Belajar Kehidupan dari Morrie, Si Professor Tua


Buku keren
Membaca novel berbahasa Inggris ini adalah pertama kalinya saya lakukan. (Thanks to Ananda yang udah mendorong saya untuk membaca buku ini). Dan saya akui, saya ketagihan! Memahami makna dalam kalimat berbahasa asing merupakan pelajaran penting. Dimana sebuah makna bisa dibahasakan dalam beragam bahasa. Kali ini saya akan mereview buku Tuesday With Morrie. Buku ini karangan Mitch Albom, penulis best seller. Saya penggemar Mitch Albom karena bukunya yang The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu). Ternyata buku ini juga sama bagusnya. 😀
Dikisahkan, seseorang yang sedang belajar dengan professornya. Seorang professor tua yang mengajarkan cinta, kerja, komunitas, keluarga, umur, pengampunan dan kematian. Sebuah silabus lengkap dan sarat makna kehidupan yang akan kamu temukan di kelas ini. Mata pelajarannya bernama The Meaning of Life. Kelas yang mengajarkan bahwa semua lahir dari pengalaman. Tidak ada ujian akhir tapi kamu diminta untuk menuliskan satu karya tentang apa yang kamu pelajari di kelas ini. Dan Mitch sedang menghadapi ujian akhirnya. 
Professor Morrie Schwatrz adalah gurunya. Beliau yang mengajarkan makna hidup bagi anak muridnya. Dimana Mitch Albom adalah salah satu muridnya. Murid yang bisa mengingatkan kembali seperti apa Morrie di masa muda. 
Cerita dimulai ketika Prof Morrie didaulat penyakit parah. ALS. Amyotrophic lateral sclerosis. Sebuah penyakit yang menyerang saraf sehingga tubuh tak bisa digerakkan seperti kita sehat. Penyakit yang menggerogoti diri secara perlahan-lahan. Morrie tahu umurnya tidak panjang. Ia berusaha berbagi pengalaman pada orang-orang disekitarnya. Ia menuliskan aforisma-aforisma di berbagai tempat. 

Accept the past as past, without denying it or discarding it. Accept what you are able to do and what you are not able to do. Learn to forgive yourself and to forgive others. Don’t assume that it’s too late to get involved – Morrie Schawrtz
Di sisi lain Mitch Albom mulai melupakan professornya. Ia tenggelam pada kehidupan rutinitas yang ia jalani sebagai reporter olahraga. Padahal ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang pianis kenamaan. Setelah pamannya wafat, ia mulai menanggalkan cita-citanya dan mengejar dunia. ia bekerja seperti orang ‘kesetanan’. Ia pun mulai memiliki yang diinginkan oleh semua orang, kekayaan. 
Hingga pada suatu saat, sebuah acara TV, menampilkan seorang professor tua yang mengajarkan kehidupan di saat-saat terakhir hidupnya. Mitch memutuskan untuk pergi menemui professornya yang tak pernah ia temui selama 16 tahun. Morrie mengajari bahwa kematian tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya tidak berbahagia. Mitch juga mulai mempertanyakan hidupnya ketika bertemu Morrie. Apa yang ia dapatkan dari ribuan aktivitas yang ia telah lakukan? Ia merasa tidak bahagia….
Kematian adalah satu-satunya alasan untuk bersedih, ujar Morrie menjawab pertanyaan Mitch. “Well, for one thing, the culture we have does not make people feel good about themselves. We’re teaching the wrong things. And you have to be strong enough to say if the culture doesn’t work, don’t buy it. Create your own. Most people can’t do it. They’re more unhappy than me – even in my current condition,” lanjut Morrie. 
Mitch mulai mendapatkan ketenangan, karena itulah ia berjanji akan datang menemui Morrie lagi. Setiap Selasa. “Because we’re Tuesday people,” begitu Morrie menyebut ikatan mereka. 

The First Tuesday – We Talk About the World

Yang membuat saya tertarik dengan chapter ini ketika Morrie masih tertarik dengan keadaan di luar sana. Mitch pun menanyakan, kamu sedang sakit dan masih memikirkan keadaan dunia? 
Morrie merasakan penderitaan yang diderita oleh orang lain. Ia semakin merasakan bahwa orang lain juga menderita. Morrie semakin mudah menangis. Mitch measa tersentil, padahal ia selalu datang ke acara pemakaman, tapi ia tak pernah meneteskan air mata. Maybe death is the great equalizer, the one big thing that can finally make strangers shed a tear for one another.
Morrie mendapatkan sebuah pencerahan setelah ia sakit. The most important thing in life is to learn how to give out love, and let it come in. Let in come in. We think we don’t
deserve love, we think if we let it in we’ll become too soft. But a wise man named Levine said it right. He said, “love is the only rational act”.

The Second Tuesday – We Talk About Feeling Sorry For Yourself

Morrie mengajarkan bagaimana cara berterimakasih terhadap tubuh yang selalu kita gunakan. Ia menangisinya setiap pagi. Tak berlebihan. Dan ia merasa sangat beruntung memiliki waktu untuk terus berterimakasih pada tubuhnya. 
“It’s horrible to watch my body slowly wilt away to nothing. But it’s also wonderful because of all the time I get to say good bye. Not everyone is so lucky”.

The third Tuesday – We Talk About Regrets

Mitch mulai membawa tape recorder. Ia ingin mengabadikan hasil percakapan mereka berdua. Pertanyaan Mitch tentang bagaimana kita menyesal ketika kita mengetahui dekatnya kematian kita. Morrie menjelaskan bagaimana bahwa setiap manusia pasti merasakan penyesalan terdalam ketika kita sudah menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa. 
“The culture doesn’t encourage you to think about such things until you’re about to die. We’re so wrapped up with egostistical things, career, family, having enough money, meeting the mortgage, getting a new car, fixing the radiator when it breaks – we’re involved in trillions of little acts just to keep going. So we don’t get into the habit of standing back and looking at our lives and saying, Is this all? Is this all I want? Is something missing?” He paused. “You need someone to probe you in that direction. It won’t just happen automatically” ..

The fourth Tuesday – We Talk About Death
 Pelajaran pada Selasa ini adalah tentang kematian, subjek pertama dalam list yang dibuat oleh Mitch. Morrie langsung memulai pelajaran dengan kalimat, “Everyone knows they’re going to die, but nobody believes it.”. Setiap orang tahu mereka akan mati, tapi mereka tidak mempercayainya. Mengabaikannya. Morrie mencoba mengatakan sesuatu pada Mitch, bahwa dengan menyadari adanya kematian, kita bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda. 

“To know you’re going to die, and to be prepared for it at any time. That’s better. That way you can actually be more involved in your life while you’re living”

Morrie melihat dunia dengan segi yang berbeda setelah divonis hidup dengan penyakit ini. “Learn how to die, and you learn how to live,” ujarnya lagi… 

Tapi ada sebuah kebenaran setelah kita melihat bahwa kematian sudah semakin dekat, ujarnya. “If you accept that you can die at any time- then you might not be as ambitious as you are…
Identitas, 14 November 2013
Masih akan bersambung… Lama dibaca, karena bahasa inggris, bela.. ahahaha. 
Next chapter :
The fifth Tuesday – We Talk About Family
The sixth Tuesday – We Talk About Emotions
The seventh Tuesday – We Talk About The Fear Of Aging
The eight Tuesday – We Talk About Money
The ninth Tuesday – We Talk About How Love Goes On

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *