Kehidupan Muslim di Wageningen, Belanda

Sepertinya lagi ramai berita tentang Geert Wilders di Indonesia yang katanya benci sekali terhadap Muslim di Belanda. Gegara baca tulisan tentang GW, saya jadi ingin bercerita tentang kehidupan Muslim di Wageningen.

Saya tinggal di desa Wageningen, bagian dari Provincie Gelderland. Butuh waktu 2 jam untuk tiba di Den Haag ataupun Amsterdam. Karena lokasinya yang agak terpencil membuat saya sering mengingat Indonesia. Kampus Wageningen University and Research (WUR) ini seperti sebuah bangunan yang tiba-tiba ada di atas area persawahan. Haha.

Jadi saya akan menceritakan bagaimana kehidupan Muslim di kota kecil ini. Dengan total penduduk sekitar 38,405 di tahun 2017 dan sebagian besar penduduknya adalah mahasiswa dari kampus WUR yang berasal dari 150 negara. Mahasiswa luar Belanda yang terbanyak adalah Cina kemudian disusul oleh mahasiswa Indonesia. FYI, ada 300 an mahasiswa Indonesia di kampung kecil ini. Jadi bisa dibayangkan seberapa sering saya bertemu dengan mahasiswa Indonesia di area kampus maupun kota. 🙂

Bagaimana kehidupan di Wageningen?

Menjadi Muslim di Belanda rasanya lebih mudah daripada di US. Karena saya pernah mendapatkan pengalaman tak menyenangkan ketika summer course di US tahun 2013. Masih terekam jelas dalam ingatan ketika seorang ibu menunjuk-nunjuk jilbab yang saya kenakan di depan restaurant. Semoga ibunya baik-baik saja.. Aamin ya rabbal alamin 🙂

Nah, balik ke situasi di Belanda. Selama 10 bulan saya tinggal disini, saya gak pernah mendapatkan pengalaman yang tak menyenangkan. Karena selama ini saya selalu senyum-senyum sama semua orang yang saya temui dan mereka selalu membalas. Entah dengan kata “Hoi”, “Hi”, ataupun “Hallo”. Saya bisa katakan mereka sangat ramah untuk membalas salam dari saya.

Kebanyakan dari warga Belanda itu memilih untuk tidak beragam (atheis) sebanyak 50% dari total penduduk disini. Sekitar 39% memeluk agama Kristen Protestan , Katolik, maupun Reformed Church. Sedangkan sisanya diisi oleh penganut agama Islam (5%) dan agama lainnya (6%).

presentasi penganut agama di Belanda https://www.statista.com/statistics/527782/population-of-the-netherlands-by-religion/

Di dalam pengamatan pribadi saya, orang disini lebih terbuka membicarakan agama. Mereka tak mempermasalahkan apa yang agama kamu anut. Seorang teman dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang atheis walaupun orangtuanya masih sangat taat pergi ke gereja setiap minggunya. Banyak dari mereka yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Dan gelombang atheis ini terjadi kepada orang-orang muda, bisa dilihat dari grafik dibawah bahwa setiap tahunnya orang yang tak memiliki agama semakin bertambah.

Yang saya salut, walaupun mereka tak beragama tapi mereka sangat menghormati ajaran agama yang lain. Saya akan ceritakan di part selanjutnya yaa. 🙂

Bagaimana kehidupan Muslim di Wageningen?

Menjalani kehidupan sebagai orang yang memakai hijab disini , seringkali saya dilontarkan pertanyaan seperti

“Kok kamu pakai jilbab tapi orang Indonesia yang lain tak pakai jilbab?”

“Kamu pernah merasa panas gak dengan apa yang kamu pakai itu?”

“Kenapa kamu pakai jilbab? Sejak kapan?”

dan ribuan pertanyaan lainnya. Keingintahuan mereka sangat besar apalagi kalau kita sudah akrab sama teman-teman. FYI, orang Belanda dikenal dengan kepribadian mereka yang sangat straightforward (tanpa tedeng aling-aling) dalam menyampaikan sesuatu. Jadi sangat banyak pertanyaan yang saya dapatkan selama disini dan banyak yang sangat ‘ajaib’ menurut saya. Hahah.

Misalnya saja pertanyaan tentang bagaimana pengaruh budaya Belanda yang merubah kamu, apakah ada hal yang kamu ingin lakukan dan tidak bisa kamu lakukan selama di Indonesia, kenapa shalat harus menghadap ke Mekkah, kenapa kamu bisa salaman sama laki-laki sedangkan ada perempuan yang tidak bisa sama sekali, kenapa shalat harus pakai mukena, kenapa tidak bisa makan babi tapi ada orang muslim yang minum alkohol dan lain sebagainya.

shalat berjamaah di Number 3

Apalagi ketika mereka tahu bahwa saya puasa selama 18 jam dari subuh (3.45 CET) hingga maghrib yang notabene baru dimulai pada jam 22.12 CET. Mereka sangat bersimpati dengan apa yang saya lakukan. Selama saya berkuliah disini, saya bisa meminta izin untuk melakukan shalat wajib. Entah pergi ke mushollah di Radix ataupun shalat di dalam ruang kelas. Selain itu mereka juga selalu mengucapkan “Happy Praying” saat kami menuju mushalla kecil di Radix Building.

