mau foto2 di Jembatan Charles. Kenapa? Karena cuaca lagi terang dan cerah. Dan foto semalam gak ada yang bagus. Akhirnya saya nekat tetap kesana. Setelah mendapatkan restu dan membagi tugas, Arif lihat bis dan ngetag tempat, Ines nungguin makanan dan saya pergi foto-foto. Bagi tugas yang sangat aneh. Haha.

Saya pun lari-lari ngejar kereta, parahnya saya sempet salah naik kereta. Saya terus mengikuti Google Maps, berlari terus sampe ngos-ngosan. Karena menurut Google, saya butuh waktu sekitar 20 menit untuk bolak-balik. Haha. Eh ternyata.. Nyampe disini cuman foto 3 kali. Dan minta difotoin orang 1 kali. Untung hasilnya bagus hahah. Langsung lari lagi menuju terminal bis. Arif udah nelpon berkali-kali karena waktu berangkat udah tinggal 8 menit lagi. Saya salah turun stasiun lagi, akhirnya saya lari2 menuju bis. Pake acara salah nyebrang di jalan highway wkwkw. Diklaksonin sama orang2. Parah banget. Untung gak sampe ditabrak. Mungkin mereka kasian lihat muka melas saya yang mau nyebrang tapi takut. Haha.


Alhamdulillah 2 menit sebelum bis berangkat, saya sudah tiba di bis. Hehe. Perjalanan yang kayak gini sih bakalan susah dilupakan. Unpredictable haha. Tapi saya suka dengan Prague, karena ia memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan. 🙂 Thank you, Prague..

 

ditulis di Beringhem

23:38 CET, Thursday, 12 July 2018

sambil anak-anak Beringhem nonton film horror dan saya memilih menulis blog. Hahah.

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.