Hikmah Perjalanan di Eropa, Sebuah Catatan

“Bukankah dalam Al-Qu’ran juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta’aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah?” – Hanum Rais 
Subhanallah, sebuah buku yang membuat saya sempat terharu. Terharu atas keindahan Islam, kedamaian jiwa orang di dalam buku ini, dan terharu bahwa Islam sebuah agama yang sangat indah.. Subhanallah. Buku ini membuat saya semakin bertekad keras untuk belajar di luar negeri. Menjelajahi setiap sejarah Islam di negara lain menjadi salah satu resolusi hidup saya. Di tanah Eropa ternyata bukan hanya keindahan yang saya lihat saat ini. Banyak sejarah yang tertoreh baik luka maupun kemenangan disana. Sebuah tempat yang sering dikenang atas kejayaan Islam.
Buku 99 Cahaya di Langit Eropa berhasil menghipnotis saya dan membuat saya membayangkan “I’ll be there!”. Penulisnya bisa membawa saya mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi di Eropa. Mereka adalah Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Perjalanan sepasang suami istri ini kemudian diabadikan dalam sebuah novel islami. 
Mereka berdua hidup di Austria. Rangga bekerja di universitas. Hanum kemudian ikut les bahasa Jerman. Maklum Austria masih menggunakan bahasa Jerman. Ia bertemu seorang berkebangsaan Turki, namanya Fatma Pasha. Perkenalan mereka semanis cokelat, karena Hanum menawarkan cokelat kepada Fatma. Cara yang sering saya gunakan untuk berkenalan dengan orang.
Ibu beranak satu ini mengajarkan Hanum sebuah keindahan Islam. Bahwa Islam tak harus kasar. Hal ini terjadi ketika mereka berdua makan di sebuah cafe. Tak lama datang rombongan bule. Mereka bercanda tentang croissant. Menurut salah seorang dari mereka, croissant dibuat sebagai pengingat perang salib yang mengalahkan Turki. Lambang negara Turki yang berbentuk bulan sabit dijadikan pengigatnya. 
Hanum sudah mempersiapkan marah-marah dalam bahasa inggris. Sedangkan Fatma? Ia malah mentraktir orang-orang tersebut dan memberikan memo. “Hi, I’m Fatma. I am Moslem. This is my email, so you can contact me”… What the?? Saya aja yang baca langsung melongo?? Caranya bener-bener cara islami. Subhanallah. Saya langsung ingin bertemu dengan Fatma Pasha!! 😀
Ketika persahabatan itu semakin kuat, mereka berdua mengatur rencana. Mereka akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Tapi tiba-tiba di novel ini Fatma Pasha menghilang. Tak ada kabar, tak ada jejak. Hanum merasa kehilangan. Ia pun menjalankan janji mereka berdua untuk mengelilingi Eropa, mengenal Islam lebih baik lagi.

Perjalanan Hanum mengantarkan dirinya berada di Paris, pusat ibukota peradaban Eropa. Ia bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadanya bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatinya. Membuatnya jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.
Paris – Museum Louvre banyak sejarah Islam tercatat di dalamnya
Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatnya yakin dengan agamanya. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan. Museum di Paris terdapat banyak catatan Islam dalam benda-benda berharganya. Saya tidak akan menceritakan disini, biar anda baca sendiri dan merasakan sensasinya. Hanum berhasil membuat kita penasaran dengan rahasia di museum-museum Paris. Subhanallah! Mungkin karena ia seorang jurnalis #lah kok? 
Perjalanan di Paris semakin membawanya percaya akan keindahan Islam. Ia pun pergi ke Spanyol. Sebuah negara bekas pusat islam di Eropa. Namanya Andalusia, dengan ibukota Cordoba. Disana ia melihat sebuah masijd yang sudah diubah menjadi sebuah gereja dengan nama Mezquita. Sejarah kelam mencatat terjadi pemaksaan untuk masuk ke dalam agama Kristen. Tidak jauh dari Cordoba terdapat kota Grana. Kota ini terdapat istana Al-Hambara, dimana istana terakhir ditaklukan sebelum kerajaan islam di Andalusia runtuh. Disinilah Sultan Boabdil menyerah akibat serangan Ferdinand dan Isabella dengan perjanjian agar umat muslim dihormati dalam menjalankan ibadahnya. Namun Fe
rdinand dan Isabella tidaklah menepati janjinya, karena umat islam harus dipaksa untuk memeluk Kristen.

Spanyol – Mezquita inside.

Oke, itu sejarah. Kita sebagai sebuah bangsa yang besar tidak sepatutnya melupakan sejarah. Karena di dalam sejarah ada pembelajaran besar yang membuat kita bisa bergerak maju dan memperbaiki kesalahan masa lalu. 
Perjalanan Hanum selanjutnya ke Turki. Sebuah negara yang dulunya pusat Kristen Byzantium Romawi Timur (konstatinopel). Karena kemenangan kaum muslim yang dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih maka ditaklukanlah dan dijadikan sebagai pusat dinasti Utsmania atau Ottoman. Sebenarnya di Turki terdapat tiga bangunan bersejarah yaitu Hagia Sophia, Blue Mosque (Masjid Biru) dan Topkapi Museum.
Turki – Hagia Sophia
Turki – Blue Mosque
Turki – Inside Blue Mosque
Disini ia kembali bertemu dengan Fatma Pasha. Ternyata ia pergi dari Austria dan meninggalkan les bahasa Jerman karena Ayse meninggal. Ia pun berduka dan kembali ke kampung halaman. Tapi ia diberkahi seorang bayi laki-laki mungil pengganti Ayse. Perasaan bahagia berhasil dijelaskan Hanum. Saya ikut bergembira untuk Fatma! Doaku untuk Baran, yang insyaAllah bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi agama ini. 
Cerita pun berakhir ketika Hanum datang ke titik nol (episentrum). Sebuah kota yang didatangi oleh ribuan jamaah setiap harinya. Makkah. Subhanallah!!
Setelah membaca buku ini, Eropa menjadi tujuan untuk mengambil gelar master disana. Mengenal Islam dari dekat dan berniat memajukan Indonesia adalah niat utama! InsyAllah!
#ditulis ketika hujan di Bojonggede, Bogor dengan terus mengucap InsyAllah dan Bismillah
16 Januari 2013

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *