Bagaimana Rasanya Jadi Korban Bully?

Bullying atau perundungan bukan hal yang wajar, berikut ini adalah perspektif menjadi seorang korban bullying di waktu SD.

Saya ingat sekali ketika kelas 2 SD – 4 SD saya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sekelas. Dulu, tahun 1996-2000 saya bersekolah di sebuah sekolah elite di zaman itu, sebut saja SD Bina Insan*. Ayah saya berusaha memasukkan saya ke dalam sekolah tersebut walaupun bayaran di sekolah itu sangat mahal bagi kami. Ayah yang bekerja sebagai wirausahawan dan Bunda yang terdaftar sebagai PNS laboran di sebuah lab hewan, memaksakan dirinya agar bisa menyekolahkan saya disana.

Namun ternyata sekolah itu menjadi sebuah petaka buat saya pribadi. Sebuah kenangan masa lalu yang rasanya tak bisa dilupakan. Menjadi pelajaran penting di tahap kehidupan saya selanjutnya..

Bullying di SD

Kulit saya yang lumayan gelap untuk ukuran teman-teman saya menjadi bahan olok-olok yang paling sering saya dengar setiap harinya. “Hitam, Hideung, atau Item” adalah julukan yang tersemat kepada saya setiap harinya. Selain itu jalan rumah saya yang masih beraspalkan tanah membuat sepatu saya selalu penuh dengan lumpur ketika Bogor dilanda hujan. Bunda selalu mengingatkan saya untuk membungkus sepatu saya dengan plastik, jadi sepatu masih bisa bersih ketika naik jemputan.

anak selucu ini tak seharusnya dibully.

Saya ingat sekali, SPP satu bulan di sekolah itu 50.000 itu belum termasuk transport jemputan yang disediakan oleh Bunda dan Ayah agar saya semakin mudah menuju ke sekolah. Jika di total, Ayah dan Bunda mungkin menghabiskan uang sekitar 150.000 per bulan untuk SPP, uang jemputan dan uang jajan 500 rupiah per hari. Jumlah yang sangat besar ketika itu, apalagi saat itu sedang Krisis Moneter melanda Indonesia.

Awalnya sih semua baik-baik saja di sekolah itu, tak ada bully yang berarti. Kelas 1 SD dilewati dengan sempurna. Nilai-nilai raport saya hanya angka 8 dan 9. Paling parah adalah pelajaran Bahasa Sunda yang cuman dapat 7. Haha. Ketika di SD kelas 1, saya masih punya teman yang mau nemenin jajan di kantin sekolah.

Tapi semua itu berubah ketika saya naik kelas 3 SD, saya merasakan bully yang parah. Masih lekang dalam ingatan ketika kami mendapatkan PR Kesenian dari guru, kami disuruh membuat maket, semua orang punya kelompok kerja, dan saya ngerjain hanya sendirian. Entah apa yang ada di dalam pikiran orang-orang itu. Hahah. Bisa-bisanya mereka jahat ke saya, seorang anak polos tak berdosa.

Mogok sekolah

Dulu, sistem sekolah masih menggunakan Caturwulan. Jadi pembagian raport dilakukan setiap tiga bulan sekali. Saat pembagian raport, Ayah dan Bunda selalu menemukan sekitar 5-10 hari saya tidak masuk kelas. Saya bukan sakit, tapi lebih kepada sakit hati dan batin jika harus pergi ke sekolah. Ayah dan Bunda awalnya marah. Tapi saya jadi terbiasa dimarahi. Haha.

Ketika itu kelas 3 SD, bullying nya udah parah banget lah. Rasanya masuk sekolah hanya akan membuat saya sakit hati. Di sekolah pun gak ada yang ngajak ngomong. Jadi ngapain juga pergi ke sekolah? Itu terus yang ada di dalam pikiran saya. Nilai saya turun drastis tuh di kelas 3 SD, udah gak masuk ranking kelas lagi. Ya iyalah, ngapain juga masuk sekolah kalau saya gak bahagia.

Nah untuk bikin saya bahagia, biasanya untuk mogok sekolah. Tapi yaa ngebohong Ayah dan Bunda. Saya mempunyai cara, tetap minta uang jajan sama Bunda, kemudian pamit ke sekolah. Padahal saya tidak menuju ke sekolah, saya akan berjalan kaki dari rumah mencari tempat aman untuk bersembunyi hingga waktu pulang sekolah tiba.

begini lah gambaran jalur bolos ku hahah

Salah satu tempat favorit saya adalah rumahnya Arfansyah, salah satu sepupu yang tinggal di daerah Pura. Kalau saya bolos, saya pasti akan kesana. Kami akan makan siang nasi dicampur garam. My favorit. Al fatihah untuk tante yang selalu memberikan tumpangan ke saya.

Selain itu saya juga sering tidur di pos-pos ronda di jalanan yang pernah saya lihat. Kalau anda melihat anak kecil kucel yang selalu pakai kerudung putih di tahun 1998-1999 di pinggir jalan Bogor antara Cimanggu hingga Parung, kemungkinan besar itu saya. Haha. Saya biasa jalan kaki dari arah sekolah ke rumah yang jaraknya hampir 12 km. Pokoknya demi dibilang sekolah padahal enggak. Maaf ya Ayah dan Bunda, Adlien nakal banget. Habisnya benci banget sama sekolah dulu..

Bullying terparah

Naik kelas 4, saya semakin sering mendapatkan perundungan. Saya gak ditemenin. blas! Gak ada satupun yang bisa saya ajak diskusi tentang PR. Saya mandiri banget tuh ngerjain PR sendirian. Belajar sendirian. Dulu kayaknya belum ada diskusi kelompok deh. Nah pas di kelas 4 inilah nilai saya turun semuanya. Mungkin karena saya sudah bener-bener capek untuk sekolah. Temen-temen di jemputan sekolah pun juga gak mau berteman sama saya. Sedih sih kalau ingat. Saya selalu disuruh duduk di kursi paling belakang sendirian.

Bullying tersering saya dapatkan adalah ketika saya didorong dan diselengkat oleh teman kelas. Saya hanya tergores sih atau paling parah berdarah sedikit, tapi luka di hati memuncak sekali. Ingin rasanya menonjok anak-anak itu. Tapi saya hanya sendirian. Jika saya melawan pun mungkin saya disakiti lebih lagi. Ketika itu saya juga pindah kegiatan ekstrakulikuler dari ekskul tari bali jadi pencak silat. Iyaa guys, saya ikut ekskul tari bali di sekolah itu. Hahah.  Sesuatu hal yang sangat lucu kalau dikenang.

Setelah ikut pencak silat, saya malah semakin sering kena bully. Puncaknya adalah saya diselengkat di kelas saat saya menuju kursi. Guru Kesenian yang melihat saya hanya diam dan memulai kelas. Ketika jam istirahat saya masuk ke WC untuk menangis. Saya masih ingat sekali saat itu sedang santer isu tentang Mister Gepeng. Jadi nangisnya cuman sebentar, takut diambil sama Mister Gepeng. Hahah.

Akhirnya saya pindah sekolah

Karena saya mencetak rekor sejarah bolos selama 16 hari selama satu caturwulan, Bu Yuni, wali kelas saya mengangkat tangan dengan kasus saya. Pilihannya hanya ada dua, saya tidak naik kelas atau saya pindah sekolah. Karena mengingat saat itu saya memang masuk sekolah lebih awal daripada anak-anak sebaya, jadi turun kelas jadi opsi yang bisa diambil.

Tapi Ayah dan Bunda berunding dengan Mbah Rayi yang saat itu masih menjadi Kepala Sekolah di SMP Al Muhajirin. Akhirnya dengan berat hati tapi saya senang sekali, saya pun pindah sekolah ke SDN Anyelir 1, Depok. Alhamdulillah akhirnya pindah juga. Berdekatan dengan sekolah Mbah Rayi jadi saya gak bisa bolos. Tapi bersosialisasi bukan hal yang mudah buat Adlien kecil.

Saya awalnya masih dapat bully gegara kulit hitam, tapi entah kenapa guru-guru di SD ini terasa lebih hangat. Saya masih ingat dengan dua wali kelas saya di kelas 5 dan 6, Bu Aliya dan Pak Sujana, mereka berdua menjadi orang tua yang baik. Dulu saya pernah secara tidak sengaja melukai kepada seorang anak, tapi Bu Aliya memaafkan saya dan kasus ini gak sampai membawa orang tua si temen saya. Terima kasih Bu Aliya dan Pak Sujana, jasa kalian tak akan pernah saya lupakan. 🙂

Itulah kasus perundungan yang pernah saya dapatkan di waktu kecil, lumayan berbekas. Tapi alhamdulillah saya punya supportive system yang sangat ngerti walaupun butuh waktu yang lama untuk Ayah dan Bunda paham bahwa saya kena bully. Haha.

Bullying bukan hal yang wajar

Dari cerita di atas, kasus bullying jadi membuat korban (baca: saya), punya ketakutan sendiri dengan bully. Untungnya saya berhasil recover walaupun butuh waktu yang lama. Saya pun belajar bahwa membully bukan hal yang baik. Sehingga saya pun mencoba untuk tak merundung orang lain dan melawan orang yang membully saya. Saya pernah masuk BP pas SMP atau berantem sama tetangga rumah karena merasa ditindas. Dari situlah keberanian saya muncul untuk melawan jika ada orang yang berani macam-macam sama saya. Jangan heran kenapa saya agak galak dan pasang tampang muka tidak bersahabat kalau sudah merasa terhina.

Kasus #JusticeForAudrey kali ini yang melibatkan banyak orang sebenarnya bukan hal yang baru. Tayangan sinetron yang tidak mendidik membuat anak-anak merasa dirinya super power, merasa boleh untuk menginjak-injak orang lain. Dalam kasus saya, anak-anak ini merasa mereka orang kaya dan orang yang berpunya. Makanya mereka boleh menginjak-injak anak kampung yang selalu datang dengan sepatu penuh lumpur.

Selain kasus Audrey, masih banyak kasus-kasus perundungan yang lain hingga menewaskan orang yang dirundung. Contoh saja kasus perundungan beramai-ramai oleh anak SMP dan SD yang membentuk gang bernama Brother of Santay (BOS) di Thamrin City pada Juli 2018. Atau kasus bullying yang pernah menghentak tanah air. Sila baca kasusnya disini. Semua kasus itu membuat kita bertanya-tanya “Apakah ada yang salah dari sistem pendidikan di tanah air?”.

Alasan orang membully

Menurut Ditchthelabel.com , ada beberapa alasan kenapa orang suka membully. Pertama, mereka ingin menciptakan rasa tidak aman kepada korbannya, entah karen alasan ingin merasa hebat, atau ingin mengontrol orang lain. Kedua, mereka pernah merasakan trauma misalnya karena orang tua bercerai, terkena kekerasan dalam hidupnya. Ketiga, punya aggresive behaviour. Keempat, Loe self esteem atau bisa dibilang rasa kurang percaya diri. Kelima, pernah jadi korban bully di fase hidup sebelumnya. Keenam, low access to education, jadi mereka kurang terpelajar juga bisa jadi pemicu melakukan bully.

ilustrasi dari https://kidshelpline.com.au/teens/issues/bullying

Bisa jadi anak-anak yang merundung Audrey ini punya masalah kejiwaan yang membuat mereka melakukan hal yang parah kepada Audrey. Kabarnya sih ada 12 orang pelaku, 3 orang pelaku yang melakukan kekerasan, sisanya memvideokan dan tertawa-tawa melihat penderitaan Audrey tanpa membantu. Kalau saya sih ini udah masuk kekerasan fisik yang cukup sadis. Apalagi ini sudah terencana, alangkah baiknya diselesaikan dengan jalur hukum. Sebagai penyintas, saya berharap gak akan ada bully lagi di kemudian hari apalagi bully yang mengancam nyawa seseorang. Udah cukup lah bully terjadi di sekitar kita.

Tips cara menghindari bully

Berikut ini adalah tips agar tidak membully atau merundung orang lain :

  • Kalau kalian melihat seseorang di bully, berikan uluran tangan dan jadilah orang yang melindungi.
  • perhatikan jari tangan kamu, sekarang bullying bukan hanya fisik juga, tapi masuk ke ranah media sosial. Perhatikan apa yang kalian ketik di media sosial seseorang. Jangan pernah menghina seseorang karena kita tidak pernah tau apa yang sebenernya orang itu alami.
  • Jangan merasa superior terhadap orang lain, hal ini bisa membuat diri kamu ingin melakukan bullying.
  • jangan suka nge-geng, apalagi kalau nge-geng yang gak membawa manfaat. Cuman untuk kelihatan hebat di mata orang lain.
  • bertemanlah dengan banyak orang, jangan suka pilih-pilih teman. Apalagi pilih teman karena mereka keliatan keren. Kebanyakan pembully itu awalnya karena melihat teman mereka membully, sehingga lama-kelamaan bully terlihat wajar. Kalau mau pilih teman, cari yang baik dan bisa membawa manfaat. Misalnya berteman dengan orang yang suka baca buku, jadi kamu ketularan ikut suka membaca buku

Penutup

Cerita bullying yang pernah saya terima ini menjadi refleksi bagi saya untuk tidak melakukan bullying terhadap orang lain. Hanya satu yang selalu saya pegang teguh hingga saat ini, “Success is the best revenge”. Jadi jika siapapun yang sedang dibully saat ini dan membaca tulisan ini, kalian bisa memilih untuk melawan atau menunggu pembalasan yang tepat ketika kalian menjadi orang yang sukses. 🙂

 

 

tulisan ini ditulis di Asserpark 44

19:41 CET, Wednesday, 10 April 2019

setelah geram lihat kasus bullying yang semakin marak di Indonesia

You may also like

4 Komentar

  1. Akh adlien makanya kamu jadi sosok yang kuat yah. Terima kasih sudah bertahan dan tidak mewariskan bullying kepada yang lain. Makasih juga tidak pernah balas dendam yah. Kamu hebat!

  2. Iya kak. Soalnya saya tau rasanya di bully dan itu gak enak banget. Semua nilai turun, untungnya ayah dan bundaku akhirnya sadar kalau ak kena bully. Kalau mereka berdua masih memaksakan kehendak supaya ak tetap disitu, mungkin ceritanya akan sangat berbeda. hehe.

  3. gila,, parah banget bully-nya.. setelah dewasa, ada nggak temen2 yg suka ngebully itu yang minta maaf? kirain cuma di sinetron atau di film aja kasus bully kaya gini, ternyata emang terjadi di dunia nyata..

    -Traveler Paruh Waktu

  4. kasus bully emang kayaknya gak keliatan semuanya, banyak yang terkena bully memilih untuk memendamnya sendiri. di Indonesia sebenernya banyak korban bully, tapi kayaknya kita sering menganggap apa yang kita lakukan bukanlah bully. heheh. jadi si pembully gak merasa bersalah gitu.
    Liat kasusnya si Nabila yang dikerjai sama temannya. Sepatunya entah diapain, hingga Nabila marah dan merespon si pembully. Terlihat si pembully hanya menganggap apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar, tapi ternyata tidak buat si Nabila.

    Yahh, kita masih belajar banyak hal tentang kehidupan. heheh.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.