Jika Sebira Berbenah Jadi Pulau Wisata

Perkampungan Bugis di tengah Selat Karimata terletak di Pulau Sebira. Dengan luas 8.82 hektar, pulau ini dihuni oleh 506 jiwa (berdasarkan data tahun 2004). Uniknya semua penghuni di pulau ini adalah pendatang. Ketika saya mengunjungi Pulau Sebira ketika kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya 2016, saya menyadari adanya potensi yang tersimpan di Pulau Sebira. Potensi ini yang harus dikelola secara optimal bukan brutal. Saya menyarankan adanya organisasi tingkat desa yang membuat kegiatan-kegiatan dibawah ini. Karena jika dikelola secara perseorangan, tentu akan menimbulkan kecemburuan sosial. 

Jika bisa mencontoh, saya akan mengambil contoh pada pengelolaan Umbul Ponggok di Klaten, Jawa Tengah. Desa ini mampu menghasilkan devisa bagi desa hingga 1,2 milyar per tahun. Tentu angka ini terdengar fantastis karena dikelola oleh organisasi setingkat desa. Warga desa awalnya berinvestasi alat selam dan snorkeling kepada pengelola Umbul Ponggok. Hingga saat ini warga desa memetik hasilnya. 
Cerita sukses ini juga diulang oleh lokasi wisata di Air Terjun Nyarai, Padang, Sumatera Barat. Para penebang kayu di hutan beralih profesi menjadi penyedia jasa. Hingga penghasilan para penyedia jasa ini lebih besar daripada sekedar menebang hutan. Wisata edukasi bisa menjadi penghasilan alternatif di Pulau Sebira. 
Pulau ini ditempuh dengan waktu 7 jam perjalanan menggunakan kapal nelayan. Jika menggunakan speed boat, bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Belum ada kapal reguler ke pulau ini. Kami menggunakan kapal nelayan untuk bisa mengakses tempat tersebut. 
Saya akan menjelaskan potensi wisata yang ada di Pulau Sebira melalui hasil pengamatan saya selama 7 hari tinggal di Pulau Sebira. Mungkin agak bias karena saya tinggal tidak terlalu lama di pulau tersebut. 

1.       Rumah Adat Bugis seperti rumah panggung

Ini menjadi salah satu site attraction yang ada di Pulau Sebira. Maklum saja, di daerah yang didominasi oleh 70% orang Bugis, membuat penduduk banyak membangun tipe rumah ini. Namun saat ini sudah banyak rumah batu yang dibuat dari batako dan pasir dibandingkan dengan rumah kayu panggung. Hal ini dikarenakan oleh mahalnya bahan baku kayu yang digunakan untuk membangun rumah. Sehingga para warga memilih menggunakan pasir dan batako sebagai pilihan. 
Sepanjang pesisir selatan Pulau Sebira pengunjung bisa diajak untuk mengetahui rumah panggung khas Bugis. Namun sebelumnya rumah panggung di Pulau Sebira yang sudah mulai reyot bisa direvitalisasi. Rumah panggung tersebut juga bisa dijadikan sebagai home stay dengan harga ekonomis. Warga yang mengelola home stay tersebut dan menyediakan kehangatan keluarga bagi pengunjung. Setiap rumah dibatasi hingga 3 pengunjung sehingga semakin banyak pengunjung yang melakukan interaksi dengan warga pulau. 

2.       Penanaman Mangrove

bibit mangrove yang siap ditanam
Penanaman mangrove diinisiasi oleh Karang Taruna Pulau Sebira dan juga shelter penangkaran penyu. Para warga ini melihat pentingnya tanaman mangrove di Pulau Sebira, setelah pulau ini digerus oleh ganasnya ombak sedikit demi sedikit. Tak ayal jika penahan ombak (break water) dibangun disekeliling pulau ini. 
Jika melihat lebih jeli, kegiatan penanaman mangrove bisa dijadikan salah satu item paket wisata yang ada di Pulau Sebira. Para pengunjung diajak untuk ikut bersama pemuda menanam pohon mangrove jenis Rhizopora mucronata. Banyak paket wisata di berbagai daerah Indonesia yang menjadi tur menanam mangrove sebagai item andalan. Banyak pengunjung terutam
a anak-anak dan remaja tertarik untuk melakukan kegiatan penghijauan di alam secara langsung.

