Cerita Rumah Sakit #4 (Jabat Erat Hangat)

Rasanya saya mendapatkan energi positif setiap kali ada penunggu pasien yang menjabat erat tangan saya dan bilang “Alhamdulillah, Bapak sudah boleh pulang hari ini,” ujar ibu berjilbab merah berbahagia. Seingat saya, ia sudah menunggui suaminya sejak 4 hari yang lalu. Kami beberapa kali bercerita tentan keadaan pasien yang kami jaga. Dan kabar gembira itu membuat saya berfikiran positif untuk terus berdoa akan kesembuhan Datuk. 
Dari puluhan penunggu pasien, hanya ada dua orang ibu-ibu yang selalu menemani saya dan Nini. Mereka sudah menemani suaminya sejak 2 minggu yang lalu. Kami selalu berbagi cerita dan berbagi kekuatan. Namanya Ibu Siregar dan Ibu Diana.
Bapak Siregar memiliki masalah di jantungnya. Ada cairan di jantungnya, sehingga butuh dikosongkan terus menerus setiap hari. Sehingga selama dua minggu ini, setelah dioperasi tiga hari yang lalu, keadaan Bapak berangsur-angsur membaik. Menurut cerita Ibu Siregar, Bapak sudah mulai bersedih karena teman sekamarnya sudah pulang satu per satu. Ia adalah pasien terlama di ruangan 3143. Dalam satu ruangan ada 8 pasien yang mengalami masalah jantung. 
Sedangkan suami Ibu Diana, berada di kamar 3145, sekamar dengan Datuk. Ia tidur di ujung ruangan, dekat pintu. Seingat Bu Diana, suaminya tidak pernah merokok. Penyakit jantung itu disebabkan oleh kesukaan suaminya dengan olahraga futsal, namun setelah tinggal di Ruteng selama beberapa lama, ia jarang beraktivitas. Dan sekembalinya tugas di Jakarta, ia pun segera melakukan olahraga kesukaannya. Tepat setelah bermain futsal, ia pingsan dan diagnosa urat jantung putus karena kelelahan. Awalnya ia diperiksa dan Dokter menunjukkan urat jantung yang putus dan harus disambung, namun beberapa hari yang lalu ia didiagnosa memiliki tumor di jantungnya. 
Dua wanita tegar ini selalu berusaha tersenyum di depan suami mereka. Saya tidak pernah melihat mereka berdua menangis. Mereka berdua pun saling menguatkan. Setiap kali salah satu dari kita keluar dari ruang intermediate, kita akan saling bertanya “Bagaimana keadaan Bapak, bu?” Dan kemudian cerita pun mengalir kembali… Aura positif selalu muncul dari mereka berdua.
Tapi ketika suami ibu Diana, sempat hilang kesadaran, ia duduk di pojok ruangan mushalla dan berdoa untuk suaminya. Saya melihatnya dengan hati trenyuh. Sebagai keluarga yang menunggu pasien, saya betul-betul merasakan, apa yang dirasakan oleh beliau. Pada hari kamis minggu lalu, Datuk sempat kritis dan menceracau tidak jelas. Saya menangis saat itu, dan Bu Diana menguatkan saya. “Jangan menangis, tapi berdoa,” ujarnya. Saya mengingat jabat tangannya di depan pintu ruang 3145. 
Dan siang ini, Bu Siregar menangis. Ia menangis bahagia. Bapak Siregar sudah diperbolehkan pindah ke ruang perawatan di gedung sebelah. Artinya, ia sudah membaik dan berangsur pulih. Ia menjabat erat tangan saya dan bilang “Alhamdulillah Bapak sudah boleh pindah ke ruang perawatan, tolong doakan terus ya, nak”, ujarnya sebelum pergi sambil mengusap air mata.
Saat ini, sisa saya dan Bu Diana yang menjadi penghuni lama ruang tunggu lantai 3. Namun inshaa Allah, saat tulisan ini dibuat, sejam lagi, Datuk akan keluar dari rumah sakit. Dokter telah memberikan ijin untuk rawat jalan. Dan tugas saya untuk menjabat erat tangan Bu Diana dan menguatkannya untuk menunggu suaminya. Saya yakin, suaminya berbahagia memiliki istri sebaik dia. 
ditulis di ruang tunggu Intermediate 
Kamis, 10 September 2015 12:11

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *