Impunitas, Lawan Nyata Pekerja Pers

#catatan seminar Press Freedom Day, tema Refleksi Perjuangan Kebebasan dan Kesejahteraan Pers Serta Lawan Impunitas Bagi Para Pembunuh Jurnalis, di Gedung BaKTI Makassar, Materi Pak Aswar Hasan selaku Ketua KIP Sulsel

Anda tahu kasus Udin? Ersa Siregar? Seorang jurnalis yang hingga saat ini belum diketahui siapa pembunuh dibelakang kematian mereka. Pembunuhnya masih berkeliaran hingga saat ini. Tertawa dibalik tindak kejahatan mereka. Dan dibelakang mereka berdiri orang besar pemegang kekuasaan yang melindungi tindakan keji mereka. Hingga mereka tidak didakwa, dihukum dan dipenjara. Gambaran itu adalah sebuah impunitas yang terjadi di negeri ini. 
Impunitas adalah sebuah ketidakmungkinan secara de jure atau de facto seorang pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena dia tidak bisa dituntut, dihukum dan dipenjara sebab ada kekuasaan yang membelakanginya. 
Nah, kenapa impunitas ini sering terjadi di Indonesia? Padahal ada loh UU yang mengatur tentang pembunuhan seseorang dan lain-lain. Ada beberapa sebab yang disampaikan oleh Pak Aswar Hasan, :
1.    System hukum di Indonesia masih lemah, apalagi terhadap kasus seperti kasus pembunuhan Munir. Hingga saat ini Polycarpus masih berkeliaran di luar sana dan menghirup udara bebas.
2.   Sisa praktek system politik otoritarian yang masih digunakan di Indonesia. Misalnya saja UU Intelejen Negara.
3.      Korban terkena di area konflik. Sepanjang sejarah, sulit mengungkap pembunuh jika berada di area konflik. Karena itu sudah seharusnya wartawan diberi pembekalan jika meliput di daerah konflik.
4.      Lemahnya control terhadap penegakan hokum. Ketika ada masalah penganiyaan terhadap seseorang yang dilakukan oleh prajurit, kita tidak bisa mengetahui apa si pelaku dikenakan sanksi atau tidak.
5.       Lemahnya komunikasi antara pemerintah dan hokum (law inforcement)
6.   Rendahnya solidaritas korban terhadap pengusutan pelaku. Ingatan-ingatan social jurnalis terhadap kematian rekan-rekan sangat rendah. Jika ada pun hanya sementara meletup lalu meredup.
7.     Masyarakat belum merasakan dampak impunitas. Perlu ada sosialisasi dan penggalangan opini public bahwa berita yang dikeluarkan oleh para jurnalis adalah untuk kepentingan masyarakat. Malah, jurnalis seharusnya dimakamkan di Taman Makan Pahlawan.
8.       System pelaporan impunitas belum mendapat dukungan dari nasional maupun internasional. Mustinya ada kajian-kajian tentang impunitas, lalu didokumentasikan menjadi laporan atau buku.
9.       Mekanisme sanksi yang masih dualisme. Misalnya seorang prajurit yang melakukan tindak kejahatan, apakah dia akan terkena hukum militer atau hokum pidana.
10.   Tidak adanya efek jera kepada pelaku impunitas. Karena mereka terkesan dilindungi oleh kekuasaan misalnya kekuasaan militer, politik dan lain sebagainya.
Nah, itulah kenapa di Indonesia sering terjadi kasus impunitas. Jika terus menerus terjadi impunitas maka kita akan merasakan dampaknya. Ada beberapa dampaknya yaitu :
1.       Merebaknya tindak pidana kejahatan terhadap korban di sisi ini adalah jurnalis. Mereka akan sering menjadi sasaran kejahatan.
2.       Menurunkan wibawa atau profesionalisme jurnalis menjadi tergerus. Karena dibayang-bayangi oleh kekuasaan yang mengancam di hadapannya.
3.       Menciptakan iklim bagi wartawan untuk tidak bekerja secara bebas dan menyenangkan.
4.       Batu penghalang bagi demokrasi
5.       Meluasnya aksi (aksi hegemoni aparatur) membuat oknum tidak khawatir jika ia melakukan kejahatan lagi.
 
Jika ada dampak yang sudah dirasakan saat ini maka diperlukan upaya-upaya preventif untuk menanggulangi hal tersebut. Misalnya :
1.       Jurnalis harus membuat aliansi gerakan dengan melebarkan aliansi tanpa sekat
2.       Perlu ada kajian atas kasus-kasus impunitas yang sudah atau masih berlangsung
3.       Mendorong penguatan hokum
4.       Membangun system demokrasi dan HAM.
5.       Meningkatkan profesionalisme jurnalis.
Kasus impunitas sebenarnya bisa dibendung dengan gerakan-gerakan massif. Seper
ti kasus di Argentina, ada sekelompok ibu-ibu sekitar 10 orang yang selalu berteriak di De Mayo setiap hari Kamis. Akhirnya muncul insiatif untuk ibu-ibu lain turut serta membantu. Akhirnya Negara memutuskan untuk mencari dan menyelidiki kematian 10 orang secara misterius. 
Hidup Pers, Tetap Profesional Berpegang Teguh Pada Prinsip Independen…
đŸ˜€

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *