Sejarah Indonesia di Museum Bronbeek

Namanya Museum Bronbeek, terletak di Kota Arnhem, dekat dengan perbatasan Jerman. Ketika memasuki halaman Museum Bronbeek, ada beberapa potongan rel yang menyimpan informasi tentang Sumatera. Di potongan rel tersebut ada nama-nama orang Belanda yang meninggal saat mengerjakan proyek tersebut. Selain potongan rel, masih banyak monumen-monumen yang didirikan untuk mengenang para tentara yang meninggal di medan perang. Semua nama-nama tertulis rapih di monumen tersebut.

Sejarah Museum Bronbeek, Arnhem

restauran kumpulan

Saya pun berjalan menuju pintu masuk yang ditunjukkan oleh papan penunjuk. Di dalam museum saya melihat sebuah meriam besar. Di sebelah kanan ada loket masuk. Harga masuk untuk ke museum ini dibanderol 6 euro per person. Tapi kalau mau datang ramean atau per grup, harganya bisa lebih murah. Disebelah kiri saya, sebuah restoran yang bernama Kumpulan. Restoran ini menjual benda-benda dari Indonesia dan juga kudapan Indonesia. Terasa sangat dekat dengan Indonesia.

Di dalam Restoran saya melihat beberapa orang tua yang bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Mereka bercerita tentang dirinya ketika ditugaskan di Indonesia. Tapi karena saya mengikuti jadwal tur yang diselenggarakan oleh PCNU Belanda, saya pun tak banyak ngobrol dengan bapak tua tersebut.

Memasuki aula museum yang bersebelahan dengan rumah para veteran membuat saya melihat beberapa orang tua yang berseliweran di dalam museum. Museum dan rumah veteran ini hanya dibatasi oleh pintu non-otomatis yang membutuhkan kunci untuk masuk.

Rumah Veteran ini diperuntukkan bagi veteran yang tergabung dalam KNIL. KNIL adalah singkatan dari Koninklijke Nederlands-Indische Leger yang artinya Royal Armies Kerajaan Hindia Belanda. Di rumah ini kita bisa melihat veteran perang yang masih hidup hingga saat ini. Menurut tour guide, awalnya tempat ini merupakan tempat tinggal para anggota KNIL yang non perwira. Kebanyakan dari mereka mempunyai barang-barang kenang-kenangan ketika berperang di Indonesia. Barang-barang itulah yang menjadi koleksi di museum ini. Selain kenang-kenangan para tentara, disini juga banyak koleksi penting negara Indonesia. Mereka yang dulu berperang di Indonesia (dulu Hindia Belanda) atas nama Negeri Belanda. Banyak dari mereka bisa berbahasa Indonesia dan masuk dalam jajaran KNIL.

Organisasi ini didirikan untuk menjaga kedaulatan Belanda di negeri jajahannya, terutama Hindia Belanda. Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal van den Bosch membuat keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger”. Keputusan ini merupakan penetapan untuk membentuk suatu organisasi ketentaraan yang baru bagi Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur). Hingga akhirnya pada tahun 1836, Raja Wilem I memberikan predikat “Koninklijk” kepada tentara tersebut.

Karena orang-orang ini semakin tua dan banyak yang wafat, akhirnya rumah veteran ini dialihfungsikan sebagai museum hingga saat ini.

Sejarah datangnya Belanda di Nusantara

Tur Guide, Yunita Boersma mengajak kami untuk berkeliling dari masa-masa kedatangan Belanda di Indonesia. Menurutnya dulu ada kapal ekspedisi yang dibiayai oleh 9 orang kaya untuk mencari pulau rempah-rempah. Parahnya mereka datang bukan dengan motif berdagang murni. Saat itu mereka juga membawa senjata dalam ekspedisi mereka. Jadi ekspedisi mereka tidak bisa disebut sebagai perdagangan murni.

replika kapal yang digunakan ketika datang ke Indonesia

Mbak Yunita Boersma ini juga menjelaskan setiap fase di dalam museum ini. Museum Bronbeek ini membagi kejadian-kejadian ketika Belanda datang di Indonesia. Mulai dari pencarian rempah-rempah, mulainya Cultur Steelsel (tanam paksa), ketika KNIL didirikan dan juga ketika Agresi Militer yang terjadi setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaannya pada tahun 1945. Keseruan di dalam museum ini adalah kita bisa merasakan keadaan pada saat itu karena ada rekaman suara yang terjadi pada saat itu. Tur Guide menjelaskan setiap kejadian dengan sangat runut, sehingga tidak membosankan. Selain data-data, ia juga menyuguhkan fakta di lapangan yang terjadi pada saat itu.

Barang-barang bersejarah dari Indonesia

Museum ini banyak sekali menyimpan koleksi benda-benda bersejarah milik Indonesia. Salah satunya adalah meriam Sicupalada yang bisa kita lihat di depan pintu masuk. Saat ini banyak sekali petisi yang menginginkan agar meriam ini balik ke tanah air. Karena merunut pada sejarah, meriam ini merupakan pemberian Sultan Turki kepada bangsa Aceh. Pada abad ke-16, Aceh dan Turki merupakan dua sekutu yang kuat untuk menghalangi datangnya bangsa Portugis untuk menyerang Aceh.

Di dalam sejarah yang diceritakan oleh Snouck Hurgronje, utusan Aceh itu akhirnya bisa bertemu dengan Raja. Dan, mereka hanya bisa mempersembahkan lada secupak (sekitar 675 gram) yang tersisa di kapal. Raja Turki tetap menerima upeti dengan perasaan senang. Ia membalas ”upeti” lada secupak dengan memberikan meriam yang kemudian diberi nama meriam lada secupak (Snouck Hurgronje, 1985). Meriam inilah yang saat ini bisa kita lihat di Museum Bronbeek.

meriam sicupak lada
salah satu meriam
eriam sicupak lada

Selain itu masih ada beberapa meriam lagi di dalam museum ini. Semua meriam didapatkan dari saat perang melawan Indonesia. Meriam ini dibawa menggunakan kapal perang menuju Belanda. Tak hanya meriam, ada banyak barang-barang pusaka milik Indonesia di museum ini. Sejumlah peninggalan dan artefak di masa penyerbuan Belanda selama di Indonesia. Di antara sejumlah peninggalan itu terdapat senjata api, serta bekas peninggalan pejuang Indonesia, termasuk di antaranya Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, RA Kartini, dan lainnya.

Selain itu banyak juga benda-benda yang memiliki cerita tersimpan rapih di museum ini. Semua bagian museum dibuat sedemikian rupa tergantung tahunnya.

Tur Museum Bronbeek

Tur Museum Bronbeek dimulai sejak tahun pertama Belanda datang ke Indonesia. Disini ada sebuah replika kapal yang digunakan oleh Belanda untuk datang di Indonesia. Selain itu kami juga diajak untuk melihat peninggalan-peninggalan para pahlawan. Disini kita bisa melihat peninggalan milik Teuku Umar, antara lain berupa Alquran kecil, rencong, dan sejumlah pakaian milik Teuku Umar berhasil disimpan dan berada di Museum Bronbeek nan megah itu. Tak hanya itu, ada juga beberapa benda milik R.A Kartini, Pangeran Diponegoro, juga ada disana. Semua benda-benda bersejarah disimpan dengan sangat rapih dan tertata.

Di dalam museum saya membayangkan tentang banyak hal di saat Indonesia masih di dalam kekuasaan Belanda. Disini juga kita bisa melihat orang-orang Indonesia yang dulunya ‘dekat’ dengan Belanda dan diangkat sebagai pegawai pemerintahan di zaman itu.

Serunya di dalam museum ini dibagi-bagi sesuai tahun. Jadi kita mempelajari Indonesia secara utuh mulai dari Belanda masuk ke Indonesia, pelayaran ke Maluku, zaman culture steelsel (tanam paksa), perang Diponegoro, penjajahan Jepang, Kemerdekaan Indonesia dan Agresi Militer Belanda. Semua masa diberikan informasi-informasi dengan detail sehingga kita bisa belajar.

Namun ada yang aneh, yaitu di penulisan waktu kemerdekaan Indonesia. Banyak bagian informasi yang menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan pada tanggal 17 Agustus 1949 namun pada 27 Desember 1949. Hal ini berdasarkan bahwa menurut pihak Belanda, saat itu Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda dan Belanda memberikan tampuk kekuasaan pada akhir 1949. Kezel sih. Tapi di tahun 2005, sebenarnya Belanda sudah mengakui bahwa Indonesia merdeka di tahun 1945, tapi entah kenapa, disini masih agak blur..

 

    

 

Wrap up?

Overall, saya suka dengan museum Bronbeek ini karena benar-benar menceritakan sejarah Indonesia. Walaupun sebenarnya agak kesal dengan penggambaran Indonesia yang dianggap ‘proclaimed’ dengan kemerdekaannya, tapi saya appreciate dengan mereka untuk menjaga benda-benda otentik tentang Indonesia.

Kalau penasaran tentang Museum Bronbeek, kalian hanya diminta membayar 6 euro per orang. Jam buka museum ini mulai dari hari Selasa – Minggu dari pukul 10.00 hingga pukul 17.00 CET. Alamatnya di Velperweg 147, 6824 MB Arnhem. Kalau dari Stasiun Arnhem Central kita akan naik bis lanjutan Stadbus 7 atau Stadbus 1 menuju Geitenkamp atau Velp.

 

ditulis di Forum Lantai 1

21.00 CET Jumat, 6 April 2018

Perang selalu membawa kesengsaraan

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.