Jong Dobo, Cerita Kapal yang Dikutuk

Jong Dobo
Minggu ini, (16/3), kami berencana melihat kapal yang dikutuk. Atas ajakan Mas Budi, kami pun berangkat ke daerah tersebut. Daerah yang dinamakan Dobo ini, ditempuh sekitar 30 menit dari Wuring. Setelah memasuki jalan masuk menuju Jong Dobo, ternyata perjalanan panjang dari jalan utama untuk menuju Jong Dobo lumayan panjang. Ada beberapa perkampungan mesti dilewati, yakni Kampung Habilopong, Apinggoot dan Wolomotong. Dengan kecepatan motor hingga 60 km/ jam, kami pun tiba sekitar 30 menit. Disambut dengan gapura dalam bahasa Sikka ”Uhet Dien Dat Hading” artinya, ”Selamat Datang, Pintu Terbuka”. 

Secara keseluruhan jong terlihat utuh. Jong ini berada di hutan Tuan Pireng, yang maknanya hutan sakti berupa hutan lindung yang digagas Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1932. Menurut Bapak Sergius, kami tidak boleh menduduki batu yang ada di bagian depan hutan. Kami pun langsung melihat ke dalam. Kami dipandu oleh Bapak Sergius, juru kunci Jong Dobo. Menurutnya tidak sembarang orang bisa masuk ke daerah ini. 
Syahdan, pada abad ke tiga sebelum masehi, ada kapal besar berlayar keliling dunia yang dipercaya berasal dari Dongson (India belakang). Menurut Bapak Sergius, kapal ini berlayar dari India, Thailand, Selat Malaka terus ke Indonesia melalui Sumatera, Jawa, Irian (Aru/Dabu), Bima, Labuan Bajo (Pulau Flores). Dari situ mereka berlayar melalui pesisir pantai utara Pulau Flores, di Bajawa (Kabupaten Ngada) mereka mampir di Koli Dobo dan meneruskan hingga perjalanan ke Ende. Dari Ende, mereka meneruskan perjalanan menuju Maumere (Kabupaten Sikka) dan berlabu di Waipare, Kecamatan Kangae.
Saat ini kita tidak akan melihat kapal berukuran besar. Tapi sebuah miniatur kapal yang terbuat dari perunggu. Sebuah kapal yang memiliki panjang 60 cm, tinggi 12 cm dan lebar 25 cm. Jong Dobo berisikan 22 kru kapal, terdiri dari kapten, tiga prajurit, 12 pendayung, tiga juru mudi dan enam penumpang bersebelahan dengan ayam dan gong. Menurut Bapak Sergius, ayam dibawa dalam perjalanan karena pada saat itu belum ada jam sebagai penunjuk waktu.
Jong Dobo dalam Bahasa Sikka terdiri dari dua suku kata. ”Jong” berarti perahu/kapal, sedangkan ”Dobo” adalah nama perkampungan, tempat disimpannya perahu tersebut. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya ”Perahu di Bukit Dobo”.
Menurut Bapak Sergius, kapal ini dikutuk setelah mereka melanggar perjanjian. Namun Bapak Arsinus tidak mengetahui janji apa yang telah mereka langgar. Keberadaan Jong Dobo pun sampai saat ini hanya diturunkan dari mulut ke mulut. Tidak ada naskah kuno yang menunjukkan keaslian cerita ini. 
Namun ada beberapa peneliti yang memiliki argumen mengenai artefak tersebut.   Sebut saja Dr. Th. Hoeven dan Prof. Hugh O’neil. Kedua ilmuwan ini mempunyai pendapat berbeda sesuai hasil penelitiannya. Menurut Ahli Bahasa Yunani dan Latin Dr. Th. Hoeven, artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Dongson, India Belakang atau Tiongkok, sekarang Vietnam pada abad 13 SM.
Sementara Prof. Hugh O’neil, Ahli Bangun Purba dan Modern dari Melbourne University, Australia, berpendapat, jika dilihat dari struktur dan bentuknya artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Sumeria pada abad 3 SM. Artefak ini dibawah dari Laut Tengah India dalam petualangan migrasi Suku India ke Indonesia. Perjalanan ini menghantarkan mereka sampai di Bukit Dobo dan meletakkan benda tersebut.
Setelah puas melihat Jong Dobo, kami pun melihat perkampungan Dobo. Desa yang dihuni oleh 37 kepala keluarga ini terletak diatas hutan lindung. Mereka berprofesi sebagai pekebun dan peladang. Para wanitanya berprofesi sebagai penenun kain tradisional khas Flores. Kami melihat menhir (batu tua) yang terletak di tengah desa. Menurut Bapak Sergius, setelah musim panen setiap tahun, mereka akan melaksanakan sebuah pesta selama tiga hari berturut-turut. Disana mereka akan mempersembahkan sesuatu bagi menhir tersebut. 
Saya lebih tertarik dengan kain khas Flores yang ditenun oleh ibu-ibu. Jahitan tangan yang sangat keren membuat saya tertarik untuk berbicara dengan salah seorang dari mereka. Dan akhirnya saya pun bisa berkenalan akrab dengan Aurelia Wancelina. (cerita Rintihan Anak-Anak Dobo). Setelah itu kami pun pulang ke Wuring. Kepala saya penuh dengan banyak hal. 
Namun ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada pemerintha Kabupaten Sikka. Misalnya perbaikan sarana rekreasi di Jong Dobo, karena sebenarnya Jong Dobo memiliki nilai daya wisata yang lumayan tinggi. Namun karena pengelolaannya yang masih sangat minim, membuat lokasi ini tidak terlalu dikenal. Belum lagi
desa Dobo yang bisa dijadikan objek wisata, belum terkelola dengan baik. 
Semoga saja, suatu saat pemerintah bisa melihat kawasan ini sebagai daerah wisata yang potensial. 
#Let’s Explore Indonesia 

Ditulis di Kost Wuring,
Minggu, 23 Maret 2014 15.50 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *