Jalur Rempah 2015 : Membicarakan Rempah dan Seks

Jalur Rempah
Membicarakan seks terkesan amat sangat sangat tabu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apalagi yang belum berumur 18 tahun seperti saya ini. Hahaha. Memenuhi rasa ingin tahu saya, akhirnya saya menyempatkan diri untuk datang ke acara diskusi di Museum Nasional. Terletak di Jalan Medan Merdeka Barat, museum ini memiliki arsitektur bergaya Eropa. Tiang besar di bagian depan terasa menghujam. Spanduk bertuliskan “Jalur Rempah” menjadi penanda lokasi acara. Kegiatan ini rencananya berlangsung sejak tanggal 18  hingga 25 Oktober ini
Saya tiba sudah sore, sekitar pukul 16.00 WIB, acara diskusi mengenai “Rempah dan Seks” sudah berlangsung di lantai 1. Acara diskusi dipandu oleh Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Dr Jajang Gunawijaya, MA. Yang menampilkan dua pembicara yang memiliki ketertarikan dalam dunia Sexology. Zoya Amirin seorang dosen Psikologi UI dan H Saefuddin cucu Mak Erot. 

Menurut Pak Jajang, ditinjau dari tujuan konsumsinya, makanan dapat diklasifikasikan menjadi makanan (food), minuman, bumbu, dan bahan yang dipakai untuk kenikmatan (misalnya madat dan tembakau). Nah diskusi ini menjelaskan mengenai bahan makanan untuk kenikmatan. 
Seperti yang kita semua tahu, Indonesia dikenal sebagai negara yang menjadi incaran para penjajah. Pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan dua komoditi yang paling diincara sepanjang sejarah. Karena inilah, banyak orang dari negara yang sangat sangat jauh berusaha mencapai Maluku dan melakukan monopoli perdagangan. Kok jadi bicara sejarah? Hahah. Lanjut ke isu utama..
diskusi
Slide pertama dari bu Zoya adalah arti Aphrodisiac atau bisa dikatakan sebagai bahan-bahan yang seharusnya dianggap merangsang gairah seksual. Atau bisa dikatakan mengobati gejala atau simptom namun tidak serta merta mengobati inti penyakit. Jadi bisa dikatakan rempah-rempah ini adalah salah satu jenis Aphrodisiac. Bisa jadi memiliki pengaruh dalam gairah seksual namun tidak signifikan. 
Bu Zoya menjelaskan mengenai tiga jenis rempah utama yang dimiliki oleh Indonesia untuk meningkatkan gairah seksual. Ini merupakan hasil penelitian yang sudah dipatenkan oleh peneliti sexolog. Namun yang harus diingat, karena ini bahan alami, penggunaannya tidak bisa dilakukan satu kali, tapi digunakan sebagai bumbu di makanan secara berkala.  Pertama adalah cengkeh (clove), bunga cengkeh dipercaya bisa menstimulan gairah seksual pria seperti viagra. Selain itu baunya juga bisa memberikan sensual feelings bagi laki-laki maupun perempuan. 
Kedua, kayu manis (cinnamon) sama seperti cengkeh, bisa membuat selera seksual bertambah. Selain itu efek rempah yang hangat membuat perasaan tenang. Ketiga, pala (nutmeg) memiliki efek nyaman dan menstimulan gairah seksual. Namun penting yang harus diingat, penggunaan rempah-rempah ini tidak boleh berlebihan. Apapun yang berlebihan pasti tidak akan baik untuk tubuh. 
jenis-jenis rempah
Bu Zoya menjelaskan bahwa rempah-rempah hanya aphrosidiac namun untuk memperbaiki hubungan suami istri harus dimulai dari kegiatan intim mereka. Jadi ada faktor-faktor internal yang mempengaruhi hubungan seksual pasutri : 
  1.  Hormon
  2.  Kapasitas otak untuk menciptakan imajinasi dan fantasi
  3.  Emosi
  4.  Proses sensori
  5. Tingkat keintiman
  6. Stamina dan kondisi fisik
Nah, Bu Zoya pun memberikan tips bagi pasutri untuk mendapatkan ‘good sex’ :
  1. Boost yourself, esteem first. Love your self.
  2. Have lots lots of romantic ritual, be sensual dan sexual each other. Lakukan kegiatan-kegiatan kecil ketika masa-masa awal menikah. Panggil suami atau istri dengan nama-nama kesayangan, jangan panggil papa atau mama. Buatlah keintiman.
  3. Communicate more. Buatlah kencan-kencan kecil, second honeymoon, paling sedikit 3 bulan sekali
  4. Start healthy sexy habits seperti berhenti merokok, berhenti minum, makan tidak berlebihan, dll
  5. Eat in proper manners. Makanan penambah gairah dimasukkan dalam daftar terakhir, karena yang paling penting bagi pasangan bukan apa yang dimakan, tapi keempat hal diatas.
Sedangkan pemateri kedua tidak memberikan gambaran jelas mengenai rempah. Terasa agak seperti jualan, sehingga saya tidak menemukan hal yang menarik dari diskusi yang disampaikan oleh pemateri kedua. Maaf ya pak.. 
Diskusi ini memberikan saya gambaran mengenai fungsi rempah, walaupun tidak lengkap rempah-rempah apa saja yang bisa berfungsi sebagai Aphrosidiac. Tapi informasi ini sangat menarik. 😀 
Bagi yang sedang di Jakarta, mari datang di acara ini The Museum Week. Banyak informasi yang menarik. Saya mengcapture kegiatan Jalur Rempah untuk dua hari kedepan yaa. 😀 

 

Ditulis di Kantor Kak Agustus
22:31 WIB, Rabu 21 Oktober 2015

You may also like

8 Comments

  1. Kaaa terus update ya! Bagus blognya! Informatif. Btw pa jajang dosen aku ituh salam ya!

  2. wajib datang, acaranya keren loh. banyak informasi yang keren banget. 😀

    terima kasih sudah mampir di rumah sederhana ini. 😀

  3. hahaha. iya kemarin ak sebut kamu kok pas ngobrol sama PAk Jajang, trus dia bilang " wah kalau angkatan itu sudah lulus yaa". hahaa

  4. iya, tapi fungsinya tidak signifikan. keintiman merupakan hal yang paling penting dalam hubungan suami istri. rempah cuman digunakan sebagai pelengkap saja. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *