Ghost Fishing di Indonesia, Ancaman Bagi Terumbu Karang

Sejak permintaan dunia akan sumber protein hewani khususnya ikan meningkat, upaya untuk meningkatkan kemampuan tangkap alat penangkapan ikan terus diupayakan, baik dari sisi teknologi bahan alat penangkapan ikan, metode penangkapan ikan, maupun teknologi alat bantu penangkapan ikannya.

Kompetisi yang makin tinggi antar nelayan penangkap ikan mendorong nelayan untuk mengoperasikan alat tangkap yang lebih efektif dan efisien. Untuk memperpanjang masa pengoperasian alat tangkap, bahan alat tangkap yang semula dibuat dari bahan alami dan mudah rusak diganti dengan bahan yang dibuat dari fiber sintetik modern yang bersifat non-biodegradable. Bahan-bahan inilah yang kemudian memicu adanya Ghost fishing.
Ghost fishing menjadi hal yang serius saat ini karena besarnya alat tangkap yang digunakan saat ini. Hanya sebagian kecil dari alat tangkap ini akan menimbulkan masalah besar. Meningkatnya penggunaan bahan non-degradable (tak terurai) seperti plastik, kawat yang dilapisi vinyl dan fiberglass membuat alat tangkap dapat bertahan di laut untuk waktu yang sangat lama.
Ghost fishing sebenarnya bukanlah suatu jenis alat tangkap atau bukan pula metode penangkapan ikan. Ghost fishing adalah suatu istilah dalam penangkapan ikan yang menggambarkan dampak negative dari kegiatan penangkapan ikan. Layaknya istilah-istillah lain yang bertalian dengan “ghost”, istilah ghost fishing ini juga bermakna menakutkan, menakutkan bagi kelestarian sumberdaya terumbu karang.
Dalam kegiatan penangkapan ikan, karena beberapa sebab, tidak jarang nelayan kehilangan alat tangkapnya. Nelayan yang mengoperasikan alat tangkap di pantai seperti jaring gillnet, trammel net atau bubu’ yang dioperasikan secara menetap hilang karena disapu oleh alat tangkap aktif seperti trawl, dogol dan sebagainya. Alat tangkap juga bisa hilang karena faktor cuaca. Tidak jarang pula alat tangkap hilang karena unsur kesengajaan, misalnya dipotong oleh kapal niaga yang melintas di jalur laut tersebut atau dipotong nelayan lain karena mengganggu daerah operasi penangkapannya. Potongan atau bagian jaring atau alat tangkap yang tertinggal di laut, secara terus menerus akan menangkap ikan. Proses tertangkapnya ikan yang tak termanfaatkan sebagai akibat dari tertinggalnya alat tangkap di laut inilah yang disebut ghost fishing.
Alat tangkap yang tertinggal di laut akan menyebabkan tertangkapnya ikan yang kemudain karena mati, ikan menjadi busuk. Ikan yang telah membusuk tersebut kemudian menarik ikan atau biota pemangsa bangkai dan krustasea lainnya berkumpul di sekitarnya. Selanjutnya kehadiran ikan dan krustasea pemangsa bangkai (scavengers) di sekitar alat tangkap, menarik ikan yang tropik levelnya lebih tinggi untuk datang dan memangsa ikan dan biota yang ada. Kecelakaan terjadi beberapa ikan terperangkap alat tangkap yang terperangkap alat tangkap yang tertinggal dan memicu siklus ghost fishing selanjutnya, demikian seterusnya. Proses ini akan berulang terus sampai alat tangkap itu hancur sama sekali. Umur dari siklus ghost fishing ini bervariasi, dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan di sekitar tertinggalnya alat tangkap tersebut.
masalah Ghost Fishing sudah harus diantisipasi dari masyarakat bawah, agar tidak terjadinya penumpukan sampah bekas alat tangkap. 😀

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *