Ibu Hamil Berpuasa 18 Jam di Belanda, apakah aman?

Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi ibu hamil di negeri orang. Tahun lalu pengalaman puasa berbeda karena saya harus berpuasa selama 18-19 jam selama sebulan tapi tanpa membawa seseorang di dalam perut saya.

Namun saat ini saya memiliki janin yang sedang berkembang dalam perut saya. Jadi ada dua hal yang perlu saya khawatirkan, diri saya dan janin saya. Karena berpuasa selama 18 jam adalah sesuatu yang tidak mudah. Saya banyak mendapatkan informasi bahwa banyak ibu di Indonesia tetap berpuasa selama hamil dan tidak memberikan dampak apa-apa bagi sang bayi ketika lahir. Hal inilah yang membuat pertimbangan bagi saya untuk tetap berpuasa selama di Belanda.

Berpuasa Bagi Ibu Hamil

Kalau dari perspektif Islam, sebenarnya ada dua. Pertama, jika ibu hamil dalam keadaan sehat dan bisa melaksanakan puasa (ditandai dengan aktifnya ibu hamil dan janin), sang ibu hamil tetap bisa berpuasa. Dengan catatan di zaman modern saat ini, ibu hamil harus mendapatkan izin dokter. Di Belanda, ibu hamil akan mendapatkan pemeriksaan dari bidan.

Alhamdulillah keadaan saya bisa dikatakan sehat untuk berpuasa. Tensi darah saya 100/60 ketika diperiksa. Keadaan janin saya juga alhamdulillah dalam keadaan aktif. Hal ini yang mendasari saya untuk tetap berpuasa di bulan Ramadhan.

Selain itu ada penelitian yang menunjukkan hasil bahwa berpuasa tidak memberikan dampak bagi janin jika ibu hamil dalam keadaan sehat dan nutrisi terpenuhi. Jurnal – The Effect of Ramadhan fasting outcome in pregnancy. 

“Holy month fasting does not affect birth time weight, height, and head circumference. In addition, according to our findings, in healthy women with appropriate nutrition, Islamic fasting has no inappropriate effect on intrauterine growth and birth-time indices.

Meanwhile, no congenital anomaly was observed in fasting mothers in this study. Also, although there was no significant difference for incidence of low weight neonates at birth time between groups on fasting and with non-fasting women, but relative risk of low birth weight was 1.5 times in mothers on fasting at first trimester as compared to non-fasting mothers.”

Mendukung hasil penelitian diatas, saya juga mencoba mencari beberapa artikel lainnya. Hasil dari beberapa resume artikel di internet, puasa setiap hari sangat tidak disarankan bagi ibu hamil jika masih di trimester pertama dan trimester ketiga.  Apalagi dalam keadaan berpuasa 18 jam.

Hal ini bisa membuat janin mengalami penurunan berat badan ketika dilahirkan. Beberapa studi mengatakan bahwa janin bisa berkurang bobot saat dilahirkan sekitar 272 gram.  Jadi sangat tidak disarankan bagi ibu hamil yang sedang berada di trimester pertama untuk berpuasa 18 jam. Karena pada saat trimester pertama, janin sedang dalam masa perkembangan tubuh.

Fasting in pregnancy may cause a baby to have a lower birth weight, especially if the fasting took place in the first trimester. However, other studies found the difference in birth weight to be very small.

Jadi ada beberapa penekanan yang harus diperhatikan bagi ibu hamil yang ingin berpuasa

  1. Ibu hamil dalam keadaan sehat, tidak punya riwayat darah tinggi (hipertensi), diabetes, anemia, ataupun penyakit yang mengkhawatirkan.
  2. Ibu hamil sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan saat ingin berpuasa. Hal ini sangat menentukan apakah ibu hamil bisa berpuasa atau tidak.
  3. Ibu hamil sedang memasuki masa trimester kedua. Dengan catatan janin harus dalam keadaan sehat, detak jantung lancar dan tidak mengalami kelainan.
  4. Ibu hamil mendapatkan nutrisi yang cukup selama masa kehamilan, dengan banyak meminum cairan saat sahur dan berbuka puasa.
  5. Ibu hamil tidak boleh memaksakan diri, jika sudah tidak sanggup silakan berbuka puasa dengan kurma atau sesuatu yang manis.

Ibu Hamil Bisa Juga membayar Fidyah ataupun Mengqadha puasa

Dalam perspektif Islam yang kedua, ibu hamil dianggap seperti orang tua dan orang sakit. Jadi ibu hamil bisa membayar fidyah atau membayar puasa di lain hari ketika sudah sehat. dan tidak usah berpuasa. Dari sini pun ada tiga pendapat lagi, apakah ibu hamil mengkhawatirkan diri sendiri atau kesehatan sang janin atau kesehatan keduanya.

Jika ibu hamil mengkhawatirkan kesehatan dirinya sendiri, maka ibu hamil hanya perlu berpuasa di hari lain. Namun jika ibu hamil mengkhawatirkan keadaan sang janin jika berpuasa, maka ibu hamil bisa melakukan qadha. Jika ibu hamil mengkhawatirkan keadaan janinnya, maka ibu hamil bisa membayar fidyah atau bisa juga mengqadha.

Penjelasan lengkap bisa dibaca di dalam link ini – Antara Membayar Fidyah dan Qadha Puasa bagi Ibu Hamil

Karena saya berpuasa Ramadhan selang-seling, sehari puasa sehari tidak. Untuk ini saya memilih untuk opsi ketiga, yaitu membayar fidyah bagi orang yang tidak mampu. Karena saya mengkhawatirkan kondisi janin jika tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Tips ibu hamil berpuasa selama 18 jam

Dari beberapa artikel saya meresumekan sedikit ttg puasa 18 jam bagi ibu hamil.
1. Jika ibu hamil sudah memasuki trimester kedua, ini adalah masa terbaik untuk tetap berpuasa. Jika tidak punya masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, ibu hamil bisa tetap berpuasa

  1. Puasa diselang-seling, sehari puasa sehari tidak berpuasa. Hal ini agar memberikan janin nutrisi yang cukup untuk tetap bertahan. Perbanyak makan buah dan sayur selama waktu tidak berpuasa. Agar janin tetap mendapatkan nutrisi yang cukup.

  2. Kompromi dengan janin. Dengungkan kalimat semangat untuk membangun bonding antara ibu hamil dengan si janin. Hal ini juga memberikan efek positif kepada ibu hamil agar tetap berpuasa.

  3. Know your limit. Ini membingungkan bagi banyak ibu hamil, termasuk saya. Karena itu ibu hamil harus melihat kemampuan dirinya. Jika sudah merasakan pusing, mual, tidak enak badan, bisa langsung membatalkan puasa dengan meminum sesuatu yang manis. Jangan memaksakan diri.

  4. Jika memang ibu hamil tidak kuat atau mampu, seorang ibu hamil bisa memilih untuk membayar fidyah atau mengqadha puasanya. Apalagi jika harus berpuasa selama 18 jam yang cukup lama.

Wrap up?

Selama berpuasa 18 jam di Wageningen, alhamdulillah saya hanya merasa lemas saja. Tapi saya tidak mengalami pusing. Setelah berbuka, saya langsung menyantap buah kurma dan buah-buahan. Jadi asupan Utun tetap terpenuhi. Dan di puasa kedua, saya memilih untuk tidak berpuasa dan memenuhi nutrisi Utun yang tidak didapatkannya kemarin.

Semoga kita semua sehat-sehat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tahun 1440 H ini. Aamin ya rabbal alamin.

 

ditulis di Bennekom

10:12 CET, 7 May 2019, sembari goreng bakwan yang hasil akhirnya gosong

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.