3.       Penangkaran dan Pelepasan Penyu di Shelter 

 

anak tukik berebutan

 

Inisiatif 5 orang warga Pulau Sebira untuk membangun shelter penangkaran penyu sisik patut diapresiasi. Shelter bagi penyu sisik (Eretmochelys imbricate) yang dibangun sejak tahun 2015 bisa menjadi penarik pengunjung. Menurut Pak Agung, salah satu inisiator shelter penyu, tempat ini dibangun karena di Pulau Sebira menjadi salah satu lokasi peneluran bagi penyu sisik. Sebelumnya para warga di Pulau Sebira mengonsumsi telur penyu. Namun karena semakin marak informasi tentang telur penyu yang semakin langka, membuat mereka berinisiatif membuat shelter bagi tukik (anak penyu). 
Kegiatan pelepasan penyu bisa menjadi salah satu kegiatan yang paling atraktif di Pulau Sebira. Menurut Pak Agung, Presiden Jokowi pernah melepas tukik di Pulau Harapan dengan membawa tukik dari Pulau Sebira.  

4.       Snorkling di daerah pinggir pantai

contoh peta untuk spot diving
 Tutupan karang di beberapa titik Pulau Sebira masih sangat tinggi. Menurut hasil pengamatan tim karang Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 tutupan karang di Pulau Sebira didominasi oleh jenis Acropora.sp. Bentuk seperti brancing, encrusting, folliose dan submassivemudah ditemukan disini.
Jika Pulau Sebira membuat paket travel harus didampingi oleh pemandu. Orang awam tidak dibiarkan sembarangan untuk melakukan aktivitas di terumbu karang. Perlu ada rambu-rambu dan penjelasan singkat sebelum turun ke laut. Hal ini perlu dilakukan jika terumbu karang di Pulau Sebira ingin tetap lestari. 
Pemandu WAJIB memberikan panduan dasar kepada pengunjung. Karena jarak antara permukaan air dengan terumbu karang sangat rendah, sekitar 2 meter. Jika pengunjung tidak paham menggunakan kaki katak (fins) seringkali terumbu karang patah dan mati. Edukasi sebelum snorkling WAJIBdiberikan. Jangan sampai pengunjung malah menjadi pematah terumbu karang.
For your information, karang hanya tumbuh sepanjang 2-5 cm per tahun!!! Jadi ketika dipatahkan atau diambil maka akan sulit bagi karang untuk bertahan hidup. Hal inilah yang wajib diketahui oleh para snorkeler. Kalau pengunjung menolak, lakukan hukuman ringan. 
 
Karena itu para warga desa harus membuat aturan ketat mengenai perusakan terumbu karang. Misalnya penetapan denda hingga Rp. 1.000.000 setiap ada karang yang patah. Kalau memberikan hukuman jangan setengah-setengah.
5.       Diving di kapal-kapal tenggelam
Pulau Sebira yang terletak di ujung utara Kepulauan Seribu menjadi kuburan bagi kapal-kapal. Ada beberapa kapal-kapal yang tercatat pernah tenggelam di perairan Pulau Sebira. Misalnya saja kapal berbendara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Hal ini dibuktikan dengan adanya pencurian bangkai kapal tersebut di awal tahun 2016 yang dilakukan oleh Warga Negara Asing. Entah bagaimana kelanjutan cerita pencurian tersebut, karena tidak ada media yang membahas hal tersebut lagi hingga saat ini. 
Menurut informasi dari Kompas.com ada sebuah kapal yang tenggelam di kedalaman 21 meter yang disebut sebagai Kapal Cuar. Selain kapal tersebut masih ada beberapa kapal lainnya yang tercatat pernah tenggelam di perairan Pulau Sebira. Namun saat ini belum ada data yang lengkap berapa banyak kapal yang tenggelam disini. 
Lokasi kapal-kapal tenggelam perlu untuk dikumpulkan dan dijadikan sebagai acuan spot diving di Pulau Sebira. Sama seperti yang saya katakan sebelumnya, para pemandu WAJIB memberikan pengarahan sebelum melakukan diving di spot-spot ini. Karena ada beberapa spot yang lumayan ekstrem mengingat pulau ini terletak berhadapan langsung dengan Laut Jawa. 

6.       Mercusuar buatan Belanda

Onder de regeering van
Z. M. WILLEM III
Koning der Nederlanden
ENZ.,ENZ.,ENZ.,
Opgericht voor draailicht

1869

bersama Pak Joko. Oyeaaaahh!

 