Selain itu saat Idul Fitri terjadi di saat hari tidak libur, teman-teman mengizinkan saya untuk tidak masuk ke dalam grup terlebih dahulu. Karena mereka tahu pada hari itu semua orang berkumpul dengan keluarga dan merayakan hari raya. Jadilah kami mendapatkan keringanan untuk libur satu hari. Alhamdulillah. 🙂

teman ACT yang sangat tenggang rasa

Akses untuk Beribadah

Yang paling saya suka tentang Wageningen adalah kota kecil yang sangat terasa percampuran kulturnya. Ada sebuah masjid yang didominasi oleh warga Maroko, tapi teman-teman dari Indonesia ikut shalat disana. Jika dalam keadaan terpaksa karena jadwal shalat berada di antara jadwal kuliah ataupun presentasi, kami bisa menggunakan tangga darurat sebagai tempat shalat. Karena itu saya selalu membawa mukena dan sajadah yang bisa masuk ke dalam tas.

Tapi sebenarnya di dalam wilayah kampus ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk shalat. Linknya bisa dilihat disini http://adlienerz.com/tempat-ibadah-di-sekitar-wageningen-university/. Walaupun saya shalat di tempat terbuka, mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

Apakah Makanan Halal susah didapatkan?

Alhamdulillah di Wageningen, makanan halal sangat mudah didapatkan. Mungkin karena kultur Indonesia masih sangat terasa di Belanda, jadi jangan heran jika kita bisa menemukan kerupuk, beras, sambal ABC, bon cabe, tempe, bahkan mie rebus disini.

sebagian besar anak-anak Indonesia di Wageningen

Untuk bahan makanan seperti daging, kita bisa membelinya di Toko Zam-zam ataupun Ivan Market. Jika ingin lebih murah bisa pergi ke Lale Market di pusat Kota Ede. Harganya? Daging yang dijual hampir sama harganya dengan yang dijual di Supermarket kok. Jadi tenang aja. Malahan banyak barang-barang yang dijual di toko tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan supermarket semacam Jumbo ataupun Albert Heijn.

Untuk barang-barang di supermarket, saya menggunakan applikasi Halal Code untuk melihat beberapa kode E yang digunakan di dalam barang tersebut. Ada beberapa kode yang sudah pasti menggunakan bahan yang haram yaitu E120, E441, E542, E904. Sedangkan kode E422, E470-E483, E542 haram jika menggunakan binatang.

Saya beberapa kali tak berhati-hati dan memakan barang yang mengandung unsur E470-E483. Jadi sekarang sudah lebih berhati-hati dengan apa yang saya beli disini.

Bagaimana dengan muslim dari negara lain di Wageningen?

teman saya dari Pakistan, Masuma
Shakzoda dari Uzbekistan

Untuk muslim di Wageningen sendiri cukup besar jumlahnya. Bisa dilihat saat shalat Idul Fitri ataupun shalat Idul Adha di masjid Wageningen. Selain itu sering ada buka puasa bersama dengan warga negara lain di masjid Wageningen saat ramadan menjelang. Saya sendiri punya beberapa teman muslim dari Uzbekistan, Lebanon, Iran, Mesir, Pakistan, Bangladesh, India, dan Malaysia.

Saya paling suka ketika Idul Fitri yang lalu, semua orang mengucapkan Eid Mubarak! Rasanya bahagia, seperti ada di rumah sendiri. Walaupun gak ada ketupat, tapi paling tidak semua orang saling berbahagia di hari yang bahagia.

Oia, tidak semua muslimah menggunakan hijab. Sama seperti di Indonesia banget kok heheh. 🙂 Jadi seringkali saya tidak mengenali hingga mereka mengucapkan salam terlebih dahulu Hehe.

Wrap up?

Balik ke soal si Geert Wilders. Emang sih doi benci banget sama muslim, tapi saya bertemu lebih banyak dengan orang yang tidak membenci muslim. Kenapa harus terfokus pada satu orang yang buruk tabiatnya?  Semoga Allah SWT merahmatinya dan memberikan ia hidayah. Aamin ya rabbal alamin 🙂

 

Sepertinya itu dulu yang saya ceritakan dalam blog kali ini. Nanti kalau ada yang ingin saya tambahkan, saya akan tuliskan di blog berikutnya. Hehe. 🙂

 

ditulis di Library Forum, WUR

19:07 CET, Friday 22 June 2018

sambil denger lagu I miss you milik Clean Bandit.

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.