Apri, Terima Kasih…

Namanya Apri, singkat. Tak perlu embel-embel yang membuatnya berat. Terkesan bebas bahkan tak jelas. Ku tanya ulang namanya seakan mengulang, ia semakin mengangguk keras. Umurnya 11 tahun, ia terlihat lebih muda dari usianya. Awalnya ku tebak ia akan menyebut angka 8 tahun. Namun aku salah. 
Kuberondong ia dengan beragam pertanyaan. Kumulai dengan pekerjaan yang ia lakoni saat ini. Pembersih kampus dari gelas minuman berbahan plastik. Ia menjalani pekerjaan ini sejak tahun lalu. Ketika ia kelas 4 SD, ia bekerja seperti ini mengikuti jejak kakaknya. Saat ini ia sudah mahir memilah gelas plastik yang bisa dijual atau tidak. Gelas plastik itu ia kumpulkan selama dua minggu. Dikumpulkan di halaman depan rumahnya, menunggu untuk dijual di pengepul. Hasilnya lumayan, 100 ribu per dua minggu. 
Ibunya bukan tak tau ia bekerja seperti saat ini. Tapi keadaan memaksa Apri untuk bekerja. Ibunya bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Dekat Kampus. Apri memiliki 5 saudara yang harus diurus oleh ibunya, karena itu ia memilih untuk membantu ibunya. Setelah ia selesai sekolah di SD Kantisang, ia akan menyusuri jalan-jalan kampus untuk mencari gelas plastik. Demi menghidupi dirinya dan kelima saudaranya. 
Uang yang ia kumpulkan, digunakan untuk membiayai uang sekolah. Kerasnya hidup tidak membuat ia berhenti sekolah. Ia mengerti apa artinya hidup sulit dan ia berharap akan mengubahnya suatu hari nanti.
Semoga…
PS : Aku tergelitik mendengar kisahnya. Kudengar ceritanya sambil menahan haru. Diluar sana masih banyak Apri lain yang berusaha keras untuk menyambung hidupnya. Berbeda denganku yang masih “mengemis” dari orangtua untuk menghidupi ku selama 20 tahun. Aku malu.
Terima kasih telah menasihatiku, Apri..

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *