Cerita Malam Minggu Kelabu

Jam tangan menunjukkan pukul 20.00 Wita. TV saya biarkan menyala di ruang tamu tanpa ada yang menontonnya. Sedangkan saya memilih untuk menyendiri di kamar sambil melihat apa yang dilakukan oleh teman-teman saya di tempatnya masing-masing. Ada yang sedang memposting anaknya. Ada yang sedang bertemu dengan genk-nya di sebuah cafe. Ada yang sedang berjalan-jalan di sebuah daerah baru. Ada juga yang sedang membuat kue bersama pacarnya. Sedangkan saya? Hanya duduk diam sambil minum air dingin dan diam-diam melihat aktivitas mereka di sebuah jejaring sosial.
 
Bisa dikatakan saya sedang mengalami penyakit kejiwaan akut. Melihat timeline facebook dan terus menerus membacanya berulang-ulang. Seakan ingin menikmati apa yang teman-teman saya lakukan di seberang pulau sana. Dan tiba-tiba saya pun secara spontan menuliskan status yang mengungkapkan isi hati saya saat ini. 

kita baru sadar bahwa kita mencintainya, tepat di saat kita kehilangannya. 

Kangen saat2 di Makassar, yang bisa wara-wiri seenak udel sampe tengah malam. Kalau sakit ada teman-teman yang bisa langsung datang, kalau laper ada yang mau traktir makan atau belikan gorengan di warung sebelah. Dan yang terpenting adalah kalau makan bisa ngutang dan dibayar keesokan hari. 

Ternyata kesendirian itu mengajarkan pentingnya kebersamaan yang sudah saya lalui selama lima tahun ini.  #hiks

menurut saya status tersebut membuat saya kembali mengenang apa yang sudah saya lakukan selama lima tahun kebelakang. Sebuah fase kehidupan yang tidak akan saya lupakan. Sebuah fase yang banyak mengajarkan saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Sebuah fase yang menciptakan tanda-tanda baru untuk menapaki fase kehidupan lainnya. 
Tiba-tiba ketika menuliskan ini, saya rindu dengan kebiasaan saya di Makassar. Jika sudah penat dengan apapun, saya akan segera berjalan-jalan entah kemana kaki membawa saya. Bisa jadi saya memilih sarapan di Kantin Kolong Ekonomi, makan coto di Jasa Pertanian (Jasper), pergi menikmati danau Unhas, atau bahkan ngutang di Kantin Kelautan. Banyak pilihan yang bisa saya lakukan disana. Seperti ada nadi di dalam setiap gerakannya. 
Entah, tapi saya rindu dengan riuh dan gelak tawa teman-teman Ilmu Kelautan. Gelak tawa yang tercipta karena hal-hal sepele. Misalnya berebutan makan siang yang dibawa oleh salah satu teman, ngerjain tugas, saling calla di jejaring sosial, atau karena saya melarang beberapa dari mereka untuk tidak merokok. Benar-benar rindu kalian. Kepenatan yang tercipta disini menciptakan sebuah ilusi bahwa kalian ada disini. 
Belum lagi teman-teman di Penerbitan Kampus Identitas. Sebuah keluarga yang indah tiada tara. Kalian adalah tempat saya berlabuh ketika layar dan kapal saya sedang rusak. Tempat yang menenangkan dan membuat nyaman. Saya bisa betah duduk berlama-lama dari pagi sampai sore di depan laptop sambil melihat kegiatan yang ada di rumah kecil. senang rasanya bisa menjadi bagian kecil tersebut. 
Saya rindu rutinitas pagi untuk mengayuh sepeda dari kost sampai ke kampus. Walaupun debu banyak, tapi itu yang buat seru. Atau juga opsi untuk berjalan kaki dari Perdos ke kampus. Biasanya ketika saya sudah mencapai Pintu 1, akan ada seseorang yang baik hati dan mengantarkan sampai di fakultas tercinta. 
Sesampainya di fakultas, saya akan mengambil kunci laboratorium Toksikologi Laut dan duduk manis di dalamnya. Jika bosan, saya bisa langsung menuju kantin Dg Te’ne (sekarang dikelola sama Dg Bunga) atau Mone. Biasanya saya akan mengambil bakwan atau memesan seporsi mie goreng dengan tambahan cabe rawit. Setelah puas makan, saya akan mengatakan “Besok ya bayarnya, Dg Te’ne?”, hahaha. Kalau ada senior yang sedang datang di kantin, saya pun akan memintanya untuk membayarkan seporsi mie goreng tersebut. Sebuah kegiatan harian yang menyenangkan! 😀
Setelah kembali ke laboratorium, biasanya akan ada yang datang. Kita bercerita tentang apapun. Saling melucu dan saling calla’. Tapi itulah yang menyatukan dan menguatkan kita. Saya rindu dengan setiap percakapan kita. Belum lagi jika ada yang berbaik hati membelikan gorengan untuk dimakan bersama-sama. Sebuah memori yang tidak akan terlupakan. 😀
Setelah puas berselancar di dunia maya, pukul 18.00 Wita ketika pintu fakultas akan dikunci dan Pak Achi teriak-teriak dari kejauhan, kami pun baru kembali ke peraduan masing-masing. Saya kembali beristirahat di rumah kecil. sebuah tempat nyaman walaupun banyak nyamuk. Hahaha. 
Sudahlah, kenapa saya jadi curhat disini? 😀
ditulis di Kamar Kost Wuring, 15 Februari 2014 20.00 Wita
Ketika ditinggal sama Mas Anang dan Mas Firman malam mingguan. Hiks. Di kamar sendirian…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *