Enschede, Kota Perbatasan Jerman dan Belanda

Ramadhan telah tiba, dan kami memilih untuk silaturahmi ke rumah bude Heksi di Enschede. Sebuah kota perbatasan Belanda dengan Jerman. Lokasi Enshcede lumayan jauh dari Wageningen, sekitar 3 jam perjalanan hingga tiba di rumah Bude Heksi.

Pusat Kota Enschede

Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di kota yang berbatasan dengan Jerman. Kali pertama dalam rangka pemilu, dan kali kedua saya silaturahmi ke rumah Bude Heksi. Kami naik kereta dari Ede pukul 4 sore dan tiba di Enschede pada pukul 7 malam. Bude Heksi sudah menunggu kami di Enschede Station.

Kami pun memulai perjalanan kami sembari menunggu waktu bedug maghrib. Eh gak ada suara bedug deh disini. Menunggu suara adzan dari handphone masing-masing. Haha. Apalagi karena waktu maghrib saat ini mulai pada jam 10 malam, jadilah kami berkeliling Kota Enschede.

Kami mengunjungi pusat kota dan melihat gereja tua. Setelah itu keliling ke dekat pusat kota. Kata Bude Heksi ada sebuah toko es krim yang sangat terkenal di dekat stasiun dan jadi incaran semua orang saat berkunjung ke Enschede. Sayangnya kami masih puasa dan belum bisa makan es krim di jam 9 malam.

Kami juga melihat Botanical Garden yang terletak tak jauh dari rumah Bude Heksi. Disana ada festival makan dan kami pun tak bisa mencicipi. Karena itu kami pun pulang ke rumah Bude Heksi.

Buka Puasa di Rumah Bude Heksi

Setelah ngobrol sekitar 30 menit, akhirnya waktu maghrib pun tiba. Jam tangan menunjukkan pukul 9.42 CET ketika kami akhirnya bisa makan, makanan yang disediakan oleh Bude Heksi. Ada bakwan, soto ayam, dan juga kue enak. Bude Heksi jago masak! dan kami pun kenyang.

Sehabis berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah, kami pun menunggu waktu shalat isya yang lumayan jauh jaraknya. Waktu shalat isya di Belanda di saat musim semi dimulai pada pukul 11.53 malam. Hampir tengah malam ketika kami shalat isya berjamaah dan dilanjutkan dengan shalat taraweh.

Dan untuk menutup hari, saya dan Arif ditawari menginap di rumah Bude Heksi. Kebetulan besok adalah Whit Monday, dan seluruh aktivitas perkuliahan diliburkan. Jadilah kami pun sepakat untuk menginap dan esok akan kembali ke Wageningen setelah berkeliling Enschede.

Keliling Enschede dengan Sepeda

Saya sangat suka naik sepeda. Dan ketika Bude Heksi telah menyiapkan dua sepeda untuk kami, kami pun segera mengiyakan ajakan untuk bersepeda. Untungnya sepeda milik temannya Bude Heksi ini punya rem tangan, sehingga saya tak perlu terkaget-kaget untuk ngerem.

Destinasi pertama kami adalah Lonneker Windmill. Perjalanan sekitar 30 menit kami tempuh dari rumah Bude Heksi. Lumayan juga perjalanan dan melihat kota Enschede. Hingga akhirnya kami pun tiba di Lonneker. Sebuah kincir angin berdiri tegap. Kincir angin ini dibangun pada tahun 1851 dan bertujuan digunakan untuk menggiling gandum. Namun saat ini kincir angin tidak digunakan lagi, hanya ada museum dan toko di dalam kincir.

Setelah dari Lonneker, kami pun bersepeda lagi Roombek Stadshaard. Sebuah power plant yang dihias dengan keramik di bagian luar power plant. Kami pun juga melewati monumen yang memperingati kejadian terbakarnya pabrik kembang api dan membuat kekacauan besar di Enschede.

Tak lupa kami juga mengunjungi kampusnya Bude Heksi, University of Twente. Kampus ini menawarkan jurusan sosial dan teknik. Jadi buat teman-teman yang cari kampus sosial ataupun applied sains mungkin bisa mengambil Kampus Twente. Kami juga melewati stadion FC Twente yang terkenal.

Terima kasih Bude Heksi, telah menjadi tur guide selama kami menginap di Enschede. 🙂

 

ditulis di Beringhem

0:57 CET, Friday, 13 July 2018

sambil melihat foto-foto apa lagi yang bisa ditulis jadi blogpost. hahah

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.