Kegundahan Hati Ketika Stasiun Digusur!

Ia menengok kanan kiri ketika ia menyodorkan sebuah bungkusan. Warna hitam. Ia seperti orang yang agak ketakutan, itu terbaca dari wajahnya yang terkesan terburu-buru. Ia menawarkan bros. “Saya membantu nenek saya yang lagi sakit untuk menjual bros ini,” ujarnya. Saya kaget, kenapa ia harus sembunyi-sembunyi menawarkan barang. Seperti bertransaksi narkoba saja. Tapi, saya urung menanyakan dan ikut bertransaksi.
Saya pun memilih beberapa bros yang ia tawarkan. Warnanya cerah-cerah. Terlintas Bunda yang akan cantik memakainya. Ketika saya membayar bros itu, saya mengajaknya ngobrol. Namanya Fajri, kelas 6 SD. Ia terpaksa berjualan seperti ini karena ada peraturan baru di stasiun Lenteng Agung hingga Bogor. Para pedagang kaki lima dipaksa keluar dari peron kereta api.
Pedagang yang menggantungkan hidupnya pada stasiun kereta api, dipaksa untuk keluar mulai dari bulan Desember lalu. Atas nama keindahan, para pedagang yang sudah berjualan lebih dari sepuluh tahun harus didepak. Fajri adalah satu korban dari kebijakan tersebut. Ia terpaksa berjualan di bawah tekanan. Sebentar-sebentar ia harus meyakinkan dirinya bahwa petugas tak melihat aksinya.
Stasiun Bojonggede – Pembangunan peron baru tanpa pedagang
Saya pun mengiyakan ketika ia pamit. Sepertinya ia mencari pelanggan lain yang mungkin bisa menghasilkan pundi rupiah. Saya tak menaruh prasangka. Bisa saja ia benar dan membutuhkan uang untuk neneknya yang sakit. 
Oke, sejujurnya saya bingung! kenapa pemerintah harus membersihkan para pedagang yang sudah berjualan lebih dari puluhan tahun. Parahnya lagi PT KAI memang menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk berjualan. Misalnya saja di Stasiun Depok Baru, Bojonggede, Citayam, Cilebut. 
Stasiun Depok Baru – Terlihat ruko-ruko rata dengan tanah
Apakah mereka mengerti jika nenek Fajri sedang sakit ketika tempat mereka bertahan hidup digusur? Apakah mereka tahu jika bukan hanya Fajri yang sedang menahan lapar ketika tempat mereka berdagang diinjak oleh petugas beringas? Apakah mereka sadar bahwa mereka bertindak dzalim?
Ah, terlalu banyak pertanyaan di kepala ku ketika membuat tulisan ini. Iseng, saya pun menuliskan kegundahan saya di media social. Pro dan Kontra saya dapatkan tentang penggusuran atas nama keindahan ini. Saya pun makin bingung! Pedagangpun kelaparan!
Akhirnya aku menyerah pada keadaan dan saya melakukan hal yang paling lemah. Yaitu berdoa dalam hati agar pedagang-pedagang mendapatkan jalan paling baik. Jalan yang bisa membuat mereka bertahan hidup tanpa melakukan perbuatan dosa… Amin ya rabbal alamin..
Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
#ditulis di home sweet home Bojonggede, Bogor, 
ketika gundah melihat banyak pedagang yang berdagang dengan sembunyi-sembunyi
14 Januari 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *