Antara Keinginan dan Kebutuhan

Siapa yang suka kalap ketika belanja barang saat diskon? Apalagi banyak toko online yang memberikan diskon besar saat hari-hari tertentu. Sehingga tak terasa kita menghabiskan banyak uang untuk membeli barang hanya duduk di depan komputer atau datang langsung ke tokonya.

Belajar dari Kisah Nyata

Kali ini saya ingin membedah buku milik Andi Sri Wahyuni, atau kerap disapa Andis. Ia menuliskan tentang berbagai hal tentang pembelanjaan Muslimah. Buku ini mengupas banyak hal tentang bagaimana sebaiknya seorang muslimah berlaku baik dengan barang yang dimilikinya.

Sedikit curhat nih ya. Sebulan lalu, saya dan Arif mulai untuk berbenah barang-barang yang ada di dalam kamar kos kami. Kebetulan kami sedang tinggal di Belanda, dan disini ada kebiasaan unik para mahasiswa yang membagikan barang-barang mereka secara gratis. Karena itu kami sering sekali menerima barang gratis tersebut dengan senang hati. Namun lama kelamaan kamar kami penuh dengan barang. Akhirnya bulan lalu kami pun sepakat untuk memberikan barang-barang hibah tersebut kepada orang lain. Dan kami pun merasa lebih lega semenjak barang-barang berkurang di dalam kamar kami.

Ternyata apa yang kami rasakan dibahas oleh Andis di dalam buku miliknya yang berjudul Beli Karena Butuh. Di dalam salah satu bagian dari bukunya ia membahas tentang hal gratis. Menurutnya yang gratis itu terkadang bukan sebuah kebutuhan. Dan malah membuat beban di masa depan. Jadi kalau gak penting-penting banget, lebih baik gak usah diambil. Hahah. Bener banget.

Baca tulisan : Beli Barang Bekas di Belanda – –

Buku Beli Karena Butuh

Buku Beli Karena Butuh – The Secret of Financial Management of Young Muslimah ini dibagi ke dalam tulisan-tulisan pendek yang mudah dipahami. Selain itu bahasa yang sangat gaul membuat tak bosan membaca alur cerita yang ditawarkan oleh Andis. Kebetulan Andis adalah lulusan Master dalam bidang ekonomi, sehingga bahan bacaannya tentang dunia ekonomi tak perlu diragukan.

Di dalam buku ini ia mengambil beberapa sumber acuan seperti buku The Life-Changing  Magic of Tidying Up milik Marie Kondo. Atau buku Goodbye, Thing : On Minimalist Thing milik Fumio Sasaki. Tapi yang tak kalah penting adalah ia merujuk banyak penjelasan di dalam AlQuran ataupun Hadist.  Sehingga buku ini sangat kaya pengetahuan mengenai proses ekonomi.

Sama seperti yang sudah saya katakan di awal, Andis membuat kita merasa tersentil dengan cerita-cerita Andis. Karena banyak hal yang kita lakukan di kehidupan nyata dan memang kita alami sendiri. Sehingga kita merasa dekat dengan cerita Andis di dalam buku ini. Walaupun saya anaknya paling males belanja untuk bagian fashion, tapi kalau berhubungan dengan soal buku, saya bisa menghabiskan uang banyak. Dan ternyata ada loh istilah untuk menggambarkan orang seperti saya. Haha.

Kemudahan Belanja Online

Di zaman canggih seperti saat ini, cara belanja yang agak manual sudah semakin ditinggalkan. Kita hanya perlu membuka media sosial atau masuk ke dalam website penjualan. Tinggal klik dan bayar. Barang akan tiba di rumah dalam waktu satu minggu.

Kemudahan ini membuat banyak muslimah menjadi kalap. Apalagi jika ada teman yang sudah memberikan kabar tentang diskon jauh-jauh hari. Semakin tak terbendung deh keinginan untuk berbelanja. Ditambah para provider toko belanja daring membuat Flash Sale yang berlangsung selama tiga hari, semakin tinggi rasa ingin berbelanja. Padahal terkadang kita membeli di dalam Flash Sale karena tergiur dengan barang murah yang ditawarkan.

Menurut Andis dari buku Niall Kistainy yang berjudul A Little History of Economics, manusia terkadang melihat benda-benda di dalam kabut. Keputusan saat membeli tidak lagi rasional karena banyak kabut seperti diskon atau flash sale yang ditawarkan oleh provider tadi.

Selain itu di dalam dunia bisnis ada teknik untuk melariskan barang yaitu teknik anchoring. Dimana teknik ini digunakan dengan membentuk standar harga dalam asumsi calon pembeli terkait sebuah harga, yang tujuannya seolah-olah suatu barang kelihatan supermurah padahal tidak. Andis juga memiliki kemampuan menjelaskan sebuah contoh kasus dengan baik.

Di dalam buku ini, Andis menjelaskan dengan contoh perhitungan yang seksama dan juga contoh yang ia dapat di dalam kehidupan sehari-hari saat ia tinggal di Belanda ataupun di Indonesia. Jadi kita juga belajar hal yang baru.

Membuat Daftar Prioritas

Pernah gak kalian menghitung seberapa banyak barang yang kita gunakan di dalam rumah? Andis mengajak kita untuk melihat beberapa cara untuk melihat seberapa banyak barang yang kita gunakan. Cobalah untuk membuat daftar barang-barang yang ada di dalam kamar kalian. Jika ternyata dirasa sangat banyak, coba buatlah daftar yang ada di dalam lemari dan meja belajar. Jika masih terlalu banyak, buatlah daftar barang yang ada di meja belajar.

Saya sempat membuat daftar barang di dalam meja. Hasilnya lumayan mencengangkan, saya membuat daftar panjang barang-barang saya di atas meja. Mulai dari buku pelajaran period 1 hingga period 6, puluhan koleksi pulpen, post it, buku tulis, headset, speaker, mouse laptop, harddisk, gantungan kunci, buku diary, notes, kertas hvs, isi pensil and list goes on. Ternyata barang-barang yang saya miliki di dalam meja belajar saja sangat banyak.

Gak kebayang kalau saya harus membuat list barang-barang yang ada di dalam rumah.

Dari sini membuat saya harus lebih berhati-hati dalam membeli sesuatu. Siapa tau saya masih memiliki barang tersebut. Dan daftar prioritas dalam membeli barang sangat penting. Untungnya saya memang paling malas berbelanja barang. Tapi paling suka menerima barang gratisan. Haha.

Seringkali manusia tidak menyadari betapa banyak yang sudah dimilikinya, dan lupa mensyukuri apa-apa yang sudah ada. Pada akhirnya, perasaan tidak merasa cukuplah yang membimbing manusia untuk terus menerus berbelanja dan menumpuk barang – Andis

Obesistuff, Penyakit Kekinian

Ternyata ada sebuah istilah yang menjadi salah satu problem di masa kini yaitu Obesistuff. Dimana penyakit ini dikategorikan sebagai keinginan untuk membeli tapi si pengguna tidak pernah memakai barang-barang terebut dengan baik. Biasanya sih banyak banget nih muslimah yang kayak gini. Lihat baju lucu di Instagram, eh kepengen beli. Lihat jilbab baru dari artis ini, eh ikut beli. Lihat tas baru lagi diskon, eh beli juga. Padahal di rumahnya punya banyak banget baju, jilbab dan tas yang gak kepakai. Nah ini yang disebut dengan Obesistuff.

Coba deh kalian lihat lagi cara belanja kalian selama ini. Andis juga menuliskan bagian tentang bagaimana mengontrol keinginan untuk berbelanja berlebihan. Kalian akan merasa tercerahkan tentang bagaimana cara pembelian suatu barang yang baik dan benar sesuai syariat Islam.

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Pada akhirnya buku ini mengajak kita untuk berpikir ulang mengenai barang yang ingin kita beli. Apakah barang tersebut merupakan sebuah kebutuhan atau hanya keinginan sesaat? Apakah kita benar-benar membutuhkan barang-barang ini? Apakah masih ada barang seperti ini di dalam lemari kita? Jika masih bagus, kenapa saya harus membeli barang yang baru?

Selama membaca buku ini, kita akan terus merasa disentil berkali-kali. Sudah seharusnya sebagai muslimah, harus mulai memikirkan bahwa barang itu dibutuhkan atau hanya diinginkan. Mengutip kata-kata Marie Kondo, ikatan emosionalmu dengan pakaian-pakaianmu akan semakin berkurang beriring dengan semakin banyaknya jumlah pakaian yang kamu punya. Kamu akan kurang mengapresiasi keberadaan barang yang terlalu banyak.

Kunci yang terpenting setelah membaca buku ini adalah “kamu tahu apa yang benar-benar kamu butuhkan”. Karena bahagia itu kadang atau lebih seringnya, ditemukan dari hal-hal yang tampak begitu sederhana.

Buku ini bisa kalian rekomendasikan untuk para muslimah yang memiliki keinginan untuk terus berbelanja. Haha.

ditulis di Bennekom

22:42 AM Sunday 2 December 2018

sambil dengar lagu Izi – Emergency Room

 

You may also like

2 Komentar

  1. Saya harus mengakui sebagai salah seorang Obesistuff. Untungnya hanya berlaku pada buku. Kalau lihat ada buku diskon bahkan sampai 70% pengennya beli semua. Sampai di rumah sih cuma ditumpuk hehehe..

  2. Halo mbak Evi.. Samaaa, ak juga suka gitu. Makanya skrg lebih coba untuk beli buku yang dalam bentuk pdf. Hehe. jadi gak numpuk di kamar hehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.