Cerita Masa Kecil Dahlan Iskan

Novel Sepatu Dahlan berhasil membuat saya tergugu dan berurai air mata. Kemiskinan menjadi sebuah cambukan bagi seorang Muhammad Dahlan. Masa kecil yang ia habiskan di Kebon Dalem, membuat ia menjadi sosok yang kuat dan berwibawa pada saat ini. Sifat tegas ia dapatkan dari ayahnya, Iskan. Sedangkan pembawaannya yang kalem ia turunkan dari ibunya. 
Cerita bermula ketika Dahlan memasuki ruang operasi, dimana ia akan menjalani sebuah operasi penggantian hati atau biasa dikenal dengan transplantasi hati. Ketika ia dibius, ia memasuki dunia masa kecilnya. Kenangan tentang nikmatnya sebuah kemiskinan…
Kisah Dahlan yang sangat menginginkan sebuah sepatu dan sepeda menjadi alur utama buku ini. Di dalam buku novel Sepatu Dahlan, Khrisna Pabichara menceritkan kehidupan Dahlan. Lika-liku hidup beliau dalam memperoleh sepatu. Apapun ia lakukan demi membeli kedua hal tersebut, nguli nyeset (membuang daun tebu yang sudah menguning, biasanya di bagian daun paling bawah), ngangon (menggembala) domba-domba milik tetangganya yang sudah 28 ekor, atau pergi mencari makanan untuk dombanya. Hal ini ia lakukan sejak ia masuk di Sekolah Rakyar (SR) Bukur. 
Walau seringkali uang yang ia simpan habis untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, minyak, gula, garam, teh, gula dan kopi. Ia memberikan uang tersebut kepada ibunya, walau tak pernah diminta. Ia selalu senang membantu ibunya yang pada akhirnya harus pergi meninggalkannya ketika ia masuk SMP.
Yang harus diingat, walau anak-anak di Kebon Dalem miskin, namun hal itu bukan penghalang untuk menuntut ilmu. Itulah yang membuat ayah Dahlan menyanggupi ketika anaknya ingin bersekolah lebih tinggi. Dahlan ingin melanjutkan sekolah di SMP Magetan, tapi jaraknya yang sangat jauh (15 kilometer) dan ketiadaan biaya, membuat Dahlan kecil memilih Tsanawiyah Takeran sebagai tempatnya menimba ilmu.
Di sekolahnya yang baru ia mendapat sebuah kesempatan baru lewat olahraga voli. Dan keinginan untuk memiliki sepatu semakin kuat. Olahraga voli membutuhkan sepatu sebagai penyangga kaki dan tumit. Dan Dahlan adalah kapten yang tidak bersepatu dalam pertandingan antar sekolah saat itu. Hingga akhirnya ia mendapatkan hadiah sepatu dari teman perempuannya, tapi sepatu yang ia pakai sungguh sakit. Berdarah dan luka sobek akibat sepatu yang kekecilan. Namun berkat kegigihan walau tak bersepatu, Dahlan dkk berhasil mengharumkan naman Pesantren Takeran. Mereka menggondol juara pertama. 
Prestasi itu rupanya terdengar ke penasehat SMP Magetan, Dahlan diminta untuk menjadi pelatih. Bayarannya cukup fantastis kala itu, Rp. 10.000. Ia bisa memenuhi keinginannya untuk memiliki sepatu yang saat itu harganya sekitar Rp.45.000. Ia pun menyicil sepeda milik temannya selama 3 bulan dengan harga Rp. 12.000. 
Diakhir cerita Dahlan dibuat galau oleh perempuang bernama Aisah. Ia dituntut untuk kuliah, ah parah benar. Tapi toh Dahlan mengikutinya dan memintanya untuk bertemu di stasiun pukul 9. Dan itulah akhir cerita dari novel ini. Yang perlu diingat novel ini bersifat fiktif, ada yang asli namun ada juga yang palsu. Jadi, ambil saja hikmahnya. Misalnya tentang larangan merawat sebuah luka atau hikmah untuk terus berusaha. 
Novel ini saya rekomendasikan bagi orang yang sedang butuh asupan inspirasi dan gizi tentang kesederhanaan. Sebuah kisah indah tentang perjuangan…
Dibuat ketika hujan, hujan diluar dan “hujan” diwajah.
Sabtu, 30 Desember 2012

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *