Ayo, Ber-Wisata Kota dan Sejarah di Makassar!

Di era otonomi daerah seperti saat ini, setiap kabupaten dan kota bagaikan bersaing membangun fasilitas pemerintah seperti rumah dinas, perkantoran, dan lain-lain yang serba besar. Tak hanya itu pembangunan yang semerawut membuat bangunan bersejarah semakin tersingkir keberadaannya.

Saya membaca sebuah tulisan tentang Gedung Bank Indonesia yang pernah berdiri di Jl Nusantara dan akhirnya sekarang harus dirubuhkan karena pelebaran jalan. Cckckc. Ironi..

Makassar memiliki potensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata kota, sejarah dan budaya. Karena banyaknya tempat dan situs bersejarah yang patut anda kunjungi ketika datang ke kota Daeng. Namun kurangnya informasi tentang tempat tersebut, membuat tempat-tempat tersebut kurang pengunjungnya.
Karena itu, menulis sedikit info dan mengekspos tentang tempat-tempat tersebut bisa membuat  banyak orang yang tertarik untuk datang ke situs sejarah kota. Semogaa.. Selain itu, menuliskan beberapa situs sejarah ini, agar pemerintah bisa lebih care terhadap situs-situs sejarah yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun di kota Anging Mammiri ini..
Saya dan teman mencoba melakukan wisata budaya dan sejarah selama satu hari, perjalanan dimulai dengan persiapan kamera poket serta buku catatan dan sebuah pulpen. Kami pun mencari tempat wisata kota yang pernah tercatat di sebuah buku milik Pemerintah Kota Makassar.
Nah, berikut adalah daftar tempat-tempat yang patut anda kunjungi ketika berkunjung ke kota daeng. Apalagi jikalau anda seorang turis yang menyukai keindahan kota dan sejarah di dalamnya. Saya membaginya dalam beberapa kategori, so, let’s check it out…
Museum
Museum La Galigo
Lokasi : di dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam
Sebuah museum yang terletak di dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam. Di dalam museum tersebut, kita bisa melihat berbagai benda-benda sejarah. La Galigo sendiri adalah nama Raja Luwu ke-IV, yang juga putra Sawerigading Opunnaware dari hasil perkawinan dengan We Cudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina-Wajo. Jadi kalau mampir ke Benteng Fort Rotterdam, sekalian ajak masuk dan mempelajari sejarah Ujung Pandang. 😀
Museum Kota
Lokasi : Jalan Balaikota, bersebelahan dengan Kantor Walikota Makassar
Tampak depan Museum Kota Makassar

 Awalnya Museum Kota merupakan sebuah kantor dengan tekstur kuno peninggalan kolonial Belanda  bernama Town Hall  yang didirikan pada  tahun 1916. Gedung  ini  berlokasi  di  jantung  Kota  Makassar  tepatnya  di  Jl.  Balaikota  No.  II.  Pertama  kali  dijabat  oleh Mr. D.J. Hambrink  sebagai Walikota  pertama  dari  tahun 1918-1927. Bangunan  tersebut  saat  ini  tidak  berfungsi  lagi  sebagai kantor Walikota tetapi beralih fungsi menjadi Museum Kota Makassar, yang dibuka secara resmi oleh Drs. H.B. Amiruddin Maula, SH, M. Si, saat mengawali jabatannya sebagai Walikota Makassar.

Museum Karaeng Pattingaloang
Lokasi : di dalam kawasan Benteng Somba Opu (Jl Daeng Tata)
Benda-benda tempo doeloe di museum Karaeng Pattingaloang

Museum ini akan kalian temukan jika sudah masuk ke dalam Benteng Somba Opu. Di depan museum, kita disajikan sebuah meriam yang masih terlihat kokoh. Di dalam museum, berbagai benda peninggalan sejarah tertata rapi. Mulai dari peta kekuasaan kerajaan Gowa, alat perang dan lain-lain. Oia, pemberian nama museum ini diambil dari nama seorang Jenderal Kerajaan Gowa yang terkenal hingga negeri Eropa, yaitu Karaeng Pattingaloang.

Benteng
Benteng Fort Rotterdam
Lokasi : Jl Ujungpandang, pinggir pantai kota Makassar
Benteng yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng serta museum Lagaligo adalah melihat ruang tahanan Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa. Selain itu berdiri juga Tugu Sultan Hasanuddin tidak hanya menjadi identitas taman di pelataran depan Fort Rotterdam tapi juga sekaligus menjadi salah satu landmark Kota Makassar.
Benteng Somba Opu
Lokasi : Jl Daeng Tata Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong
Meriam yang ada di depan Museum Karaeng Pattingaloang

Benteng yang be
rbentuk persegi empat ini memiliki luas 1.500 hektar dan dipagari dengan dinding tebal. Benteng ini dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa ke-X Tunipallangga (1548-1566) ini dibangun untuk membentengi kompleks Kerajaan Gowa. Pada pertengahan abad ke-17 benteng ini diratakan dengan tanah oleh VOC bersama sekutunya (24 Juni 1669) dalam Perang Makassar. Namun sejak tahun 1980, BSO ditemukan kembali dan akhirnya direnovasi dan diberikan rumah-rumah adat khas Sulawesi Selatan. Jadi, seperti berasa di dalam Taman Mini Indonesia Indah ala Sulawesi Selatan. 😀

Situs Sejarah
Makam Pangeran Diponegoro
Lokasi : Jl Diponegoro No 55, 200 meter sebelah utara Pusat Perbelanjaan Makassar Mall
Makam ini terletak di pinggir jalan Diponegoro. Karena letaknya yang berada di pinggir jalan, keadaan situs ini agak berdebu. Maklum saja, volume kendaraan yang melewati makam ini cukup banyak. Situs ini masih sering dikunjungi oleh para pelawat makam.
Makam Syech Maulana Yusuf Al Makassary Tuanta Salamaka
Lokasi : Jl Syech Yusuf, perbatasan Gowa – Makassar
Makam Syech Yusuf, selalu diziarahi

Terletak dipinggir jalan Syech Yusuf, membuat situs ini terlihat jelas. Mudah mencari situs bersejarah ini. Karena didampingi sebuah masjid dan areal pekuburan sanak saudara Syech Yusuf. Situs ini sering dikunjungi orang untuk berziarah dan mendoakan beliau. Makam dengan kubah besar menjadi simbol bahwa orang-orang yang dikubur disini keturunan bangsawan.

Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin
Lokasi : Puncak bukit Tamalate Katangka 9 Km dari Kota Makassar
Ini adalah kompleks pemakaman yang paling bersih ketika saya berwisata sejarah. Arealnya tidak diwarnai oleh sampah, rumput-rumput pun ditebas sehingga jalanan batu terlihat dengan jelas. Ada 9 kubah dari makam keluarga raja Gowa, yaitu I Mallombasi Daeng Mattawang atau biasa disebut dengan Sultan Hasanuddin. Selain beliau, masih ada bapak, anak, serta makam raja terdahulu yang letaknya bersebelahan dengan makam Sultan Hasanuddin. Fakta yang menarik disitu adalah Sultan Hasanuddin lahir pada tanggal 12 Januari, sama seperti tanggal lahir ku. Hehehe.
Makam Kuno Raja-raja Tallo
Lokasi : Jl Sultan Abdullah Kec Tallo 7 km dari pusat Kota Makassar
Kompleks Makam ini dibangun sekitar abad ke-18, dapat dibuktikan pada ragam hias bangunannya. Bentuk bangunan makam kuno ini mirip konstruksi candi. Pada sebagian dindingnya terdapat kalimat tauhid dalam seni kaligrafi Islam. Di pemakaman ini dikebumikan Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan Raja Tallo I yang memeluk Agama Islam dengan julukan “Macan Keboka ri Tallo” (Macan Putih dari Tallo).
Makam Arung Pallaka
Lokasi : Jl Sultan Hasanuddin, Kec Laikung, perbatasan Gowa-Makassar
Areal pemakaman ini lumayan bersih. Terdapat makam paling besar yaitu makam Arung Pallaka. Pendataan di areal pemakaman ini kurang baik, sehingga saya tidak bisa mengetahui siapa yang dikubur di makam tersebut. Banyak makam-makam yang tidak bernama dan pinggir kuburnya telah rusak tak terawat. Selain itu di pintu masuk makam banyak sampah. Ckckck.
Tempat Peribadatan
Masjid Tua Katangka (Al Hilal)
Lokasi : Jl Syech Yusuf Kec Katangka, Kab Gowa
makam tua para raja Gowa

Masjid yang terletak di pinggir jalan raya Syech Yusuf ini adalah salah satu situs tertua di Sulawesi Selatan. Dimana pembangunannya tercatat pada tahun 1603. Selain masjid, disampingnya terdapat situs makam raja-raja Gowa. Ada 25 kubah di atas makam mereka. Kubah merupakan sebuah tanda bahwa yang punya makam adalah orang besar atau keturunan bangsawan. baca selengkapnya disini.

Masjid Kuno Arab
Lokasi : Jl Lombok Kec Wajo
Terletaknya di Jl Lombok , Kec. Wajo terdapat sebuah Masjid tua yang dibangun pada tahun 1907, dan hingga saat ini bangunan tua tersebut masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam di sekitarnya.
Gereja Emmanuel

Lokasi : Jl Balaikota bersebelahan dengan Kantor Walikota Makassar
Menurut http://gpibimmanuelmks.bravehost.com/history.html gereja ini diresmikan pada tanggal 15 September 1885, oleh pendeta J.C Knuttel. Gedung ini resminya bernama “Prins Hendriks Kerk” (Gereja dari Pangeran Hendrik) namun umumnya disebut “Protestantsche Kerk” (Gereja Protestan) atau “Grote Kerk” (Gereja Besar), yang kemudian dikenal dengan nama “Gereja Immanuel” hingga saat ini.
Gereja Katedral
Gereja Katedral di dekat Lapangan Karebosi

Lokasi : Jl Kajoalalido, dekat dengan Lapangan Karebosi

Didirikan pada tahun 1898 dan merupakan gereja tertua di kota Makassar dan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Saya gak bisa masuk ke dalam gereja, karena saya datang pintu pagar sudah ditutup. Hehehe. Tapi arsitektur khas gaya Belanda masih terlihat kuat di Gereja Katedral ini.
Kelenteng Ibu Agung Bahari
Lokasi : Jl Irian, 300 m dari Kantor Walikota Makassar
Hmmm. Melihat dari luar sudah dihiasi dengan warna merah menyala. Klenteng “Ma Tjo Poh” Ibu Agung Bahari dibangun pada tahun 1738 oleh seorang warga keturunan Tionghoa di Makassar yang bernama Kapitan Lie Lu Chang.  Klenteng bergaya arsitektur China ini dibangun untuk memuja Dewi Ma Tjo Poh yang dipercaya sebagai Dewi pembawa berkah dan keselamatan di laut; kini tetap difungsikan sebagaimana awalnya. Keren liat patung-patungnya. 😀
Objek Peninggalan Penjajah (hehehe)
Gedung Mulo
Lokasi : Jl Jenderal Sudirman No 23, sebelum menuju Jl Ratulangi
Pintu Masuk Gedung MULO, Makassar

Kalau lewat di Jl Jenderal Sudirman, pasti kita akan melihat sebuah gedung dengan arsitektur kuno bercat putih kusam. Gedung Meer Uitgebreid Lager Onderwijs biasa disingkat dengan MULO di Kota Makassar baru dibuka sejak tahun 1920, sedangkan sebelumnya telah dibuka pada beberapa tempat di Jawa sejak tahun 1911 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. DIbangun dengan bergaya arsitektur klasik Eropa dipadu dengan tradisional. Sebuah gedung yang masih terawat hingga kini dan sering digunakan untuk kegiatan.

Gedung Kesenian Societeit de Harmonie
Lokasi : Jl Riburane, dekat dengan China Town
Gedung kesenian yang tak jelas nasibnya.

Gedung yang saat ini masih direnovasi bernama Societeit de Harmonie berarti gedung perkumpulan harmoni. Dahulu kala, gedung ini tidak hanya digunakan untuk acara kesenian, tetapi juga sebagai tempat pertemuan gubernur, walikota, dan Petinggi Militer Belanda. Gedung Kesenian tertua di Sulawesi Selatan yang kini tak terurus, mungkin karena tua dan sudah usang. Bangunan dengan gaya reinassance yang dibangun pada tahun 1896 kini masih dalam keadaan pemugaran yang tak kunjung usai. Sangat ironi.. padahal udah ngabisin uang 2 milyar. Ckckck.

Bunker Jepang
Lokasi : Desa Wisata Lakkang, terletak di Delta Sungai Tallo
Sebuah bunker yang dulu difungsikan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang kini keberadaannya masih bisa kita temukan di Desa Lakkang. Walaupun sudah tertutup tanah dan daun-daun bamboo, kita masih bisa masuk ke dalam bunker tersebut. saya melakukan reportase tersendiri untuk Desa Lakkang. hehehe..
Monumen yang terlupakan
Monumen Sejarah
Monumen Emy Saelan
Lokasi : Jl Hertasning, agak menjorok ke dalam sebelum perempatan Aeropalla
Sebuah monument yang dibangun pada 1985 oleh Menko Polkam Surono, berdiri kokoh di Jl Hertasning. Agak tersembunyi. Monumen ini dibangun tepat di atas lokasi gugurnya Emmy Saelan. Cerita yang saya baca di blog http://panyingkul.com/view.php?id=647&jenis=kabarkita , beliau bersama para pejuang lainnya, di antaranya adalah Wolter Robert Mongisidi, tengah melakukan long-march menuju Polongbangkeng, di daerah Gowa-Takalar. Lalu, ketika tiba disana, mereka dihadang pasukan Belanda. Terjadi pertempuran sengit yang akhirnya menewaskan Emmy Saelan. Baca selengkapnya disini,
Monumen Mandala
Lokasi : Jl Jend Sudirman, tepat di Pusat Kota

Monumen Mandala, Monas di Indonesia Timur

Tinggi Menara Monumen yang mencapai ketinggian 62 meter merupakan simbol tahun 1962, tahun terjadinya perjuangan pembebasan Irian Barat. Monumen yang didirikan di atas lahan seluas satu hektare ini dibangun pada tanggal 11 Januari 1994. Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Menko Polkam Soesilo Sudarman, dan diresmikan oleh Presiden H. M. Soeharto, pada tanggal 19 Desember 1995. Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. ( tapi saya ga bisa masuk ke dalam, cuz udah ga bisa masuk, entah kenapa).. baca selengkapnya disini.

Monumen Korban 40.000 Jiwa
Lokasi : Jl Langgau, 4 km sebelah utara pusat kota Makassar
Monumen ini bisa dikatakan menjadi kenangan tragis bagi bangsa Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan. Pada tahun 1946-1947 sebanyak 40.000 orang dibantai dalam sebuah operasi penumpasan pemberontak oleh pasukan khusus Belanda yang dipimpin Westerling. Datang kesini untuk mendoakan semua arwah para pejuang bangsa yang ikut andil dalam memerdekakan negeri ini. Amien.. Tapi ga sempet foto-foto cuz uda malam. hehehe
Monumen Tugu Harimau
Lokasi : Jl Balaikota, di dalam kawasan Taman Macan
Tugu Harimau, sejarahnya masih sangat kurang

Tugu ini agak kurang dikenal namanya. Mungkin karena masyarakat Indonesia saat ini yang tidak mau tau dengan sejarahnya. Saya pun mencoba melihat di bagian atas tugu tersebut. Tugu ini dibangun pada 27 April 1987 dan diresmikan oleh Menko Polkam Surono. Ada nama Walter Monginsidi di tugu tersebut. Dikatakan sebagai pengingat Laskar Harimau. Hmmm. Saya akan mencoba mencari tahu. 😀

Tugu Tentara Pelajar
Lokasi : Jl Riburane, persimpangan Jalan Ribura’ne dan Jalan Selamat Riadi, Kelurahan Baru.
Berdiri sebuah tugu yang terlihat sebagai pejuang yang sedang mengangkat senjata. Tugu ini mengenang sekelompok orang muda yang disebut dengan Tentara Pelajar. Mereka adalah pelajar/mahasiswa pejuang kemerdekaan yang ikut dalam menegakkan amanat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dimana mereka berjuang dalam rentang waktu Juni 1946 – akhir Desember 1949.
Pelabuhan
Pelabuhan Paotere
Lokasi : kecamatan Ujung Tanah, 3 km dari Pantai Losari
Sebuah kapal penumpang yang mendarat

Sebuah Pelabuhan Rakyat yang merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu, menyimpan bukti sejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14, sewaktu memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka untuk membantu Raja Malaka mengusir penjajah Belanda.

Kini, Pelabuhan Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi, Lambo, kapal-kapal motor nelayan dan pedagang antar pulau. Selain itu, Paotere juga menjadi pusat niaga nelayan, dengan adanya fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI), bisa dapatkan ikan segar nan murah setiap hari. Hehehe.  Biasa digunakan sebagai tempat pengambilan foto yang menarik. Kalau anda seorang fotografer, sempatkanlah datang kesini dan mengambil moment.

Penutup
Itulah tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi jika anda ke Makassar. Sebuah kota sarat dengan sejarah dan keindahan. Ada beberapa saran yang saya berikan untuk pemerintah dalam mengkonservasi kawasan situs sejarah di Kota Makassar :

Rambu-rambu ke arah situs

1. Perbaikan tanda jalan untuk menuntun wisatawan ke tempat situs. karena dalam perjalanan saya menuju situs, minim sekali rambu-rambu yang menunjukkan situs tersebut. jadi, saya beberapa kali harus turun dan bertanya pada masyarakat setempat. bayangkan saja jika rambu-rambu ke situs tersebut hanya terbuat dari besi tanpa petunjuk arah yang memadai.

2. Kebersihan situs sangat perlu diperhatikan. karena pada beberapa situs atau tempat sejarah, sampah bertebaran dimana-mana. padahal sebuah situs butuh perhatian yang lebih untuk menjaga keberlangsungannya.

peta situs makam Sultan Hasanuddin

3. Penjagaan situs sejarah sangat dibutuhkan. Kasus penjarahan atau pengambilan situs sejarah beberapa kali ditemukan, karena itu penjagaan diperlukan untuk melindungi situs tersebut. Ada beberapa situs yang
memang sudah dijaga dengan baik seperti Makam Sultan Hasanuddin.

4. Informasi yang memadai tentang situs sangat kurang dan minim. Padahal untuk menambah minat mempelajari situs, dibutuhkan data yang akurat dan penjelasan tentang situs tersebut. Seperti Makam Arung Pallaka yang tidak ada tanda siapa yang dikubur di situs tersebut. Menjadi salah satu alasan orang menjadi tidak tertarik dengan sejarah.

Objek wisata sejarah bisa memberikan nilai penanaman sejarah, juga dapat sebagai tempat wisata. Adanya wisata sejarah mampu memberikan dan menyampaikan pesan moral terhadap kejadian-kejadian masa lalu. Sehingga pengunjung dihadapkan pada pilihan hidup dan pemahaman betapa pentingnya sejarah masa lalu. penyampaian jalan cerita tentang peristiwa masa lalu, membuat kita berpikir bahwa ternyata perjuangan bangsa sebelum kita besar dan dengan sekuat tenaga memperjuangkan hak-hak di negeri ini.

Setelah kita mengetahui bagaimana orang-orang di zaman dulu memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan demi kemajuan seperti ini. Maka, sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai sosial tinggi marilah kita jadikan sejarah sebagai tonggak masa kini demi tumbuh kembang bangsa dan negara ini. Dengan mengingat sejarah kita sendiri akan mengerti betapa sangat berartinya sejarah bagi kehidupan kita.

Selamat menikmati keindahan kota.. oia, berikut calendar event untuk Visit South Sulawesi 2012.
*artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba konten blog visit south sulawesi

You may also like

1 Comment

  1. wah, Adlin ternyata penjelajah kota Makassar, Salute buat orang Bogor..

    FB : Dinar Xtraordinary
    Tweet : DinarJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *