ekspedisi Toraja

Kemolekan alam menghiasi perjalanan tiga kru PK identitas Idham Malik, Ilham A Muhammad, dan saya di Tana Toraja.
Minggu, 4 Juli kami berangkat menuju kota wisata Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Perjalanan dimulai sekitar pukul 09.00 wita. Kami berangkat menggunakan sepeda motor.
Kami sempat beristirahat di daerah Pangkep sambil mencicipi makanan tradisional, Dange. Serbuk kelapa yang dicampur dengan gula merah. Biasanya disajikan hangat langsung dari pembakaran. Setelah beristirahat sekitar 15 menit, kami pun melanjutkan perjalanan.
Memasuki kawasan Kabupaten Enrekang kami disuguhi pemandangan pegunungan yang cantik. Tapi, jalanan yang berkelok-kelok membuat kami harus tetap waspada dengan mobil-mobil dari arah yang berbeda. Kami pun sempat singgah untuk berfoto di depan Gunung Nona. Sebuah lukisan alam yang sangat elok.
Akhirnya, kami tiba di Tana Toraja pukul 20.00 wita. Setelah menempuh 309 km, kami langsung merebahkan diri di rumah salah seorang mantan kru identitas, Muzakkir AM.
Hari ke-2
Pagi-pagi saya dan kak Akkir memutari Monumen Juang (Monjuang) Lakipadada. Di kolam ini baru –baru terjadi pembunuhan berlatar belakang Pemilihan Kepala daerah. Saya baru menyadari bahwa Toraja terletak di lembah pegunungan. Surga dunia yang dikelilingi gunung-gunung yang sangat indah.
Setelah bersiap-siap, kami pun siap menyambangi tempat-tempat wisata di Tana Toraja. Rencananya kami akan mendatangi salah satu tempat yang sedang menyelenggarakan Rambu Solok atau pesta kedukaan. Bagi orang Toraja, Rambu Solok adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan bagi keluarga yang ditinggal mati. Pesta ini harus dijalankan untuk melepas arwah menuju dunia langit agar tidak selalu tinggal di bumi. Keluarga akan memanggil sanak saudara dan mereka wajib hadir dalam acara tersebut.
pada hari ini belum terlalu terlihat keramaian sanak keluarag, karena ada 4 hari dalam acara seperti ini, yaitu 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *