Kekerasan ini WAJIB diakhiri!!!

 
Telinga kita sudah “panas” mendengar tawuran antarpelajar atau antar mahasiswa ini semakin menjadi-jadi bahkan masuk dalam kategori BRUTAL. Bahasa halusnya, SANGAT MENGERIKAN!!
Tawuran di dunia pendidikan itu telah menyebabkan pelajar ataupun mahasiswa tewas sia-sia. Dalam satu bulan terakhir, secara beruntun terjadi tawuran yang menewaskan enam orang siswa dan mahasiswa.Tengok kematian siswa SMA Negeri 6, Alawy Yusianto Putra yang dicelurit oleh siswa SMA lainnya. DUa hari berselang anak SMK Yayasan Karya tewas disabet celurit. Sebulan sebelumnya Jasuli, siswa SMP 6 tewas disambar commuter line. Ia meninggal ketika berlari menghindari massa. Di Bogor, tawuran juga menyebabkan tewasnya seorang pelajar, Agung. (Kompas, 19/10). 
Itu belum seberapa, baru-baru ini kita mendengar tawuran mahasiswa di Universitas Negeri Makassar pecah. Tawuran ini menimbulkan korban jiwa, yaitu Rizky Munandar dan Haryanto. Dan beberapa minggu sebelumnya Universitas Muslim Indonesia (UMI) terlibat tawuran antar fakultas. Buntutnya satu mahasiswa Teknik tewas dalam perkelahian tersebut.
Banyak alasan dari penyebab tawuran antar pelajar ini. Namun yang perlu kita garis bawahi disini adalah para pelaku tawuran mencari penghargaan, pengakuan, status!! Ketika mereka menang melawan satu kubu, ada pengakuan oleh teman-temannya. Ketika mereka berhasil melukai, semangat mereka semakin terbakar. Semacam kebanggaan di medan perang, tanpa tahu apa masalah yang akan ditimbulkan kemudian.
Setelah satu kubu menang, dan akhirnya kubu lain merasa dikalahkan, mereka akan balas dendam. Membawa pasukan lebih banyak lagi dan akhirnya tawuran massal pun tak terelakkan. Dan buntutnya tewasnya seorang pelajar atau bahkan luka-luka berat bisa didapatkan. 
Saya akui, masa-masa saat pelajar, kita masih mencari jati diri. Ketika kita tidak memiliki organisasi ataupun kesibukan diluar jadwal sekolah, maka tidak ada hal yang bisa kita lakukan dan buktikan kepada orang lain. Akhirnya tawuran menjadi salah satu jalan untuk mempertunjukkan kebolehan mereka di “medan perang”. Kita tidak bisa men-justifikasi mereka salah, karena sepatutnya masa-masa trasisi dari anak kecil hingga menjadi dewasa, harus bisa disediakan oleh sekolah ataupun keluarga. 
Pencarian jati diri para siswa ataupun mahasiswa harus bisa disediakan oleh institusi pendidikan. Karena tawuran yang terjadi di dunia pendidikan seharusnya mengedepankan intelektual dan dan kecerdasan. Jadi, sekolah harus bisa mencari solusi yang bisa dilaksanakan oleh para siswa. Misalnya, membuka organisasi minat dan bakat sebanyak-banyaknya. Karena pencarian jati diri bisa dilakukan dengan mengikuti minat dan bakat seseorang. 
Jangan pernah membiarkan tawuran sebagai salah satu kenangan nakal para siswa. Karena jika terjadi pembiaran, maka perselisihan yang menahun atau bahkan bertahan puluhan tahun itu terwariskan ke generasi selanjutnya dengan pewarisan Sense of Identity. Seperti yang terjadi di Universitas Hasanuddin, yaitu Fakultas Ilmu Sosial Politik dan Fakultas Teknik. kekerasan yang terjadi disana adalah “dosa warisan” senior-seniornya dan didistribusikan dengan baik pada masa pengaderan.
Namun, kenalakan para siswa dan mahasiswa harus diperhatikan oleh para orangtua. Kesibukan orangtua pun menjadi salah satu factor siswa kurang perhatian. Karena memang kasih sayang dibutuhkan dalam sebuah rumah. Dan factor agama butuh diberikan kepada siswa ataupun mahasiswa yang membutuhkan suplemen tambahan dalam pencarian jati diri. Jadi ada pengontrol yaitu shalat ketika mereka merasakan marah dan ingin memulai suatu perkelahian. 
Sudah, cukup.. kekerasan ini harus diakhiri…
Semoga Indonesia menjadi lebih baik dan anti KEBRUTALAN!! Hidup SISWA dan MAHASISWA!! Kita bisa menuju Indonesia lebih baik!!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *