Bahasa Indonesia, Nasibmu Kini??

Penggunaan bahasa asing semakin marak dan membuat kita nyaris lupa bahasa Indonesia. Tak saya pungkiri, saya adalah salah satu “korban” penggunaan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan kata-kata asing tersebut membuat saya terlihat keren dan gaul. Tapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa jika bukan kaum muda yang melestarikan bahasa Indonesia siapa lagi?? Karena itulah, saya terpikir untuk membuat tulisan ini. Tulisan yang akan mengingatkan saya siapa sebenernya diri saya. Saya adalah orang Indonesia dan akan selalu bangga dengan bahasa Indonesia. πŸ˜€
Cobalah tengok keadaan di sekitar kita. Papan-papan nama toko memajang kalimat ajakan menggunakan bahasa asing. “If you dare, try this coffee” atau “Make you comfort like at home” dan beribu kalimat ajakan lainnya yang menggunakan bahasa inggris. 
Tak usah jauh-jauh, nama acara di televisi dengan menggunakan istilah asing juga semakin meningkat. Acara dengan rating tinggi misalnya, seperti Yuk Keep Smile, Inbox, dan lain sebagainya menggunakan istilah asing. 
Hmmm. Belum lagi menjamurnya istilah asing di telinga kita. Seperti kalimat Selow dari kalimat Slow dan sekarang biasa disebut dengan Woles. Atau ratusan istilah asing yang selalu kita gunakan dalam perdebatan ilmiah. Rasanya kurang keren jika sedang berbicara dalam forum ilmiah tanpa menggunakan istilah asing. Misalnya Sinkron, Dialektika, Instalasi, Realitas, Normatif dan lain sebagainya.
Keadaan ini juga didukung oleh banyak orang. Seperti ada pepatah baru yang membuat orang menjadi giat belajar bahasa asing 
“Semakin kamu bisa bahasa asing, maka semakin keren lah kamu.”
Tak ayal jika pusat privat bahasa asing dan kursus belajar semakin menjamur. Entah dengan kualitas bagus ataupun abal-abal. Saya tak menyalahkan para entrepreneur (eh) bahasa asing, tapi apa kalian tidak tergelitik dengan kondisi bahasa kita yang semakin parah? Apakah kalian pernah menemukan pusat kursus bahasa Indonesia yang baik dan benar? Jujur, mata kuliah bahasa Indonesia saya hanya bernilai B. Tak terlalu baik. Ternyata saya pun masih bodoh dalam berbahasa Indonesia, tapi mau sok berbahasa inggris. Hahaha. Lucu ya??
Kekacauan ini juga diperparah dengan pola pikir ibu-ibu yang bangga ketika anaknya bisa berbicara bahasa inggris dengan lancar. Mereka akan memamerkan kelihaian anaknya ber cas-cis-cus dalam bahasa asing di depan ibu-ibu lainnya. Hahaha. 
Saya jadi berpikir, ketika kita lebih bangga dengan bahasa asing, sampai kapan bahasa Indonesia akan bertahan??
Dibuat di Warkop, ketika kaget dengan papan nama sebuah Warkop. 9 November 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *