Dua Orang Tak Penting Tapi Berarti

Entah kenapa, ketika menyikat dinding kamar mandi tadi pagi, saya tiba-tiba mengingat seseorang. Tak bisa dibilang seseorang yang istimewa tapi sangat berjasa. Dulu, ketika saya masih menjabat sebagai reporter di Penerbitan Kampus Identitas, ada dua orang yang sangat baik. Saya tak pernah menanyakan namanya. Tapi mereka berdua adalah orang yang hidup di sekitar saya hingga dua tahun lalu mereka tak lagi ada.
Perkenalkan, mereka adalah dua orang yang menjabat sebagai cleaning service yang membantu membersihkan rumah kecil identitas. Bapak yang membersihkan kebun di depan identitas, setiap paginya menyapu dan mencabut rumput. Sayangnya saya tak pernah menanyakan namanya. Setiap pagi sebelum berangkat ke fakultas, saya selalu membiasakan diri untuk membuat segelas teh hangat buat beliau. Beliau selalu menundukkan kepala dan mengucap terima kasih. Saya selalu memperhatikan etos kerja beliau yang seakan tak kenal lelah. Wajah halaman identitas sangat bersih pada saat itu. Tak ada sampah yang mewarnai halaman, ia seakan tak membiarkan sampah hadir di halaman. Saya kagum dengan pekerjaan beliau yang tak setengah-setengah. Ketika beliau sudah diganti dengan orang lain, halamanidentitas tak seindah yang dulu.  
Yang kedua adalah seorang yang saya kira umurnya berkisar 25-30 tahun. Kakinya tak berjalan dengan sempurna. Tapi jangan ragukan kemampuannya. Ia selalu datang pukul 6 pagi. Daerah pembersihannya adalah kamar mandi identitas. Ia selalu menyapu dan mengepel lantai. Saat itu, gudang identitas tak memiliki sekat dengan kamar mandi bagian kemahasiswaan. Beliau selalu membersihkan kamar mandi. Setelah diganti, kamar mandi tak terurus. Lantai menuju kamar mandi pun sangat kotor. Hikz. Saya melihat sosok yang punya kekurangan fisik tapi tak kenal lelah. 
Saat ini saya sudah tidak menemui dua orang dengan jabatan seperti itu dan menunjukkan etos kerja yang maksimal. Entah kenapa saya selalu terkenang dengan dua orang cleaning service yang membuat saya kagum. Jawaban yang saya dapatkan dari pengganti mereka selalu tak memuaskan, “Mereka diganti. Nda ku tau dimanaki itu orang”.
Itu ingatan sekilas mengenai dua orang yang tak menunjukkan wajah lelah dan berhasil membuat saya mengingat mereka. Mungkin mereka tak akan membacanya, tapi doa saya selalu untuk mereka, dimanapun berada. 
Warkop, 26 November 2013 20:25 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *