Ayah, Terima Kasih

Kali ini saya menuliskan tentang seorang laki-laki yang menanamkan nilai demokrasi di dalam rumah. Ayah. Sosok yang saya gambarkan sangat humoris terkadang dingin bahkan raut mukanya seringkali dingin. Sambil menyesap rokoknya dalam-dalam, beliau akan mencoba bertukar pikiran dengan saya. 
Masalah-masalah yang ringan hingga rumit sering kami bahas. Ayah selalu memberikan kami ruang untuk saling beradu argumen. Tak pelak sering terjadi pertengkaran di antara anak-anaknya. Tapi saya mulai memahami memberikan ruang untuk saling bersuara dan berpendapat adalah sebuah kebebasan mutlak bagi anak dalam sebuah keluarga. Tentunya masih dalam kategori atau standar yang ditentukan. πŸ˜€
Seringkali saya silang pendapat dengan beliau. Segar dalam ingatan saya, ketika beliau menginginkan saya untuk kuliah di luar negeri. Saya bersikeras bahwa Indonesia adalah pilihan pertama saya untuk memasuki dunia mahasiswa. Beliau juga kukuh dengan pendiriannya. Tapi setelah kami berdiskusi tentang baik dan buruknya, beliau bisa menerima pilihanku untuk masuk di Unhas. 
Ayah, terima kasih telah memberikan pelajaran. Bahwa Demokrasi dimulai dengan diajarkan di dalam rumah. Bukan di bangku-bangku sekolah, meja-meja rapat dan ruang-ruang diskusi.
Identitas, 12 November 2013
Hari Ayah se-Indonesia… πŸ˜€

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *