Festival Bupolo 2016

Pulau Buru selalu menjadi pulau dengan ribuan kenangan. Apalagi setelah Pramoedya Ananta Toer mengeluarkan buku-buku sensasional yang acapkali dikenal sebagai Tetralogi Buru. Cerita tentang perlawanan seorang pribumi. Ia melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Tak hanya itu, ia juga dengan berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa. Hingga pernah pada tahun 1981, Kejaksaan Agung melarang peredaran buku ini. Karena buku ini dianggap memprogandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme. Namun saat ini kita bisa melihat buku ini dengan mudah dimana-mana. Tapi saat ini saya bukan ingin bercerita tentang buku, saya ingin menceritakan sedikit tentang Pulau Buru. 
Sebuah pulau yang terletak di timur Indonesia seringkali mendapatkan stigma menyeramkan dari banyak orang. Julukan sebagai “tempat pengasingan” membuat Buru sulit berproses sebagai lokasi wisata. Padahal terlalu banyak pemandangan indah yang ada di Pulau Buru dan sangat sayang untuk dilewatkan. 

Pulau Buru bisa ditempuh sekitar 12 jam dari Pelabuhan Galala di Ambon. Disana ada Kapal Pelni yang siap membawa penumpang. Setiap hari ada satu kapal yang berangkat ke Pulau Buru. Jadwal kapal ke Pulau Buru setiap pukul 20.00 WITA. Dan tiba di Namlea, ibukota Kabupaten Buru Utara pukul 05.00 WITA. Jika senang dengan hamparan langit berbintang, silakan keluar dek kapal untuk menyeruput kopi panas dan menatap langit. Saya sering melakukan hal ini bahkan menjadi salah satu atraksi di kapal yang paling saya suka. Daripada sekedar tidur di dalam kapal. 
Setibanya di Pulau Buru, segera cari penginapan. Saat ini sudah banyak penginapan yang tersedia di Kota Namlea. Harga kamar mulai dari Rp. 200.000 hingga Rp. 500.000, mulai dari kamar jenis melati atau hotel berbintang tiga. Selain penginapan, di Namlea sudah banyak sinyal telepon genggam. Tapi jangan heran jika sinyal hilang ketika keluar dari jangkauan Kota Namlea. 

Ada apa saja di Pulau Buru? 

 

kapal pelni

 

Ketika hadir di Festival Bupolo jangan lupa untuk mencicipi nasi kuning dengan ikan tuna. Ada banyak penjual nasi kuning enak di Pulau Buru. Ditambah dengan sambalnya yang sangat lezat. Harga seporsi juga cukup murah, sekitar 10 ribu. Ada beberapa kuliner lain khas Maluku yaitu Kuah Kuning. Sebagai teman, akan ada sagu yang menjadi pengganti nasi putih. Rasanya? Jangan ditanya. Enak banget. Sampe nambah berkali-kali. 
Selain kuliner, Pulau Buru juga menyimpan banyak objek wisata yang jarang terjamah. Pernah dengar Pantai Jikumerasa? Tempat ini menjadi ikon wisata di Pulau Buru. Tak salah jika pantai ini menjadi lokasi perhelatan Bupolo Fair 2016. Disana akan ada sepeda santai, lomba bale papeda dan lomba makan papeda. Tak hanya itu, di tanggal 9 Oktober akan ada Festival Papeda colo-colo (nama sambal khas Maluku.red) dan juga Rujak. Pastikan diri kalian hadir di event ini. Kegiatan FPB 2016 ini akan berlangsung di Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku pada  9-12 Oktober 2016
Pada tanggal 10 Oktober akan ada Festival Layang-layang dan Karnaval Bupolo di Pantai Merah Putih. Pantai ini terletak di dalam Kota Namlea. Di tempat ini banyak jajaran kafe-kafe yang menyediakan minuman hangat. Selain itu, pantai ini menjadi salah satu tempat nongkrong yang asik di Namlea. 
Sedangkan di hari terakhir Festival Bupolo akan ada Tarian Sawat Kolosal. Tarian Sawat merupakan tarian tradisional yang sering ditampilkan dalam berbagai acara. Tarian ini memiliki pesan perdamaian yang cukup kental di dalamnya. Biasanya ditampilkan dalam satu paket dengan musik sawat yang terdiri dari gendang, rebana, suling dan Tifa Totobuang. 
Mengutip website Indonesiakaya.com Tarian Sawat bernafaskan Islam. Karena itulah tarian ini sering ditampilkan pada acara bernafaskan Islam. Yang menarik, jika tarian sawat dikolaborasikan dengan musik Tifa Totobuang yang notabene dimainkan oleh warga Maluku yang beragama Kristiani. Entah saya tak tau, apakah Tifa Totobuang akan sama dengan Tifa Damang Fafu yang akan ditampilkan pada Festival Bupolo. Akan tetapi, jika benar keduanya disandingkan, tentu akan menghasilkan sebuah kesenian yang sangat bermakna
Selain itu, Festival Bupolo kali ini akan memecahkan rekor makan patita terpanjang di Indonesia. Apa itu Makan Patita? Makan Patita merupakan tradisi warga Maluku yaitu makan bersama dalam jumlah orang yang banyak dan dilandasi semangat kekeluargaan. Hal ini bisa ditemukan di banyak acara di Maluku. Jika datang ke Maluku, coba cari acara Makan Patita. Pasti seru. 
Biasanya, makanan yang disuguhkan adalah jenis makanan tradisonal yang biasa dikonsumsi masyarakat di Maluku. Ada kasbi (singkong), pisang rebus, sagu, kohu kohu (urap Maluku), ikan bakar, ikan goreng, ikan kuah, colo colo, papeda, sayur-sayuran dan berbagai jenis makanan tradisional lainnya. Mantap bukan? Bahasa singkatnya, di Festival Bupolo akan ada makan gratis. 🙂
Beragam rangkaian kegiata Festival Bupolo 2016 ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Pulau Buru. Hapuskan stigma negatif tentang pulau ini, Ayo Ke Buru! 
Ditulis di ISKINDO
22:39 WIB Rabu, 05 Oktober 2016
Sambil denger lagu Parcuma Beta Susah di Rantau
 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *