Imajinasi Kita Sama!


 
Malam ini anak-anak nelayan yang saya ajar merasa kesulitan menjawab soal yang saya tulis di papan. Padahal menurut saya ini adalah sebuah soal yang sangat mudah. Siapa sih yang tidak suka berkhayal? Mengimajinasikan masa depan cerah dan juga karier yang gemilang. Saya meminta anak-anak untuk berimajinasi seperti apa mereka di tahun 2025. Saat itu mereka sudah berumur 23 tahun, umur yang sama dengan saya saat ini. 
Who are you at 2025?

Siapa kamu di tahun 2025?
Ketika saya memberikan tugas untuk berkhayal, tiba-tiba mereka semua protes. Namun ada dua-tiga anak yang terlihat antusias untuk segera menuliskan mimpi-mimpinya. Sisanya, mereka tidak menyangka jika saya memberikan soal seperti itu. Saya pun menjelaskan bagaimana mimpi yang dituliskan adalah sebuah doa yang paling kuat. Karena kita bisa melihat target masa depan kita, tervisualisasi bahasa gaulnya. #eeeeaaaa
Karena banyak orang yang telah membuktikan dengan menuliskan mimpi-mimpinya, mereka mampu berhasil mewujudkannya menjadi kenyataan. Dan keinginan terbesar saya adalah agar anak-anak nelayan ini memiliki mimpi untuk menjadi orang yang berhasil mewujudkan mimpinya. 
Saya pun memberikan waktu 30 menit bagi mereka untuk menuliskan mimpi-mimpi mereka. Menit-menit pertama mereka terlihat gelisah. Bingung. Seperti tidak tahu mimpi apa yang akan mereka capai pada tahun 2025. Saya pun harus mengulangi instruksi saya.
“Tuliskan apa yang kalian inginkan, mau sekolah di sekolah favorit, masuk universitas terkeren, pergi ke luar negeri, apapun”. Sepuluh menit berlalu, mereka masih bingung dan bertanya kepada saya. “Kak, saya bingung”. “Kak, bisa tidak dikerja di rumah saja?” atau kata-kata “Kak, saya nda bisa tuliskan apa yang saya mau”. 
Saya butuh waktu lama untuk memberikan motivasi bagi mereka agar bermimpi. Saya memberikan contoh-contoh mimpi apa yang bisa dicapai ketika umur 23 tahun. Bisa kuliah, bisa jalan-jalan, bisa menang lomba menulis, bisa ke luar negeri, bisa jadi atlet, dan lain sebagainya. Hingga lama kelamaan mereka pun mulai menuliskan mimpi-mimpi mereka. 
Mungkin bagi kita yang mendapatkan pendidikan terbaik di lingkungan rumah dan sekolah akan mudah merencanakan masa depan kita. Saya pun tak malu-malu untuk terus mengatakan bahwa saya akan jadi Menteri Kelautan dan Perikanan RI di tahun 2030. Tapi, bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, bermimpi pun menjadi suatu hal yang jarang mereka lakukan. Untuk bermimpi agar bisa masuk ke SMP terfavorit di Maumere saja agak sulit. Karena mereka hidup di dalam lingkungan yang selalu mengatakan “Untuk makan besok saja sudah sangat bersyukur”. Sehingga motivasi mereka pun tidak terlalu tinggi. Sehingga kebanyakan dari mereka bermimpi menjadi seorang istri dan punya anak. 
Saya juga tak mengatakan bahwa mimpi untuk menjadi seorang ibu adalah hal yang salah. Tapi saya memotivasi mereka agar bisa lebih dari itu. Toh, banyak wanita-wanita sukses di dalam keluarga dan dalam kariernya. Kalau bisa keduanya, kenapa tidak? Mereka pun mulai mengerti, dari situ saya bisa melihat keinginan mereka yang tinggi untuk bisa terus sekolah. Ada juga yang ingin menyelesaikan pendidikan lanjutan (S2) di luar negeri bahkan menjadi artis yang mendapatkan piala Oscar. Wah, mimpi mereka keren-keren. Imajinasi kita sama jika didukung untuk maju…
Saya yakin bahwa imajinasi adalah sebuah hal yang paling penting dalam proses pertumbuhan anak. So, sering-seringlah daydreaming tapi berusaha untuk mewujudkannya. Karena itu saya jadi semakin termotivasi untuk bisa menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Menyebarkan virus semangat demi Indonesia yang lebih baik.. 😀

Amin ya Rabbal Alamin
#ditulis di kamar kost
28 Maret 2014 22:50 Wita
Ketika sedang gundah dengan kehidupan di sekitar kost

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *