Have a Nice Day!

Memberikan hari yang baik kepada orang lain merupakan sebuah kewajiban bukan hanya basa basi. Kebanyakan dari kita mengucapkan Have a nice day! untuk ungkapan basa basi, tapi tidak dengan ibu ini.

Pagi ini saya membuat sarapan bihun goreng pedas dan udang. Sayur oseng buncis sisa semalam pun masuk ke dalam kotak Tupperware berwarna oranye. Selain itu sebuah nugget ayam pemberian Oka dan Kiko masuk kesana. Tupperware saya tutup rapat. Bon cabe, payung, mukena dan botol air saya masukkan ke dalam tas kain berwarna hijau tosca. Kotak makan yang berat pun ikut masuk kesana.

Saya berangkat dengan bahagia walaupun rintik hujan mengikuti. Untungnya saya sudah membawa jas hujan dan plastik pembungkus sepatu. Jadi jalanan basah dan hujan rintik tetap saya terjang.

Saya berjanji untuk bertemu Oliv jam 9.09, tiga menit sebelum kereta menuju Leiden berangkat. Tapi sialnya ketika saya tiba, kereta sudah lebih dulu datang. Ketika saya membuka jas hujan dan plastik pembungkus sepatu, kereta pun jalan.

Menuju Leiden

“Kak, saya duluan ya. Keretanya udah datang, nanti ketemu di Utrecht saja,” ujar Oliv melalui pesan singkat. Saya mengiyakan dan menunggu kereta berikutnya. Tujuan Schipol puku 09.26. tak berapa lama kereta yang saya inginkan pun tiba, saya memilih duduk di peron depan. Di sebelah kiri dekat jendela. Tas hijau tosca saya letakkan di kursi sebelah saya.

“Kak, kereta ke Leiden jam 09.55” ujar Oliv lagi. Wah tak terkejar sepertinya. Keretaku baru tiba di Utrecht pukul 09.56 kataku membalas pesannya.

Ketika akhirnya kondektur menyampaikan bahwa kereta telah tiba di Utrecht, saya pun bergegas. Ternyata kereta tiba lebih awal dari waktu yang seharusnya. Tanpa basa basi, saya langsung menggunakan waktu 4 menit untuk menuju peron 11, kereta menuju Leiden.

Sesampainya di kereta saya langsung menemukan sosok Oliv yang bermain handphone. Ada ketakjuban di wajahnya. “Kok bisa kekejar, kak?”, tanyanya. Saya jelaskan tentang kereta yang tiba lebih awal.

Tas Tosca Hilang

Ketika kita berbicara, kereta pun berangkat. Dan tak lama saya tersadar. Saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tas hijau tosca saya tak ada di tangan. Ketika saya terlalu fokus dengan jadwal membuat saya lupa bahwa ada tas di kursi sebelah saya.

Perasaan saya campur aduk. Antara mau menangis dan kecewa. Kenapa saya bisa sebodoh itu meninggalkan tas yang begitu berharga. Kotak bekal bermerk Tupperware kesayangan Bunda. Payung bertuliskan Amsterdam yang sering saya pakai berdua. Botol minum dengan logo Wageningen University and Research. Mukena pemberian seseorang yang saya lupa siapa. Dan sebotol penuh bon cabe level 30.

Tiba-tiba saya merasakan kehilangan. Ternyata sakit kalau kita mengalami sebuah kehilangan. Tak berapa lama setelah saya menyadari kehilangan, datanglah seorang kondektur perempuan.

Saya pun curhat tentang keadaan saya yang kelupaan barang. Sang Ibu yang saya taksir berumur 50an langsung sigap mendengar cerita saya. Dia mendengarkan cerita saya dengan seksama. Matanya menunjukkan ketertarikan dengan cerita yang saya alami.

Saya ceritakan awal mula tentang saya naik kereta di Ede-Wageningen jam 09.26 dan tiba di Utrecht pukul 09.51. Awalnya ibu itu tak mendapatkan informasi dengan jadwal yang saya sampaikan. Lumayan lama untuk menjelaskan bahwa saya naik kereta yang sama.

Lost and Found

Akhirnya setelah kami berdiskusi, si ibu menelpon kantor Lost and Found. Ia pun menjelaskan dalam bahasa Belanda kepada operator tersebut. Saya hanya diminta untuk mendeskripsikan barang yang ketinggalan. Saya menuliskan tata cara untuk mencari barang ketinggalan di kereta di link ini

Setelah telepon terputus, kami menyadari bahwa selama ini kami menggunakan hape si ibu kondektur. “What if they want to contact you and tell you if they found it?” ujarnya sambil geleng-geleng kepala. Haha. Iya juga ya.

Akhirnya ibu kondektur yang tak saya namanya ini menelpon pihak Lost and Found kedua kalinya untuk memastikan. Kali ini saya diminta untuk menyebutkan nomor telpon. Haha.

Sang ibu kondektur ini membantu saya sekaligus menjalankan tugasnya sebagai kondektur. Jadi ketika ia akan kembali ke gerbong masinis, saya mengembalikan handphonenya. “Have a nice day and I hope you can found your bag,” ujarnya hangat walaupun di luar kereta hujan sedang deras derasnya. Saya pun mengucapkan kalimat yang sama. “I hope you have a nice day, too,” jawabku sambil tersenyum.

Ia mengiyakan dan berkata “I always have a nice day and I give it to you,” jawabnya. Bener juga.haha. Memberikan hari yang baik kepada orang lain merupakan sebuah kewajiban bukan hanya basa basi. Kebanyakan dari kita mengucapkan Have a nice day untuk ungkapan basa basi, tapi tidak dengan ibu ini. Ia mengucapkan have a nice day dengan hati yang penuh untuk membantu saya.

Tak heran jika saya memberinya sebuah pelukan hangat di saat kami berpisah. Ia membalas pelukan saya dan saling mengucapkan doa agar mendapatkan hari yang bahagia.

 

Ditulis di dalam kereta pulang menuju Utrecht dari Leiden
Saya masih belum mendapatkan tas saya. Semoga besok ada yang menemukan. Aamin..

19:48 AM Sunday 9 Desember 2018

Sambil melihat jendela yang basah karena hujan

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.