Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang (Coral reef) merupakan ekosistrem yang khas terdapat di daerah tropis. Ekosistem ini mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi. Demikian keanekaragaman biota yang ada di dalamnya. Komponen biota terpenting di dalam suatu terumbu karang ialah hewan karang batu (stoni coral), hewan yang tergolong sceleratina yang kerangkanya terbuat dari bahan kapur. Tetapi disamping itu sangat banyak jenis biota lainnya yang hidupnya mempunyai kaitan erat dengan karang batu ini (Nontji, 2002).
Karang pembentuk terumbu (karang hermatifik) hidup berkoloni, dan tiap individu karang yang disebut polip menempati mangkuk kecil yang dinamakan koralit. Tiap mangkuk koralik mempunyai beberapa septa yang tajam dan berbentuk daun yang tumbuh keluar dari dasar koralit, dimana septa ini merupakan dasar penentuan spesies karang (Bengen, 2004)
Ekosistem terumbu karang menempati area seluas 7.500 km2 dari luas perairan Indonesia. Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas menempati suatu daerah tropis dengan produktifitas yang sangat tinggi, demikian pula dengan keanekaragaman biota yang ada didalamnya.
            Ekosistem terumbu karang meliputi areal seluas 75.000 dari luas perairan dan merupakan ekosistem unik yang hidup di daerah tropis dengan produktifitas yang sangat tinggi (Nontji, 1987).
Menurut Yusuf,S (2004),  peranan ekologis dari terumbu karang adalah :
1.    Sebagai peredam ombak
2.    Sebagai tempat hewan untuk berkembang biak
  1. Sebagai tempat mencari makan organisme laut
  2. Sebagai pencegah terjadinya abrasi pantai dengan menahan kecepatan arus yang menuju kepantai
Tiap polip adalah hewan berkulit ganda, dimana kulit luar dinamakan epidermis dipisahkan oleh lapisan jaringan mati (mesoglea) dari kulit dalamnya yang disebut gastrodermis. Dalam gastodermis terdapat tumbuhan relik bersel tunggal yang dinamakan zooxantellae yang hidup bersimbiosis dengan polip. Zooxantellae dapap menghasilkan bahan organik dariproses fotosintesis yang kemudian disekresikan sebagian ke dalam usus polip sebagai pangan (Bengen, 2004).
A.   Faktor Pembatas
Menurut  Bengen (2002), perkembangan terumbu karang dipengaruhi oleh faktor lingkuangan yang dapat menjadi pembatas bagi karang untuk membentuk terumbu. Adapun faktor-faktor fisik yang berperan dalam perkembangan terumbu karang adalah sebagai berikut :
1.    SUHU
Suhu air  > 18˚C tapi bagi perkembangan yang optimal diperlukan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 23-25˚C dengan suhu maksimal yang masih dapat ditolerir berkisar antara 36-40˚C .
2.    KEDALAMAN
Kedalaman Perairan < 50 m, dengan kedalan bagi perkembangan optimal pada 25 m atau kurang.
3.    SALINITAS
Salinitas air yang konstan berkisar antara 30-36 ppm.
4.    KECERAHAN
Perairan yang cerah bergelombang besar dan bebas dari sedimen.
5.    PAPARAN UDARA (aerial exposure)
              Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya.
6.    GELOMBANG
         Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.
    7.      ARUS
                        Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
                        Menurut  Yusuf,S (2004).  Pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu. Berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (hermatype-ahermatype) dan ada/tidaknya alga simbion (symbiotic-asymbiotic), maka karang terbagi menjadi empat kelompok berikut
  1. Hermatypes-symbionts.
    Kelompok ini terdiri dari anggota karang pembangun terumbu yaitu sebagian besar anggota Scleractinia (karang batu), Octocorallia (karang lunak) dan Hydrocorallia.
  2. Hermatypes-asymbionts.
    Kelompok ini merupakan karang dengan pertumbuhan lambat yang dapat membentuk kerangka kapur masif tanpa bantuan zooxanthellae, sehingga mereka mampu untuk hidup di dalam perairan yang tidak ada cahaya.· Di antara anggotanya adalah Scleractinia asimbiotik dengan genus Tubastrea dan Dendrophyllia, dan hydro-corals jenis Stylaster rosacea.
  3. Ahermatypes-symbionts
    Anggota kelompok ini antara lain dari genus Heteropsammia dan Diaseris (Scleractinia: Fungiidae) dan Leptoseris (Agaricidae) yang hidup dalam bentuk polip tunggal kecil atau koloni kecil sehingga tidak termasuk dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga terdiri dari Ordo Alcyonacea dan Gorgonacea yang mempunyai alga simbion namun bukan pembangun kerangka kapur masif (matriks terumbu).
  4. Ahermatypes-asymbionts
    Anggota kelompok ini antara lain terdiri dari genus Dendrophyllia dan Tubastrea (Ordo Scleractinia) yang mempunyai polip yang kecil. Termasuk juga dalam kelompok ini adalah kerabat karang batu dari Ordo Antipatharia dan Corallimorpha (Subkelas Hexacorallia) dan Subkelas Octocorallia asimbiotik.
B.   Struktur Komunitas
Menurut Bengen (2004), terumbu karang merupakan habitat bagi beragam biota sebagai berikut :
1.    Beranekaragam avertebrata (hewan tak bertulang belakang) terutama karang batu (stony coral), juga terdapat berbagai crustacea, siput, dan kerang-kerangan, ecinodermata (bulu babi, anemon laut, teripang, bintang laut dan lili laut).
2.    Beranekaragam ikan : 50-70 % ikan karnivora oportunistik, 15 % ikan herbivora, dan sisanya ikan omnivora.
3.    Reptile, umumnya ular laut dan penyu laut.
4.    Ganggang dan rumput laut : algae coraline, algae hijau berkapur dan lamun.
C.   Asosiasi
Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks. Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m2/tahun, memicu produktivitas sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan. Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.
Menurut Bengen (2004), ekosistem terumbu karang berasosiasi dengan semua ekosistem yang ada di perairan laut, terumbu karang dibangun seluruhnya oleh kegiatan biologik. Secara lansung jenis-jenis organisme yang berasosiasi dengan terumbu karang adalah :
1.    Alga bentik
Alga bentik merupakan faktor yang sangat penting sebagai produser primer, mendiami daerah karang sebagai substrat untuk tumbuh. Jenis-jenis yang dapat dijumpai pada daerah karang adalah Halimeda sp., Turbinaria sp., Achantophora sp., flora alga ini menunjang untuk pemenuhan makanan bagi organisme lain.
2.    Avertebrata
Avertebrata ialah hewan yang tidak memiliki tulang belakang, umumnya hewan avertebrata yang berasosiasi lansung dengan terumbu karang adalah kelas porifera, kelas echinodermata, kelas crusracea, namun secara yang banyak ditemukan pada daerah-daerah perairan dangkal ialah kelas echinodermata.
3.    Vertebrata
Ikan terumbu karang yang penting dan banyak di produksi adalah ikan ekor kuning dan pisang-pisang (Caesio spp.). Terumbu karang juga mampu memberikan tempat untuk persembunyian terhadap ikan, dan kebanyakan adalah ikan-ikan hias.

You may also like

2 Comments

  1. lumayan untuk menambah wawasan, saran sih korelasi, asosiasi, dan komunitas pada ekosistemnya terumbu karang di bahas secara detail sehingga informasinya yang d dapet dari sini lebih joz lagi hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *