Cinta di Semangkuk Mie Rebus

Sama seperti malam sebelumnya, kita pulang di waktu yang berbeda. Jam tangan hitam di pergelangan tangan baru menunjukkan pukul 21:45 . Kita sepasang manusia yang sibuk mengejar kehidupan. Waktu seakan berlarian di sekitar kita. Begitu cepat. Cahaya mentari pagi menyeruak lembut dari jendela kamar dan kita kembali saat gelap menghiasi langit.

Sedari pagi kita berpisah, hanya dengan menyalami tanganmu dan kecupan lembut di dahiku yang mengantar aktifitas kita di pagi hari. selain doa tentunya yang kita rapal dalam diam sambil berharap agar hari ini kita baik-baik saja. Setelah itu rutinitas berkejaran dengan manusia lainnya yang menuju ibukota. Peluh keringat menjadi teman setia di setiap pagi.

Stasiun Pondok Cina namanya. Sepertinya dulu tempat ini merupakan tempat peristirahatan bagi orang Cina yang berdagang di sekitar Depok. Menurut sejarah, para pedagang ini membangun pondok-pondok sebagai tempat istirahat. Mereka yang mengambil barang di Depok untuk dikirim ke Jakarta pada masa itu. Sepertinya Pondok Cina ini ditakdirkan menjadi tempat singgah kita sementara sebelum kita berdua pergi ke tempat yang lebih asing lagi.

Setibanya di kantor, terkadang kita saling berbalas pesan. Entah hanya untuk menanyakan kabar. Setelah itu kita berdua akan tenggelam dalam aktifitas harian yang memang menyita waktu. Terkadang sekelebat pikiran tentangmu datang, tapi tak lama.

Hingga tak terasa jam pun menunjukkan pukul lima. Kita pun berkejaran lagi menuju Pondok Cin(t)a. Menyeruak di antara lautan manusia yang ingin berkumpul dengan keluarganya. Sama dengan kita yang menyimpan ratusan cerita untuk saling diceritakan di pondok kecil kita.

Senja pun mewarnai langit Ibukota. Semburat jingga menyeruak di antara bangunan tinggi menjulang. Stasiun tempat saya berdiri semakin bertambah penuh setiap menitnya. Rasanya manusia tak henti-henti datang, hingga akhirnya mereka pergi ketika kereta membawa mereka.

Kita berjanjian bertemu di stasiun itu. Ketika bertemu rasanya ada yang bergejolak. Sepertinya malam ini akan ada sesuatu yang menyenangkan. Dan benar saja ketika waktu menunjukkan pukul 21:45, saya segera membuka sebungkus mie rebus rasa ayam bawang. Memetik beberapa cabai segar dari pertanian Cipanas, memotong daun bawang dan seledri, serta tak lupa memecah telur untuk diletakkan di dalam wajan. Bau segar daun bawang dan cabe mulai menyeruak memenuhi isi kamar.

Setelah 15 menit berkutat di depan perapian, mie rebus pun matang. Karena kamu tak ingin banyak makan, saya pun membagi satu bungkus mie rebus untuk kita berdua.

โ€œEntah kenapa rasa mie instan mu punya kekhasan yang berbeda. Enak banget. Saya saja tidak mungkin buat mie rebus yang seenak ini,โ€ katamu hari itu. Padahal sudah beberapa kali saya membuatkan mie rebus, tapi katanya ini yang paling enak. Kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Saya tertawa terbahak, bahkan hampir tak percaya.

โ€œDasar gombal! Paling besok minta dibikinkan mie rebus lagi,โ€ pikirku saat itu. Haha. Karena tak percaya, saya pun mulai memakan mie rebus tersebut.

Ternyata jika mie rebus dimasak dengan cinta, rasanya pun menjelma menjadi makanan dewa. Kami pun dengan lahap menghabiskan hingga kuahnya tak bersisa.

Terima kasih mie rebus

Ditulis di kamar kost tercinta

23:57 WIB Jumat 17 Juni 2017

Sambil makan pizza bareng adik-adik

#15harimenulis Hari ketujuh: MI INSTAN

1. http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/pagi-makan-indomie-malam-minum-promag.html?m=1
2. http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/mie-instan.html?m=1
3. https://cecein.wordpress.com/2017/06/17/perihal-mi-instan/
4. https://mujahidzulfadli.wordpress.com/2017/06/17/mi-instan-dan-engkoh/
5. http://www.andiarifayani.com/mi-instant-yang-bersejarah/
6. https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/17/mi-instan-dan-bulan-terang/

#15harimenulis

You may also like

7 Comments

  1. sepertinya indomie memang menjadi salah satu bagian budaya di Indonesia. hahah. kantong kering pasti indomie jadi penyelamat. hahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *