Fajar Mencumbu di Punthuk Setumbu

Setelah perjalanan di Kabupaten Klaten kemarin, bis mulai berjalan menuju Magelang. Sebuah kota yang terletak sekitar 44,3 km dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya selalu mengingat Magelang sebagai kota kelahiran Mbah Rayi, nenek dari pihak Bunda. Terhitung 4 kali saya pernah dibawa beliau ke Karangampel, sebuah dusun yang termasuk dalam bagian Desa Tampirwetan.

 
Namun kali ini kami dibawa menuju Home Stay Kebon Dalem yang terletak di Desa Candirejo, Borobudur. Seperti nama daerahnya, home stay yang homey ini berlokasi sekitar 5.5 km dari Candi Borobudur. Setibanya di home stay kami segera mengambil tempat masing-masing. Rumah joglo ini memiliki 3 kamar tidur yang luas. Selain itu ada juga televisi di ruang tamu. Para pengunjung bisa menghabiskan waktu bersama di ruang tamu atau memilih lesehan di pendopo yang terletak di depan rumah. Tapi malam itu, kami segera memasuki alam mimpi karena esok hari kita akan melakukan aktivitas fisik yang kabarnya cukup melelahkan.  
rame cuy!
abaikan muka gue
Suara alarm mulai berdering kencang. Setelah sikat gigi dan melaksanakan rutinitas pagi, kami segera memasuki bis. Kami berburu waktu untuk melihat fajar di Punthuk Setumbu. Lokasi ini terdapat di barisan Pegunungan Menoreh yang menghadap langsung Gunung Merbabu dan Merapi, dari sini kita bisa melihat jelas kedua gunung tersebut. Kami tiba di parkiran sekitar pukul 05.20 WIB, sudah lewat dari fajar. Karena pemandangan tercantik disini adalah ketika matahari mulai muncul di peraduannya. Pengunjung harus membayar Rp. 15.000 per orang. Melihat waktu yang semakin sedikit, kami pun terpacu untuk berjalan lebih cepat. Kami pun tiba ketika matahari mulai menyemburkan semburat jingga di langit. Tutupan kabut di bagian bawah sangat terlihat jelas.
 
Saya sempat menahan nafas melihat pemandangan indah yang tersaji. Segalanya terasa mistis kecuali banyaknya orang-orang yang sudah mengurangi keindahan. Ada beberapa pengunjung yang merokok tanpa menghiraukan orang lain. Ada juga pengunjung yang membuat sampah plastiknya di bawah kakinya, padahal sudah ada tempat sampah yang disediakan di tempat tersebut. Sedih rasanya jika melihat hal tersebut. Saya pun memilih untuk duduk sambil melihat pemandangan ini berkali-kali. Seakan tak jemu melihat matahari muncul perlahan, lalu kemudian ia ditutupi oleh awan.
 
Di sudut kanan, ada seorang kakek tua yang dipercaya sebagai juru kunci Punthuk Setumbu. Rokok yang ia bakar berbau kemenyan. Ia hanya duduk diam mengamati seluruh pengunjung, mungkin umurnya sekitar 70an. Ia tak banyak bicara, saya juga tak memperkenalkan diri, karena saya juga mengamatinya. Sama seperti ia mengamati orang lain.
Gereja Merpati yang sering disebut sebagai Gereja Ayam
bagian dalam gereja

Sekitar 45 menit kami menghabiskan waktu di Punthuk Setumbu. Setelah bercengkrama dengan fajar, kami segera melanjutkan trekking menuju Gereja Merpati, selama ini orang selalu salah menyebutnya sebagai Gereja Ayam. Sebuah gereja yang dibangun pada tahun 1989 oleh Daniel Alamsjah di Bukit Rhema. Sebuah bukit yang berjarak 1 km dari Punthuk Setumbu. Pembangunan Gereja Merpati sempat tersendat karena kekurangan dana, namun saat ini pembangunan gereja mulai diaktifkan kembali. Menurut guide di Gereja Merpati, kedepannya lokasi ini akan dijadikan Rumah Doa. Kita bisa melihat bilik-bilik kecil di bawah lantai sebagai tempat berdoa.

 
Jika kalian pernah melihat film Ada Apa Dengan Cinta 2, di gereja inilah Rangga dan Cinta menghabiskan subuh berdua. Mereka menunggu hingga fajar menyingsing dan mereka saling bertatap muka lamat-lamat. Romantis sekali keliatannya. Tapi ketika kami datang kesini, setiap pengunjung hanya diberikan waktu 3 menit untuk menikmati panorama alam Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Padahal untuk menaiki crown Gereja Merpati kami menunggu sekitar 30 menit. Karena itu kami berfoto sekedarnya, agar memiliki tanda bahwa kami pernah menjadi Rangga ataupun Cinta selama 3 menit. Setelah berfoto di crown Gereja Merpati, kami segera trekking lagi menuju parkiran bis.
 
rumah joglo dari Home Stay Kebon Dalem

Ketika setibanya kami di home stay Kebon Dalem, Pak Kirno dan istrinya telah menyediakan sarapan pagi. Gado-gado yang terdiri dari campuran bayam, tahu, tempe, kacang panjang dipadu dengan bumbu kacang yang sangat legit membuat kami makan dengan lahap. Tak cuma itu, istrinya Pak Kirno menyediakan teh hangat manis sebagai pendamping gado-gado. Belum lagi ditambah udara Magelang yang sangat segar, rasanya betah berlama-lama disini. Sayangnya kami harus segera beranjak ke Kota Magelang, meninggalkan kehidupan desa nan asri di Desa Wisata Candirejo. Jika ingin tinggal di home stay Kebon Dalem bisa menghubungi Pak Kirno (081328520513). 

Saya juga menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar Guest House Kebon Dalem dan bertemu dengan Mbak Tuki yang berprofesi sebagai buruh tani. Beliau yang umurnya saya taksir sekitar 60 tahun masih berpeluh keringat di sawah yang bukan miliknya. Buruh tani biasanya hanya mendapatkan 10% dari hasil penjualan padi yang tidak seberapa. Bisa dikatakan buruh tani adalah pekerjaan yang paling rendahan dalam dunia pertanian. Karena mereka tidak memiliki sawah sendiri untuk digarap, tapi menggarap sawah milik orang lain. Pekerjaan Mbak Tuki termasuk berat untuk umurnya, tapi ia masih cekatan untuk masuk ke dalam sawah. Tangan kanannya tak pernah lepas dari ani-ani (alat pemotong padi). Sedangkan tangan kirinya menjaga agar bakul berisi bulir padi tidak tumpah. Saya membayangkan bagaimana pekerjaan Mbah Tuki yang harus ia kerjakan di sawah sebesar 1 hektar. Ia melakukannya dengan tabah.

Bagi kalian yang tidak menghabiskan makanan di piring segera ingat Mbah Tuki yang bekerja keras demi menyiapkan sepiring nasi. Terima kasih Mbah Tuki..

Mbah Tuki
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah 

Baca juga tulisan geng #bloggerhore yang ikut dalam kegiatan #FamtripJateng pada tanggal 27-29 Agustus 2016 . Perjalanan ini disponsori oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. 

1. Danang :   Senja di Candi Plaosan
 
Ditulis di Iskindo
1 September 2016, 9:18 PM
Sambil mendengarkan lagu Kali Kedua milik Raisa

You may also like

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *