Ikan Asin Selar dari Sebira

 

Pulau Sebira menjadi pulau yang terkenal oleh ikan asin selarnya. Bau ikan yang sudah diasinkan menguar di pinggir jalan. Sepanjang jalan mengelilingi Pulau Sebira, mata kita akan dipenuhi oleh ikan selar yang dikeringkan. Ikan selar menjadi komoditas utama mata pencaharian nelayan di Pulau Sebira. Tak ayal kita akan melihat jajaran meja terbuat dari bambu yang dipenuhi oleh ikan selar kering. Baik ikan selar utuh maupun ikan selar yang telah dibelah. Beberapa kucing merangsek naik ke dipan bambu. 
Merunut pada penjelasan penduduk, Pulau Sebira memiliki keunikan sebagai sentra produksi ikan asin di Kepulauan Seribu. Diantara ratusan pulau, hanya Pulau Sebira yang memproduksi ikan asin dengan kualitas super. Nelayan tak menggunakan formalin untuk mengawetkan ikan, hanya garam. Uniknya ikan asin di Pulau Sebira hanya ikan selar (Selaroides leptaropis). Tak ada lagi. 
Saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu Pak Sudirman, salah satu pengusaha besar ikan asin selar di Pulau Sebira. Ia memiliki tempat pengasinan di depan rumahnya. Untuk mencapai lokasi pengasinan kita hanya perlu berjalan menuju rumah kepala daerah di Pulau Sebira, Ibu Hastuti yang menjabat sebagai Ketua RW 03 , disana ada tempat pengasinan yang cukup untuk menampung ikan sekitar 50 kilogram. 
Di siang ataupun sore hari, ketika nelayan mulai mencapai daratan, mereka membawa keranjang plastik berwarna-warni berisi ikan selar. Keranjang ini dinamakan tris. Nelayan menyebutkan jumlah tris yang berhasil ia tangkap. Kemudian keranjang ini ditimbang menggunakan timbangan gantung untuk mengetahui jumlah beratnya. Pak Sudirman akan mencatat tiap kilogram yang didapatkan oleh nelayan. Sebuah buku saku kecil bergambar tokoh anak-anak. Disana tercatat rapi semua ikan yang masuk di dalam kolam pengasinan. Sebuah box besar yang memiliki penutup berongga dari kayu. Penutup ini berfungsi sebagai penahan agar ikan asin tidak diganggu oleh kucing. 
Ada dua produk ikan asin di Pulau Sebira, ikan asin utuh atau ikan asin belah. Jika pemilik ingin menjual ikan asin belah, ikan selar akan dibelah memanjang dari bawah perutnya. Kemudian isi bagian dalam ikan selar dibuang. Sedangkan proses selanjutnya nyaris sama dengan pembuatan ikan selar utuh. 
Ada seorang ibu yang bertugas mengaduk ikan selar dengan garam. Proses ini dilakukan secara bertahap. Pertama, ikan selar yang telah dicuci dengan air laut bersih dimasukkan ke dalam kolam yang sudah bercampur air laut dan garam kasar. Untuk sekitar 50 kilogram ikan selar dibutuhkan sekitar 3 karung garam. Menurut penuturan Pak Sudirman, para nelayan menggunakan garam dari daerah lain seperti Indramayu yang dikenal sebagai penghasil garam. Ketika ditanya kenapa mereka tidak membuat garam sendiri, ternyata pembuatan garam membutuhkan modal besar dalam pembuatan kolam penampungan dan lain-lain. “Selain itu butuh lahan yang luas untuk membuat garam,” tambahnya.
ikan selar yang sudah kering dan siap dipacking
Ibu itu terus mengaduk campuran garam dan ikan selar. Setiap satu tris ikan selar yang ia tumpahkan ke dalam kolam pengasinan akan ditambahkan garam sekitar setengah karung. Proses itu dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya ikan selar memenuhi kolam pengasinan. Butiran garam kasar berwarna putih tulang menutupi gundukan ikan selar segar. Tahap pengasinan selesai disini. Tapi pekerjaan masih menunggu esok.
Ibu-ibu ditugaskan untuk mengeluarkan ikan selar dari kolam pengasinan. Biasanya ikan selar dijemur sejak pukul 5 pagi. Ikan selar yang utuh dan belah dipisah tempat penjemurannya. Hal ini memudahkan penjemur ketika akan mengangkat ikan selar nantinya. 
Sebelum pulang saya sempat membantu Tante Alang, salah seorang juragan ikan asin di Sebira. Ia dibantu oleh tetangganya, Tante Anis sedang memasukkan ikan asin yang sudah kering ke dalam wadah. Ternyata tangannya sedang memilah dan memilah ikan selar besar dan kecil. Karena ikan selar dijual berdasarkan besarnya. Ada tipe premium dan tipe biasa. Sedangkan ikan selar ukuran kecil tidak dijual. Biasanya dikasih gratis kepad
a tetangga atau orang seperti saya yang suka gratisan. Haha. Di antara ribuan ikan selar, terkadang ikan jenis lain juga ikan masuk ke dalam kawanan. Sehingga ikut menjadi ikan asin tenggiri, ikan asin bawal, ikan asin kwe tapi dalam ukuran kecil. Ikan-ikan jenis ini tidak dijual dan diberikan gratis lagi kepada saya. 

Ikan asin akan dibawa ke Jakarta dan kemudian akan disebar ke daerah lain. Menurut Pak Sudirman, ikan asin akan diedarkan menuju Bandung, Bogor, Sukabumi, dan daerah lainnya. Harga di pasaran sudah tiga kali lipat daripada membeli langsung ke nelayan. Harga satu kilogram ikan asin selar di Tante Alang Rp. 20.000, sedangkan di daerah lain bisa mencapai Rp. 40.000. Hal ini dikarenakan jarak tempuh dari Muara Kamal ke Pulau Sebira menghabiskan waktu hingga 8 jam perjalanan. 

Memilih ikan selar premium
Karena itu, jika berkesempatan mengunjungi Pulau Sebira jangan lupa borong ikan asin selar ya. Dijamin ketagihan. Apalagi makan ikan asin dipadukan dengan Sayur Asem dan nasi. Meminjam istilah Pak Bondan “MAKNYUS!”.
Catatan perjalanan Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 ke Pulau Sebira #enj2016
Ditulis di ISKINDO
13:16 WIB Senin 3 Oktober 2016
Sambil denger lagu My Heart Will Go On milik Celine Dion

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *