Cara Hemat Menuju Air Terjun Rumah Kay, Seram

I Love It!
Setelah perjalanan panjang dari Pulau Buru, saya dan Hastuti melakukan perjalanan yang lumayan melelahkan. Karena perubahan rute, Kapal Motor Temi berhenti di Pelabuhan Liang. Padahal biasanya berlabuh di Pelabuhan Galala. Sebelum tiba di Pelabuhan Liang, saya pun segera menghubungi teman-teman yang berdomisili di Ambon dan pernah mengunjungi Air Terjun Rumah Kay. 
Pukul 7 pagi, kami pun bersiap menaiki kapal fery menuju Pelabuhan Waipirit di Pulau Seram. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk tiba di Waipirit. Harga tiket per orang dikenakan Rp. 13.500. Jika menggunakan mobil pribadi biayanya menjadi Rp. 145.000, untuk motor dikenakan biaya Rp. 30.000. 

kapal fery menuju Waipirit
Setelah tiba di Pelabuhan Waipirit, kami pun berjalan kaki menuju pom bensin dan melihat sebuah sawah. Kami juga mulai merencanakan perjalanan kami dengan cara hitchiking menuju air terjun. Oia, menurut kamus bebas di om Google, Hitchiking bisa diartikan ask for or try to obtain (something) from someone andget (a free ride) along a road. Blah blah blah. Sebenernya hitchiking sendiri adalah sebuah seni perjalanan yang mulai digemari sejak tahun 1980. 
Dengan menunjukkan jari jempol, biasanya akan ada kendaraan yang berhenti dan bertanya kemana kita akan pergi. Saya pun mencobanya, sebuah mobil Inova berhenti di depan kami dan bertanya kemana arah tujuan kami. Kami disuruh naik dan setelah ngobrol, ternyata bapak ini adalah seorang supir kendaraan sewa. Ia pun mulai menawari dan menakut-nakuti kami bahwa jarak antara jalan utama ke air terjun sangat jauh. Butuh mobil untuk tiba di air terjun. Tapi kami keukeuh untuk tetap melakukan perjalanan tanpa mobil sewaan. 
sawah di Gemba
Kami diturunkan di pasar Gemba dan diarahkan untuk naik mobil angkutan menuju Rumah Kay. Kami pun nurut dan naik ke sebuah mobil berwarna pink. Butuh waktu lama hingga mobil Kijang model  lama penuh dan akhirnya berangkat. Isinya hanya tujuh orang dan kami berdua duduk di tengah mobil. Selama perjalanan sang supir bercerita kepada kami, mengenai longsor dan banjir besar yang melanda Pulau Seram beberapa tahun lalu. 
Pada medio Agustus 2012, karena hujan yang terus menerus mengguyur, akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Banjir besar melanda seluruh Pulau Seram. Jalan trans Seram tak bisa dilewati dengan kendaraan darat. Setiap sungai besar yang dilalui, ada sebuah kapal yang akan mengangkut motor ke seberang. Karena itu jangan heran jika pada saat itu, untuk mencapai desa ke desa lainnya bisa menghabiskan uang hingga ratusan ribu rupiah. Menurut Pak Abdul, sekali jalan menuju desa di Masohi lewat jalan darat, bisa merogoh kocek hingga Rp.600.000. 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dan membayar Rp. 25.000 , kami pun tiba di Desa Rumah Kay. Kami berhenti tepat di sebuah prasasti yang menjadi pintu selamat datang di Air Terjun Waitetu, Rumah Kay. Dari jalan utama, kami pun berjalan kaki. Padahal saat itu, sedang bulan puasa. Heheh. Selama berjalan kaki, saya menemukan banyak pohon-pohon buah, seperti durian, rambutan, manggis, duku, pisang, dan buah lainnya. Namun ada sesuatu yang menarik, yaitu sebuah plang yang menunjukkan bahwa kelapa dan rambutan sedang dalam masa Sasi Gereja. 

diantara pohon-pohon buah

Sasi Gereja adalah sebuah adat istiadat yang digunakan turun temurun untuk menjaga kelestarian sebuah sumberdaya. Bermacam-macam jenis sasi, ada sasi ikan, sasi kelapa, sasi rambutan, dan sasi lainnya. Jika dilanggar maka akan diberikan sanksi oleh gereja setempat. Peraturan ini sudah disiarkan di mimbar gereja oleh pendeta ataupun majelis jemaat. 
Akhirnya kami pun tiba di air terjun Waitetu. Sebuah air terjun yang memiliki tinggi sekitar 100 meter ini seperti tidak dirawat. Hal ini dikarenakan banjir besar yang juga merusak kawasan wisata Air Terjun Waitetu. Saat ini tidak ada perbaikan yang dilakukan. Tapi jujur, saya malah lebih suka seperti ini, karena terlihat lebih asri dan menenangkan. 
pertanda bahwa kelapa sedang di sasi oleh gereja setempat
Kami menghabiskan waktu untuk shalat Dhuhur disana dan pukul 12.30 WIT kami pun segera bergegas. Karena kami takut tidak mendapatkan kapal fery untuk pulang ke Ambon. Kapal fery dari Waipirit berhenti beroperasi pukul 20.00 WIT. Apalagi kami
tidak tahu, apakah ada mobil yang bisa membawa kami ke Pelabuhan Waipirit tepat waktu. 
Setibanya di jalan utama, kami memborong durian seram seharga 50 ribu untuk 8 buah durian. Selain durian, kami pun membungkus rambutan dan dukuh. Hahah. Ini namanya belanja buah-buahan. Buka puasa pake buah. 😀
Tak lama kemudian, ada sebuah truk pengangkut barang yang lewat. Kami pun menunjukkan jari jempol. Dan truk pun berhenti! Yeay! Kami pun bergegas menaiki truk yang membawa pisang. Sang supir ternyata punya istri yang berdarah Sunda. Pak Darto ternyata suka bercerita, kami pun bertukar kisah sepanjang perjalanan. Haha. Ternyata ia pernah berkunjung ke daerah istrinya yang notabene bertetangga dengan Bojonggede. 😀 Ah ternyata dunia memang begitu sempit.
numpang truk. hihihi.
Kami pun turun di Pelabuhan Waipirit tanpa membayar sepeser pun. Jadi anggaran yang digunakan untuk ke air terjun Waitetu hanya 100 ribu, sudah include dengan angkot ke Ambon dari Pelabuhan Hunimua dan juga buah-buahan yang kami beli. 😀 Saya mencatat perjalanan ini menjadi salah satu perjalanan seru dalam hidupku. 
Thanks to Tuti yang udah mau gila-gilaan. 😀
Ditulis di Kantor Kak Agus, Pejaten
Jumat, 14 Agustus 2015 23:05 WIB
Sambil denger lagu Boyce Avenue yang Let Her Go! I need to let him go.. 😀

air terjun Waitetu

kayu-kayu bekas banjir besar tahun 2012

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *