di penjual sarabba' pintu dua

Saat ini aku sedang terpekur menekuni malam. Ditemani segelas sarabba’ hangat dan songkolo. Kedua hidangan ini menemaniku bernostalgia.
Ketika aku mencoba membuka kembali sebuah ingatan tentang dirinya. Dipintu dua kejadiannya. Di tempat penjual sarabba’. Saat itu malam hari, tapi aku tak tahu kapan tepatnya. Seseorang yang pernah menjadi berarti buat diriku. Menemaniku walau hanya lewat dunia maya dan beberapa kali kita bertemu nyata. Berbagi cerita, suka maupun duka. Dia yang pernah menjadi tempat curahan hatiku. Terasa ingin menertawai diriku sendiri jika mengingat pertama kali kita bertemu.
Malam itu, aku sedang memandangi jalanan sambil menghitung debu. Sebuah pekerjaan yang terkadang lazim kulakukan ketika sendiri. Tiba-tiba seorang seniorku memanggil. Dia memperkenalkan aku dengan laki-laki itu. Aku dipanggil untuk membuat sebuah kegiatan, membuat acara nonton bareng. Awalnya aku bersikap seperti biasa, tapi lama-lama dia menarik keingintahuanku. Dia misteri pada awalnya. Sebuah kotak Pandora menunggu untuk aku singkap. Kami pun bertukar nomor handphone.
Malam-malam selanjutnya aku lupa tentang dirinya. Tapi ketika hari dimana kita berdua harus bertemu, aku kembali dibuat bahagia. Entah dia menggunakan mantera apa, yang pasti aku bahagia di dekatnya. Dia bisa membuatku tertawa walau hanya sekejap saja.
Kami pun terus berhubungan melalui pesan singkat. Dia tetap membuatku terhibur dengan isi smsnya. Terkadang aku simpan smsnya, agar aku bisa mengulang membacanya. Dia benar-benar sosok lelaki unik. Aku suka cara dia menyemangati, aku suka cara dia membuat lelucon, aku suka semuanya. Walau aku tahu tak akan pernah bisa memilikinya.
Kami pun bertemu, awalnya kami pilih tempat yang sekarang aku duduki. Di penjual sarabba’ pintu dua kami bertukar kisah hidup. Mulai dari tanggal kelahiran, masa sekolah, atau cerita kampus menghiasi malam kami berdua. Aku suka mendengar dia berbicara. Entah mantera apa yang ia pakai disetiap rapal kalimatnya.
Hari demi hari, aku pun semakin rutin mengiriminya sms. Kami selalu bertukar keadaan. Aku selalu ingin tahu bagaimana keadaan dirinya. Aku selalu menanti tiap pesan yang dikirim olehnya. Dia bisa membuatku tertawa ketika membaca sms darinya. Entah itu berisi lelucon atau sekedar ucapan selamat tidur.
Tapi itu semua tak berlangsung lama. Entah kenapa, cerita ku bersama dia harus pupus. Sama kisahnya dengan cerita cintaku yang pertama di Makassar. Dia mulai samar sampai hilang sama sekali jejaknya. Yang baru aku tahu, dia sudah mempunyai pasangan. Aku memang tidak terlalu sakit hati, tapi aku ingin tetap melanjutkan hubungan pertemanan ini. Tidak lebih.
Sampai saat ini, ketika aku mengenang dirinya di tempat penjual sarabba’ pintu dua aku berharap dia masih ada disini. Bercerita dan berbagi kisah hidup dia untuk minggu ini. Semoga…

kisah yang diambil dari hidup seorang teman.semoga kau kuat kawan…..

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *