Bersembunyi di Pantai Namasua

Ide untuk mengunjungi Pantai Namasua datang di dalam grup InstaNusantara Amboina. Dari obrolan sederhana, kami pun mulai membuat rencana untuk mendirikan tenda di Pantai Namasua. Kami memilih hari Jumat setelah pulang kantor menjadi waktu keberangkatan kami. Tim Pantai Namasua terdiri dari Om Eddie, Fuad, Kak Erna, Hendra dan saya sendiri. Kami berjanji bertemu di Polda. Salah satu anggota IN Amboina, Om Ebeth datang memberikan selamat sebelum kami pergi.
Perjalanan dari Ambon menuju Negeri Naku sekitar 30 menit menggunakan jalur Leitimur. Perjalanan menuju Naku harus hati-hati, karena saya beberapa kali melihat jalanan yang berlubang dan pinggir jalan langsung mengarah ke jurang. Jadi harus ekstra hati-hati dalam mengendarai motor.
gerbang Hena Naku sumber : google.com
Kami pun tiba di Negeri Naku, kami memarkir kendaraan di depan gapura bertuliskan Selamat Datang dalam Bahasa Naku. Oia, perlu diketahui setiap Negeri atau Hena memiliki aksen dan kosakata masing-masing. Selain dari bahasa, orang Maluku mampu mengenali orang dari nama marga (nama keluarga). Misalnya Atrasina Adlina Lestaluhu, orang-orang Maluku akan mengetahui bahwa saya berasal dari Tulehu. Keren kan? 😀
Kembali ke perjalanan kami, setelah menitipkan helm di rumah kepala desa. Kami pun meminta izin untuk mendirikan kemah selama semalam di Pantai Namasua. Berkat Fuad sehari sebelumnya telah datang kesini untuk meminta izin kepada kepala desa. Karena itu kami bisa memulai perjalanan menuju Pantai Namasua.
Dalam bayangan saya, pantai ini seperti pantai Ambon lainnya yang sangat dekat dengan jalanan. Namun bayangan saya salah, ternyata kami harus naik dan turun melewati jalan setapak. Kami melewati hutan untuk mencapai pantai. Benar-benar menakjubkan!
Sepanjang perjalanan saya berfokus dengan pohon-pohon yang ada. Saya melihat pohon cempedak, durian, manggis, rambutan dan pohon lainnya. Saya berharap, semoga ada buah-buahan yang bisa kami makan ketika berkemah disana.
Setelah 40 menit berjalan, kami pun tiba di Pantai Namasua yang tersembunyi. Pantai ini sangat tersembunyi, karena dikelilingi oleh tebing-tebing di sisi kiri dan kanan. Menurut warga setempat, pantai ini memiliki cerita gaib. Pernah ada seseorang yang tenggelam disini dan tidak ditemukan, dan baru ditemukan jauh dari bibir pantai. Jika ingin dibuat logis, arus bawah pantai ini lumayan kuat. Mungkin karena bentuk pantai yang menjorok ke dalam.
Jujur, saya merasa seperti memiliki pantai privat di Namasua. Kita dimanjakan dengan pasir putih dan air biru. Sayangnya ketika kami datang, visibility di dalam air sangat kurang. Padahal menurut warga, daerah ini menjadi salah satu lokasi penyelaman selain Pantai Hukurilla yang tidak terlalu jauh dari Negeri Naku.
Kami pun mendirikan tenda dan mulai memasak. Fuad dan Hendra datang ke rumah kepala desa untuk kembali meminta izin. Tak disangka, kepala desa malah datang bersama anaknya. Jadilah kami mengobrol mengenai asal usul Negeri Naku. Hingga akhirnya kami menemukan kesamaan bahwa anak pak kepala desa memiliki tanggal lahir yang sama dengan saya, 12 Januari 1991. Hahah. Saya sudah menemukan tiga orang yang muncul di dunia pada waktu yang sama. 😀
narsis dengan sodara kembar
Menurut cerita pak kepala desa, di pantai ini juga menjadi lokasi bertelur penyu. Malahan, anaknya yang pertama memasak telur penyu pagi tadi. LKesadaran masyarakat dalam menjaga populasi penyu memang belum terasa. Masih banyak warga yang mengonsumsi telur penyu ketika musim penyu bertelur. Selain dimakan, biasanya telur penyu laku dijual. Harganya sekitar 5 ribu untuk tiga butir telur.
Tak terasa kami telah mengobrol panjang hingga akhirnya obrolan kami harus berhenti karena hujan. Kami segera memindahkan tenda ke dalam bangunan semi permanen yang disediakan oleh pemerintah sebagai tempat bernaung. Karena Fuad hanya membawa satu tenda, tapi membawa tiga hammock. Saya dan kak Erna tidur di tenda, sedangkan yang lain tidur dengan hammock tingkat tiga.
Ketika fajar mulai menyingsing, pantai mulai diributkan oleh beberapa warga yang bersiap untuk melaut. Saat itu jam tangan menunjukkan pukul 05.40 WIT. Seorang bapak mulai memanaskan mesin kapal dan memeriksa kondisi kapalnya. Sedangkan si ibu, turut membantu mempersiapkan jaring yang akan digunakan sang suami. Ekor mata saya terus tertuju pada kedua orang tersebut, terlihat sangat menyenangkan.
Saya pun mengajak si ibu berbincang ketika sang bapak sudah melaut. Ibu Onco, beliau menyebut dirinya sendiri. Seingat saya, Onco adalah panggilan anak bungsu di dalam keluarga. Sepertinya ibu ini adalah anak bungsu di keluarganya. 😀 Menurut Ibu Onco, sang suami pergi mencari ikan terbang. Pada musim seperti
ini, ikan terbang atau biasa disebut tuing-tuing sedang banyak. Kalian tahu ikan terbang? Ituloh, ikan yang muncul di dalam iklan Indos*ar. 😀
tuing-tuing 
Selain menjadi nelayan, sang suami juga menjadi pekebun. Karena memang mayoritas penduduk Negeri Naku memiliki dua profesi. Tidak melulu menjadi nelayan, tidak melulu menjadi pekebun. Jika sedang musim panen, maka sang suami akan berkonsentrasi di dalam kebun. Pohon cempedak, cengkeh, dan pala menjadi komoditas utama daerah ini.
Tak lama, ketika waktu menunjukkan pukul 10.30 WIT beberapa kapal mulai merapat. Para ibu-ibu sudah siap dengan bakul kayu. Secara tiba-tiba pantai terasa penuh, Karena ibu-ibu yang datang membawa bakul. Ketika suami-suami mereka mendaratkan ikan, mereka langsung mengambil ikan dan memasukkan ikan di dalam bakul. Ibu Onco memberikan beberapa ekor ikan untuk kami, menurutnya ikantuing-tuing segar sangat bagus jika dibakar. 
Selain makan tuing-tuing bakar, kami pun memasak ikan tuna dan juga cempedak yang dipetik langsung dari pohonnya. Sarapan yang sangat spesial. 😀 Setelah puas mengambil gambar dan membersihkan sisa-sisa sampah, kami pun pamit dengan pak kepala desa dan anaknya. 
ditulis di Rumah Mbah, Depok
Kamis 23 July 2015 23:59 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *