Aneka Kuliner Berbahan Pisang dari Sulawesi

Tulisan ini adalah kenang mengenang bagaimana Sulawesi memiliki tempat tersendiri di dalam hati saya. Salah satunya dari sisi kuliner. Beberapa kuliner khas Sulawesi tidak pernah saya temukan sebelumnya di Pulau Jawa. Dan saya pun mendapuk diri saya sebagai salah satu pecinta Sulawesi garis keras. Hahah. Pisang jadi bahasan saya kali ini. Ada apa aja ya? 🙂

1.      Pisang Epe
Saya diperkenalkan kuliner ini oleh seorang teman ketika jalan-jalan di Pantai Losari. Jajaran gerobak beragam warna berjejer di sepanjang jalan Pantai Losari. Entah bagaimana wajahnya kini. Sudah setahun lebih saya tak menginjak kaki disana. 

Biasanya ketika saya pusing dengan liputan dan mata kuliah, saya segera meminjam motor teman dan memacunya ke Pantai Losari. Tempat tersebut punya daya magisnya. Sepiring pisang epe, segelas kopi dan jika pergi bersama teman, setumpuk cerita membuat pisang epe lebih nikmat.
Ada beberapa gerobak pisang epe yang saya suka disana. Di pengkolan dekat Aerotel Losari ada gerobak berwarna putih. Saya selalu menghabiskan waktu disana. Entah berdua, sendiri bahkan beramai-ramai. Pisang epenya lebih lembut dibandingkan di tempat lain.
Biasanya pisang yang digunakan bukan pisang matang, namun yang agak keras. Kemudian disiram kuah gula merah yang sudah dicampur dengan durian. Jika suka, kalian bisa menambah parutan keju diatasnya. Harga seporsi pisang epe dibanderol 10 ribu rupiah. Entah berapa harganya saat ini. 🙂
 
2.     Barongko
sumber : Instagram Beppa Botting
I love Barongko since I ate this for very first time! Ini adalah kuliner wajib banget kalau ke Sulawesi. Biasanya ditemukan di acara pernikahan adat (Botting’). Pisang yang sudah matang kemudian dihancurkan dan dicampur telur dan lain-lain. Kemudian dibungkus dengan daun pisang. Dikukus dan dimasukkan ke dalam kulkas. 
Penganan ini sangat sedap jika dinikmati dalam keadaan dingin. Rasanya? Jangan ditanya.. enak banget. Perpaduan rasa manis pisang dan susu tercampur jadi satu.
Saya gak tau harganya berapa, karena selama saya tinggal di Makassar, belum pernah liat penjual barongko yang satuan. Tapi jika ingin, kalian bisa memesannya melalui Beppa Botting.  kalian bisa cek instagram Beppa Botting disini.
3.     Sanggara Peppe’

 

One of my favourite snack! Sebenarnya ini adalah pisang yang relatif muda kemudian digoreng kering. Biasanya pisang kepok atau pisang raja jadi pilihan. Dan perlu dicatat, kesalahan besar jika memilih pisang yang sudah matang kalau mau membuat pisang peppe. Kenapa namanya Pisang Peppe? Karena pisang ini akan dipenyet sebelum digoreng. 🙂
Pertama-tama pisang muda ini dikupas dari kulitnya. Kemudian ditumbuk hingga pipih. Setelah itu pisang direndam di dalam air campuran bawang putih dan garam agar gurih. Pisang pun digoreng ke dalam minyak panas. 
Biasanya sambal terasi pedas jadi teman sejati sanggara peppe. Sambal jadi elemen penting sanggara peppe, jika sambalnya kurang nendang, sanggara peppe pun jadi terasa hambar. Di Manado, pisang epe dicampur dengan sambal Roa! Uh oh!
Uh kangen!
4.       Sanggara Balanda
sumber : Instagram Beppa Botting
Nah ini beda lagi nih. Kuliner ini menggunakan pisang yang sudah matang dan lembek. Pisang yang dibubuhi parutan kacang dan gula merah benar-benar enak banget. Biasanya saya makan sanggara balanda buatan Ibunya Fadli atau Ria atau Dinar. Mereka adalah teman di Penerbitan Kampus Identitas yang suka bawa oleh-oleh dari kampung untuk dibagikan ke teman-teman. 
Sampai sekarang, rasa sanggara balanda buatan ibu mereka tidak ada yang kalah. J Namun jika ingin memesan sanggara balanda bisa menghubungi Beppa Botting kok. Harganya? Gak mahal kok. 🙂
5.       Es Pisang Ijo
Kalau ini adalah sejenis es yang bisa buat kenyang. Pisang yang sudah matang dibalut dengan kulit berwarna hijau. Awalnya saya berpikir, betapa kanibalnya orang Sulawesi memakan pisang mentah berwarna hijau kemudian dicampur dengan es. Hahah. 
Ternyata saya ketagihan dengan kuah kental yang dihasilkan dari tepung beras dan santan kental. Biasanya es pisang ijo ditambah sirup DHT merah yang sudah menjadi campuran sejak dahulu kala. Kalau tidak pakai sirup DHT rasanya agak berbeda. Kemudian ditaburi kacang agar es pisang ijo terasa kriuk-kriuk. 
Saya merekomendasikan Toko Es Pisang Ijo di Kios Hawaii yang terletak di jalan Penghibur dekat Pantai Losari. Agak mahal sih, tapi es pisang ijonya enak. 🙂
 
6.       Es Pallu Butung
Kuliner ini agak mirip-mirip dengan es pisang ijo. Bedanya pisangnya tidak pakai kulit berwarna hijau. Jadi pisang dipotong-potong dan dicampur dengan kuah kental dan sirup DHT. Kalau saya pribadi lebih memilih es pisang ijo dibandingkan pallu butung. Hehe. Awalnya saya agak seram dengan kuliner ini. 
“Dlien, mau makan pallu butung gak?” tanya seorang teman.
“Apa? Pala Buntung?” jawabku kaget setengah mati. 
Saya membayangkan sebuah kepala yang terpotong disajikan di atas mangkok. Hahaha.
Ah Makassar selalu punya tempat dihati! EWAKO!
Ditulis karena insomnia parah di ISKINDO
2:16 WIB, 2 November 2016
Sambil dengar lagu Birdy yang judulnya Skinny Love

You may also like

3 Comments

  1. Assalamualaikum Adlien,

    Es Pisang ijo pernah menjamur di Malang. Tapi sekarang, sudah perlahan hilang bagai di telan bumi. Sebanarnya, komoditas Pisang sangat beragam dan murah, selain bergizi. Saya bertandang ke Blog, langsung lapar dan pingin makan pisang. hahahahhaha

    Terima kasih

Leave a Reply