Bercengkrama Menikmati Senja di Air Terjun Parang Loe

Air Terjun Parang Loe
Perjalanan ke Parang Loe penuh dengan ketidaksengajaan. Berawal dari ide gila di Rumah Makan di Maumere, ada sebuah kalender yang memajang gambar air terjun Parang Loe di Gowa. Saya pun langsung memutuskan untuk pergi kesana. 
Tanda Bahaya
Ketika tiba di Makassar, saya langsung menghubungi teman yang paham tersebut. Karena banyak beredar cerita mistis di air terjun yang selalu memakan korban tersebut. Menurut rumor, air terjun ini seringkali meminta korban. Tahun lalu ada 4 orang yang jadi korban keganasan air bah. Karena itu ketika memasuki tempat wisata, ada papan pengumuman yang menyarankan agar pengunjung berhati-hati.

Oke, kembali ke cerita. Saya pun menghubungi Rudi jam 10 pagi. Ketika ia mengiyakan, saya pun langsung menghubungi Benjo. Karena saya tidak punya motor, dan saya yakin Benjo punya motor. Hahaha. Akhirnya junior saya di Identitas Cheny juga bersiap sedia untuk ikut berpetualang. 
Pukul 14.00 Wita kami berkumpul di Identitas, namun sempat berganti arah untuk menuju Rammang-rammang. Namun akhirnya kami memutuskan untuk tetap ke air terjun Parang Loe. Rudi memimpin jalan. 
tim gila!
Saya berboncengan dengan temannya Ara, Benjo dengan Ara, sedangkan Rudi sendirian. Selama perjalanan tidak terlalu menemukan hambatan yang berarti. Namun ketika di jalan menuju Malino ada jalanan yang rusak parah. Saya sempat terpeleset dan nyaris jatuh. Batu-batu besar dan debu mewarnai cerita perjalanan kali ini.
Kami pun tiba di Km 57 Parang Loe, masuk ke dalam pembibitan Inhutani. Dari sana kami harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki, karena memang jalannya tidak mungkin dilalui oleh kendaraan bermotor. Jika memaksakan pun, bisa dipastikan motor akan mengalami kerusakan. Jaraknya lumayan untuk menguras keringat, sekitar 2 km. Kami menempuhnya dengan waktu 45 menit hingga akhirnya kami bisa mendengar suara air terjun. Yaaattaa!! 😀
Dari tempat kemah, kami masih harus menuruni tebing yang lumayan curam. Kalau hujan, lebih baik berhati-hati jika ingin menuju air terjun ini. Jalanan yang masih berupa tanah sangat licin, hanya akar-akar pohon yang menjadi penahan tanah tersebut. Saya berjalan sangat pelan dan hati-hati, sambil menunggu rombongan di belakang. 
Kami pun tiba di air terjun bertingkat dengan selamat. Tanpa basa-basi lagi, kami langsung berfoto-foto. Saya sempat tertegun melihat keindahan air terjun bertingkat ini. Tidak banyak yang tahu jika di Gowa ada sebuah air terjun yang sangat cantik. Bahkan, orang Gowa sendiri juga tidak tahu dimana letak air terjun ini. Hahaha. 
Air terjun ini memiliki tingkatan yang mengalirkan air sungai jernih. Namun jika disini, kalian harus berhati-hati. Terkadang ada bagian sungai yang sangat dalam dan membuat anda bisa tenggelam. Belum lagi lumut licin yang menghiasi beberapa batu di sana.  Karena itu, kewaspadaan tinggi diperlukan dalam medan sulit seperti ini.
Saya selalu dibuat terpana oleh keindahan alam Pulau Sulawesi, selalu saja ada surga-surga tersembunyi di sekujur tubuhnya. Salah satunya air terjun Parang Loe ini. Belum lengkap rasanya jika datang ke Sulawesi Selatan dan belum melihat air terjun ini. 😀
Ketika kami datang, waktu sudah menunjukkan pukul 16.50 Wita, kami pun menikmati senja sambil bermain air disini. Semburat jingga memantulkan cahaya di tingkat atas air terjun. Indah sekali. Panaroma ini tidak akan saya lupakan dan membuat saya berjanji untuk datang kembali kesini. InshAllah..

Ayoo, #let’s explore Indonesia

ditulis di Perpustakaan Daerah Sikka
12:23 PM Sabtu, 17 May 2014

lagi ngenet grati, hahaha. 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *