Aquarium Den Blå Planet, Copenhagen

Sebagai anak Kelautan, pas denger ada Aquarium Den Blå Planet yang didapuk sebagai akuarium terbesar di Eropa Utara, saya langsung mengajak partner jalan kali ini, Arif dan juga Suci. Kami pun segera membeli tiket secara online.

Membeli Tiket

Untuk memasuki Aquarium Den Blå Planet ada dua jalur, yaitu jalur cepat yang membeli tiket secara online atau membeli tiket secara offline (beli di tempat). Kalau menurut website, aquarium ini seringkali harus mengantri jika membeli tiket secara offline. Cara belinya lumayan mudah, kita membayar 170 dkk atau setara 22 euro untuk satu kali masuk. Lumayan mahal juga sih. Untuk membayar tiket melalui online harus menggunakan credit card. Thanks to Suci yang udah punya Credit Card. Haha.

Setelah membayar tiket masuk, kami pun melanjutkan perjalanan mengelilingi Kopenhagen di bagian tengah kota. Pukul 3 sore kami baru mengarah ke Den Blå Planet menggunakan moda transportasi umum. Untuk di Kopenhagen, kita bisa membeli tiket kereta dan bis untuk 24 jam seharga 11 euro.

Kami naik bis kemudian turun di Norreport, setelah itu disambung dengan trem M2 menuju Kastrup Station. Darisana kami berjalan kaki selama 10 menit dan sudah mencapai Den Blå Planet.

akuarium dari kejauhan

The Ocean

Aquarium ini bisa diartikan sebagai Blue Planet atau Planet Biru dalam bahasa Indonesia. Aquarium ini buka dari pukul 10-18 di hari Selasa hingga MInggu. Untuk hari senin akuarium ini buka hingga pukul 9 malam. Memasuki Akuarium, kita akan diajak untuk melihat tiga ekosistem, the ocean, tropical lakes and river dan northern lakes and river. Kita akan disuguhi oleh akuarium besar dan kecil yang berisi hewan-hewan sesuai dengan lokasinya.

Seperti yang bisa ditebak, kami masuk ke bagian the ocean terlebih dahulu. Udah gak sabar mau lihat akuariumnnya. Kami melihat beberapa hewan kecil terlebih dahulu, mulai dari keong laut, ubur-ubur, ikan teri, dan ikan-ikan lainnya. Saya paling kagum lihat hewan Horseshoe Crab, karena ini dikenal sebagai hewan tertua di dunia. terkenal dengan The living fossil. FYI, Selain itu warna darah dari hewan ini berwarna biru. Makanya say excited banget pas ngeliat hewan ini di dalam akuarium yang bisa dipegang.

horseshoe crab

Selain itu sebuah akuarium berisi terumbu karang juga menjadi central point di dalam bagian ini. Tak lupa tank besar berisi ikan hiu dan manta rays juga ada disini. Kami sempat melihat ketika ikan-ikan di dalam tanks diberi makanan oleh para penjaga. Gils! Ikan hiu martil di dalam sana berebutan makanan dengan ikan-ikan kecil. Saya sampai bertanya ke penjaga “Apakah ikan hiu martil tidak agresif untuk masuk di dalam tanks?”. Ternyata ikan hiu martil itu less aggresive dibandingkan spesies ikan hiu lainnya. Misalnya saja white sharks atau bull sharks. Kedua jenis hiu ini sangat agresif dibandingkan dengan ikan hiu lainnya dan mereka gak mau memelihara ini.

Di dalam akuarium, mereka juga memberikan penjelasan yang komprehensif tentang biota laut yang ada di dalam akuarium. Kita bisa mengenal biota tersebut melalui papan informasi yang ada di pinggir tanks. Selain itu ada juga pertanyaan-pertanyaan melalui aplikasi yang bisa kita jawab. Lumayan menambah ilmu tentang dunia bawah laut.

Arapaima gigas dan Fauna Akuatik di Tropis

Setelah puas dengan bagian laut, kami pun mulai menjelajah ikan-ikan di bagian tropis. Mungkin pernah dengar tentang ikan besar yang mencapai 2 meter panjangnya. Ikan Arapaima menjadi perbincangan di Indonesia kala seseorang menemukan ikan Arapaima gigas di Sungai Brantas. Ikan yang mencapai hampir 1.3 meter dengan berat 60-70 kilogram. Ikan ini merupakan ikan predator yang memakan ikan-ikan lokal bahkan katak ataupun fauna akuatik lainnya. Hal inilah yang membuat ikan Arapaima mulai dicari oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk ditangkap dan dikarantina.

Ikan ini berasal dari sungai Amazon. Dan disana ia bisa hidup hingga 2 meter lebih! Kalau di akuarium ini, panjangnya hampir mencapai 2 meter. Warna sisiknya agak kemerahan. Dan ia hidup di akuarium bersama dengan ikan patin dan ikan arowana yang sama-sama besar.

Selain itu kami juga melihat tank yang berisi ikan piranha. Menurut tur guide, ikan piranha ini sebenarnya penglihatannya kurang bagus. Karena itulah sisik yang berkilat-kilas menjadi panduan bagi piranha untuk tetap bersatu dengan kelompoknya. Kalau diperhatikan dengan baik, piranha punya gigi yang sangat tajam. Mereka dikenal dengan hewan yang memakan korbannya ketika masih hidup. Hiii. serem…

Northern Lakes and Seas

Kami pun melihat fauna-fauna lain seperti Sea Otter, yang menjadi salah satu ikon di dalam akuarium ini. Kami melihat bagaimana sea otter diberikan makan oleh penjaganya. Jadi di akuarium ini banyak aktivitas yang mengundang decak kagum dari anak-anak. Mereka diperlihatkan bagaimana cara sea otter makan atau bermain. Sehingga anak-anak bisa paham seperti apa para sea otter ini di alam bebas.

Wrap Up?

Saya sangat suka dengan akuarium ini. Mungkin saya akan mulai menjelajah akuarium di beberapa negara yang nanti akan saya kunjungi. Walaupun masuk ke akuarium lumayan mahal retribusinya, tapi memang biaya perawatan akuarium tak murah. Dulu saja saya punya akuarium kecil dan biaya perawatannya bisa sampai ratusan ribu. Jadi tak salah kalau mereka mematok harga yang lumayan tinggi dan sangat terasa untuk pejalan kere seperti kami. Haha.

ditulis di Beringhem

2:57 AM Sunday, 15 July 2018

setelah ketemu dengan Prof Nurdin Abdullah di Amstelveen.

You may also like

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.