Tulisan tersebut terpampang jelas di bagian depan mercusuar. Mercusuar ini menjadi titik paling menarik bagi pengunjung. Julukan Noord Watcher pada zaman Belanda disematkan kepada mercusuar ini. Pulau Sebira dulu juga bukan bernama Sebira, namun Pulau Jaga Utara. Dengan ketinggian hingga 48.5 meter menjulang dengan 11 tingkat, membuat pengunjung bisa melihat lanskap Pulau Sebira secara keseluruhan. Pulau dengan luas 9 hektare ini bisa dilihat dari atas mercusuar. Waktu terbaik untuk naik ke mercusuar saat pagi atau sore. Karena saat siang hari cuaca sangat panas. Pak Joko Darmaji selaku pengawas mercusuar biasanya melarang kita untuk naik saat siang dan malam setelah maghrib. 
Pengunjung harus berhati-hati ketika menaiki mercusuar karena sudah ada beberapa bagian yang rusak dan rapuh. Jika memiliki fobia ketinggian, saya sarankan untuk tidak menaiki mercusuar. Selain hawanya pengap, ketinggian mercusuar cukup membuat keringat mengucur deras. Di dinding mercusuar banyak terdapat sulaman besi yang berbentuk kotak kecil. Menurut Pak Joko, kotak-kotak ini merupakan bekas peluru yang tertinggal di dinding mercusuar. Lampu yang jadi suar disini diganti setiap 10 tahun sekali. Listrik untuk pencahayaan diambil dari penangkap tenaga surya yang terpasang dekat dengan lampu suar. Rencananya di tahun depan akan ada pemugaran mercusuar agar lebih aman. 
tampakan pulau sebira dari atas
7.       Kuliner khas Bugis
Karena di Pulau Sebira lebih dari separuh penduduknya orang Bugis, sehingga kuliner khas Sulawesi Selatan pun jamak ditemui. Sebut saja barongko yang terbuat dari campuran pisang dan jamak ditemui di acara pernikahan. Kudapan ini sering dibuat oleh para ibu-ibu di Pulau Sebira. Walaupun kita tidak pernah menemui orang yang menjual kue ini. Kita harus me-request barongko sehari sebelumnya. Karena pisang jarang ditemui di pulau ini. Rasanya yang manis sangat cocok dimakan saat siang hari. Karena Barongko disajikan ketika dingin. 
Selain itu ada kapurung yang berbahan dasar sagu dan campuran sayuran serta ikan. Makanan ini pun harus di-request kepada pembuat makanan. Karena makanan ini menggunakan jantung pisang sebagai salah satu bahan utama. Tak hanya itu, ada juga Bajabbu ikan selar yang wajib dicicipi oleh pengunjung Pulau Sebira. Bajabbu dimakan dengan nasi atau ketan (pulu). 

8.       Proses pembuatan Ikan Asin dan ekonomi kreatif produk olahan Ikan Selar 

Kegiatan pembuatan ikan asin bisa menjadi salah satu item wisata edukasi di Pulau Sebira. Para ibu-ibu disini sudah mulai menjemur ikan selar basah sejak pukul 5 pagi. Kegiatan ini dimulai dari memasukkan ikan selar kedalam vaskom yang kemudian diisi oleh garam. Pengunjung bisa ikut mengaduk kolam ikan selar. Setelah itu, keesokan harinya pengunjung bisa membantu para ibu-ibu untuk menjemur ikan selar di papan kayu. Setelah proses penjemuran, pengunjung bisa ikut memilih ikan asin sesuai dengan ukuran dan jenisnya. Di bagian ini pengunjung bisa membawa pulau ikan asin yang telah ia pilih untuk dijadikan oleh-oleh. 

Selain pembuatan ikan asin, pengunjung diajak untuk mengenal 5 ekonomi kreatif para ibu-ibu nelayan di Pulau Sebira. Sebut saja pembuatan bakso ikan selar, pempek ikan selar, selar crispy, nugget ikan selar, kerupuk ikan selar, tulang crispy ikan selar, dan abon ikan selar. Proses pengerjaan produk tersebut bisa dijadikan salah satu item wisata edukasi bagi pengunjung. 

 

9.       Melaut bersama nelayan

Kegiatan melaut bersama nelayan juga dimasukkan dalam list kunjungan ke Pulau Sebira. Tipe nelayan di Pulau Sebira adalah one day fishing. Para nelayan mulai melaut sejak subuh dan sudah kembali sekitar pukul 13.00 WIB. Waktu tangkap yang relatif singkat membuat kegiatan melaut bersama nelayan bisa dijadikan item wisata. Pengunjung diajak untuk memancing ikan selar, komoditas utama di Pulau Sebira. Sehingga wisata edukasi ini dimulai dari hulu ke hilir. Pengunjung diajak untuk mempelajari segala lini ekonomi di Pulau Sebira. 

 

mari berlayar

Itulah sedikit ide untuk Pulau Sebira jika kedepannya Pulau Sebira ingin dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata edukasi di Kepulauan Seribu. Pengelolaan ini baiknya dilakukan oleh masyarakat Pulau Sebira sendiri. Banyak pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat lebih berhasil dibandingkan dengan individu atau perorangan. Saya sangat tidak sepakat jika pengelolaan ini dilakukan hanya oleh individu.

“Jangan pernah memberikan nelayan seekor ikan, tapi berilah ia alat pancing,” –

proverb

Ditulis di ISKINDO 
22:52 WIB Jumat, 07 Oktober 2016 
Sambil denger lagu Akustik cinta-cinta

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *