5 Alasan Memilih Student Housing dengan Shared Facilities di Wageningen

Shared Facilities vs Self Contained Untuk para mahasiswa internasional di Wageningen University, sering kali kita diberikan pilihan untuk tinggal di kamar dengan shared facilities atau self contained. Apa sebenarnya kamar dengan shared facilities dan self contained? Kamar dengan Shared Facilities harus berbagi dengan penghuni kamar lainnya. Contohnya saja jika memilih tinggal di Asserpark, kita akan berbagi kamar mandi dan WC bersama 6 penghuni lainnya. Selain itu ada Living Room dan Kitchen yang digunakan bersama-sama. Sehingga terjalin keakraban antara penghuni koridor tersebut. Ada beberapa tipe building yang ditawarkan oleh Idealis (managemen perumahan […]

Continue Reading

24 jam Jakarta – Wageningen . . It’s not good bye

12 Agustus 2017 20 Jam Sebelum Keberangkatan Seharusnya ini jadi ulang tahun Ayah yang ke 64 bersama dengan anak-anaknya. Seharusnya ini jadi ulang tahun yang menyenangkan baginya. Karena sangat jarang anak-anaknya berkumpul lengkap berenam. Saya yang seringkali meninggalkan rumah, Milzam yang sebentar lagi akan membuat ‘rumah kecil’ baru, Hany yang memilih untuk tinggal di Ibukota, Majid yang bercita-cita sebagai koki dan harus rela pulang pergi, Azizah yang sedang mengejar impiannya dan si Bungsu Maulana yang menetap di Pesantren. Tapi ternyata di ulang tahunnya, Ayah malah harus kembali merelakan anaknya “pergi” lagi. […]

Continue Reading

Lagu Indie Wajib Dengar dikala Merantau

Saya menulis ini ketika membuka jendela kamar di lantai 10. Udara pagi masih menusuk ke rusuk. Saya melihat jam tangan. Pantas saja masih dingin, jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Tidak ada suara kokok ayam seperti di rumah. Sepi. Sangat sepi. Lagu Akad milik Payung Teduh menemani pagiku sama seperti kemarin. Mendengarkan musik membawa kenangan di saat pertama lagu itu diperdengarkan. Saya masih terngiang-ngiang suatu sore di Lephas Universitas Hasanuddin. Duduk bersama Pak Alwi Rahman dan ia bercerita tentang bagaimana musik merupakan sebuah lubang. Ia menyimpan kenangan. Ingatan yang tak lekang. Setiap […]

Continue Reading

viuGraph, Aplikasi Kekinian Milik Anak Bangsa

Saat ini setiap orang memiliki setidaknya dua aplikasi media sosial di dalam handphonenya. Mulai dari Path, Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan beragam aplikasi lainnya. Pasti sudah banyak review tentang media sosial tersebut, nah kali ini saya mau membahas sebuah aplikasi milik anak bangsa. Kayak apa sih media sosial milik orang Indonesia ini? viuGraph namanya. Cukup singkat namun mudah diingat. Mungkin pembuatnya memikirkan kata “view” namun diplesetkan jadi lebih kekinian. 🙂 sekilas, aplikasi ini sangat mirip dengan Instagram yang sedang booming. Aplikasi ini diluncurkan di tahun 2017, jadi masih sangat baru dan […]

Continue Reading

Mimpi Ayah dan Bunda Memasuki Usia Senja

Manusia hidup seringkali dikendalikan oleh impiannya. Manusia banyak melakukan cara agar bisa mencapai apa yang diinginkannya. Sama seperti Bunda, di umurnya yang mulai menua, keinginan Bunda agar bisa mengunjungi Tanah Suci semakin menggebu. Beberapa kali keinginannya itu diutarakan secara langsung. “Bunda ingin sekali bisa naik haji, atau minimal bisa umroh,” ujarnya. Mimpi itu semakin hidup akhir-akhir ini. Apalagi ketika beliau menyinggung mengenai sepetak tanah yang besarnya tak seberapa. Beda lagi dengan Ayah, walaupun tak terlalu menampakkan citanya, tapi saya yakin ada yang berdesir di dadanya jika mendengar kata Haji. Sudah ratusan […]

Continue Reading

Tips Agar Tak Merasa Sendirian, Jika Tak Mudik

Merantaulah, maka kau akan tahu betapa mahal tiketmu untuk pulang Adagium tersebut seringkali kita temukan berseliweran di timeline media sosial. Seolah menjadi pembenaran bagi seseorang untuk merantau dan akan kelabakan ketika rasa rindu ingin pulang. Saya adalah satu yang mengaminkan adagium tersebut. Masih lekat dalam ingatan, ketika saya menangis sesugukan di pojok rumah. Apa pasal? Orang tua saya tak mampu membelikan tiket pulang ke Jakarta. Karena kebetulan di tahun itu, waktu lebaran sangat dekat dengan waktu pendaftaran. Saya yang datang di bulan Agustus, dan lebaran jatuh di tanggal 1 Oktober. Terlalu […]

Continue Reading

Mendokumentasikan Proses Kehidupan

Setiap manusia pasti akan mati. Jadi ketika masih diberikan masa hidup, harus banyak-banyak memberi arti. Mungkin terdengar klise, namun itulah yang terjadi ketika saya memutuskan membuat blog ini di tahun 2009. Saat itu saya hanya anak bau kencur dari Bogor yang berkuliah di Makassar. Cerita di blog hanya berkutat tentang cinta. Saat itu saya sedang jatuh cinta. Lihat saya postingan kedua di dalam blog saya : guw makin kagum ama dia. What the? Hahah. Tulisan alay dan sangat tidak tertata. Tapi saya tahu persis siapa orang yang saya kagumi saat itu. […]

Continue Reading

Cinta di Semangkuk Mie Rebus

Sama seperti malam sebelumnya, kita pulang di waktu yang berbeda. Jam tangan hitam di pergelangan tangan baru menunjukkan pukul 21:45 . Kita sepasang manusia yang sibuk mengejar kehidupan. Waktu seakan berlarian di sekitar kita. Begitu cepat. Cahaya mentari pagi menyeruak lembut dari jendela kamar dan kita kembali saat gelap menghiasi langit. Sedari pagi kita berpisah, hanya dengan menyalami tanganmu dan kecupan lembut di dahiku yang mengantar aktifitas kita di pagi hari. selain doa tentunya yang kita rapal dalam diam sambil berharap agar hari ini kita baik-baik saja. Setelah itu rutinitas berkejaran […]

Continue Reading

Ayah Cinta Pertama

Daddy is a daughter first love. Mungkin kata-kata itu adalah yang paling tepat dialamatkan untuk ayah. Seorang laki-laki pertama yang saya kenal di dunia ini. Seseorang yang mengadzankan telingaku untuk pertama kali. Seseorang yang sibuk mencari nama untukku. Awalnya Ayah memberiku nama Nur Adlina Nubla, entah apa artinya. Hingga akhirnya saran lain datang dan menjadikanku terlahir dengan nama Atrasina Adlina. Dalam nama itu ada doa panjang yang ia rapalkan. Ayah adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir dengan wajah Ambon yang sangat kental. Kulitnya cokelat, bola matanya hitam. Dulu Ayah […]

Continue Reading

Wae Merkuri di Pulau Buru

Semua mengenal Pulau Buru sebagai tempat pengasingan para tahanan politik di masa Orde Baru. Pulau ini menjadi tempat yang digunakan oleh pemimpin rezim untuk menyingkirkan lawan politiknya. Banyak orang yang dibuang begitu saja kesana. Di tahun 1969, ratusan orang menembus rimba di Buru. Tepat tanggal 17 Agustus, di hari kemerdekaan. Banyak tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan, diasingkan di pulau yang terpencil, dan meninggalkan keluarga di pulau Jawa. Mak tak heran jika di masa kini, banyak turunan Jawa yang berasal dari tahanan politik dan mereka masih bertahan disana. Pulau Buru […]

Continue Reading