Bersepeda di Amsterdam

Amsterdam merupakan ibukota dari Belanda dan menjadi spot favorit bagi para turis. Biasanya turis menggunakan bis atau berjalan kaki, kali ini saya mencoba meminjam sepeda dan berkeliling Amsterdam dengan sepeda.

Kenapa Memilih Bersepeda di Amsterdam?

Perjalanan ini diinisiasi oleh Dollah yang sedang datang dari Paris. Ia pernah menjadi guide dan tuan rumah selama kami di Paris. Ia ingin merasakan sensasi sebagai Amsterdamian yang naik sepeda kemana-mana. Awalnya kita ingin menitipkan tas Dollah di tempat penitipan barang. Ia memilih menitipkan barangnya di Lock Luggage Store yang hanya ditempuh dengan jalan kaki. Harga penitipannya adalah 5-10 euro per 24 jam tergantung besar atau kecilnya koper.

Setelah itu kami pun menuju Stasiun Amsterdam Centraal kembali untuk meminjam sepeda di OV-Fiets. Yang perlu diingat, proses peminjaman ini hanya bisa dilakukan jika kalian punya kartu OV-Chipkaart personal. Kalau gak punya OV-Chipkaart personal gak bisa minjam sepeda disini. Ada beberapa peminjaman sepeda di Amsterdam yang juga dikombinasi dengan tour. Yellow Bikes adalah salah satu jasa tur guide di Amsterdam yang bisa dicoba. Harga per paket 24.50 eur sudah lengkap dengan tur lengkap dan juga sepeda.

Tata Cara Meminjam OV-Fiets

Untuk pemakai OV-Chipkaart, kalian bisa mendaftarkan kartu kalian menggunakan link OV-Fiets. Setelah itu isi semua formulir secara online. Untuk mendaftar kita diharuskan membayar 0.01 eur sebagai pembayaran awal. Setelah itu kita bisa memakai sepeda OV-Fiets selama 24 jam hanya dengan 3.8 euro saja. Kalau di rental lain, kita membayar hingga 10 euro per 4 jam. Jadi gak bisa menikmati banget.

Asiknya lagi, setiap satu orang pemegang kartu, bisa meminjam dua sepeda sekaligus. Jadi kemarin saya menggunakan kartu saya, sedangkan Dollah ikut numpang di kartunya Lisana. Jadilah kami siap untuk mengelilingi Amsterdam selaiknya Amsterdamian.

Oia, buat teman-teman yang belum terbiasa naik sepeda dengan pedal break harus hati-hati. Karena memang sepeda di OV-Fiets dirancang tidak menggunakan rem tangan, jadi harus sangat berhati-hati. Saya ketika naik sepeda pertama kali langsung nabrak-nabrakin sepeda lain gara-gara gak bisa ngerem sepeda.

Menjadi Amsterdamian

Yang harus diingat saat naik sepeda di Amsterdam kita membutuhkan konsentrasi tinggi. Di menit-menit pertama naik sepeda disana, saya tak memegang apapun di tangan. Biasanya ketika saya naik sepeda di Wageningen, seringkali saya melepas kedua tangan sembari main handphone. Tapi selama di Amsterdam, saya sangat takut akan menabrak sesuatu, jadi fokus saya selalu ada di depan stang sepeda. Hahah. Pas deket lampu merah, saya sudah ngerem sejak jauh-jauh. Sehingga membuat pengendara sepeda lain malah hampir menabrak bagian belakang sepeda. Pokoknya jangan main hape kalau gak biasa dengan sepeda tanpa rem tangan dan juga dengan keramaian yang sangat membuat pusing.

Karena di jalan raya, selain sepeda, kita akan berpapasan dengan mobil, motor, tram, bis dan pejalan kaki. Perhatikan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Jika ragu dengan rambu lalu lintas, ikuti pesepeda di depan kita agar tidak tersesat.

Kota Seribu Kanal

Datang ke Amsterdam, masih kurang rasanya jika tidak mengunjungi mengunjungi kanal-kanal Amsterdam yang sangat terkenal. Ada beberapa titik kanal yang wajib banget jadi spot foto saat datang ke Amsterdam. Spot kanal terkenal yaitu Singel, Herengracht, Keizergracht, dan Prinsengracht.

Selain di Amsterdam, ada sebuah kanal terbaru yang dibangun di Java Island, dekat dengan IJ Harbor yang dibangun pada tahun 1995. Namanya diambil dari nama-nama kota di Indonesia, yaitu Brantasgracht, Lamonggracht, Majanggracht, Seranggracht.

Guru renang saya di Belanda mengatakan semua anak kecil di Belanda wajib bisa berenang. Karena banyak sekali kanal-kanal yang ada di Belanda. Kalau mereka tidak sengaja terjatuh, mereka bisa menyelamatkan diri mereka tanpa bantuan orang tua. Karena itu jangan heran, sejak bayi, para bayi-bayi ini dilatih berenang dan terbiasa dengan air.

Patung Multatuli di Amsterdam

Di Belanda, ada sosok Multatuli atau Douwes Dekker yang menjadi salah satu orang Belanda yang mengecam kolonialisme di Dutch East Indies atau Indonesia. Beliau yang menulis buku dengan nama samaran Max Havelaar atau yang berarti I have suffered much (saya telah banyak menderita). Ia diakui sebagai salah satu penulis Belanda yang hebat. Hingga pemerintah Belanda membuat patung sebagai pengingat.

Patung ini bisa ditemukan di daerah Torensluis, berdekatan dengan kanal Singel yang terkenal. Disebelahnya banyak deretan coffee shop yang bisa dicoba bagi para turis. Tapi karena kami pejalan kere, jadilah kami mencari tempat lain untuk dijelajahi.

Lorong di Kota Amsterdam

Amsterdam ternyata menyimpan sudut-sudut kota yang sangat menarik dan jarang dikunjungi jika berjalan kaki. Jadi jika ingin menikmati sisi-sisi Amsterdam yang jarang dilewati bisa memilih untuk naik sepeda disini. Kami melewati beberapa lorong rumah yang sangat asri dan sangat cocok dijadikan tempat untuk membaca buku sambil menyesap secangkir kopi.

Wrap Up?

Selama naik sepeda di Amsterdam harus extra hati-hati. Kalau gak terbiasa dengan pedal brake, saya sarankan cari peminjaman sepeda yang punya rem tangan. Kalau tidak terbiasa naik sepeda, saya sarankan cari lokasi yang tidak mengarah ke arah keramaian. Bisa memilih lokasi taman-taman kota ataupun pinggir kota Amsterdam.

 

ditulis di Beringhem

12:34 CET Thursday, 10 July 2018

sambil lihat video Zohri yang menang lari 100 m sedunia.

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.