Kemandirian Petani Menggeliat di Ketinggian 1100 mdpl #zakat360

Dari ketinggian 1.100 mdpl, saya melihat secara langsung bagaimana proses sayur-mayur dipetik dan kemudian ditransportasikan hingga bisa tiba di daerah perkotaan. Selama ini kebanyakan orang seperti saya hanya bisa mengetahui sayur mayur tersedia di pasar-pasar ibukota, tapi tidak mengetahui seperti apa cerita dibalik sayur mayur tersebut.

Bagaimana cara petani mengatasi kegagalan panen? Bagaimana cara petani melepaskan diri dari belenggu tengkulak yang masih banyak beroperasi di daerah-daerah? Bagaimana cara petani membasmi hama pertanian? Bagaimana cara agar nilai jual sayur bisa lebih tinggi? Dan beragam pertanyaan yang tak pernah saya dapatkan jawabnya. Dan kali ini Dompet Dhuafa, mengajak saya dan rombongan blogger lainnya untuk menyibak kisah tersebut.

Pagi itu, saya dan rombongan blogger diajak melihat keadaan Desa Sindangjaya yang terletak di Cipanas. Butuh waktu sekitar 2 jam hingga kami tiba di rumah pendampingan Green Horti Dompet Dhuafa yang masuk dalam daerah dataran tinggi. Untuk Desa Sindangjaya sendiri berada di ketinggian 1100 mdpl (BPS, Cianjur 2013). Sehingga tingkat kesejukan dan kesuburan untuk membangun usaha holtikultura menjadikan bisnis yang sangat bagus untuk dilakukan. Tak ayal, menurut data BPS, dengan luas daerah sekitar 287 ha membuat tingkat produktivitas Desa Sindangjaya termasuk yang tertinggi. Beberapa jenis sayuran menjadi komoditas utama daerah ini, misalnya saja sawi, lobak, wortel, sawi, daun bawang, labu siam, brokoli, cabe dan lain sebagainya.

Program Green Horti Mustahik Move to Muzakki

Kami mendengar penjelasan Kang Asep tentang program Green Horti

Kami diajak untuk bertemu dengan Kang Asep Hambali, pendamping dari Dompet Dhuafa yang setia menemani para petani di Desa Sindangjaya untuk terus berkembang. Dengan program Green Horti diharapkan para petani yang awalnya termasuk Mustahik (penerima zakat) Move to Muzzakki (pemberi zakat). Program yang dilaksanakan oleh Divisi Pertanian Sehat Masyarakat Mandiri ini dilaksanakan diatas lahan seluas 6 hektar. Dimana lahan ini dikelola oleh petani yang terdaftar dalam Paguyuban Sumber Jaya Tani. Kelompok ini terdiri dari 30 orang petani di 3 dusun terpisah.

Menurut Kang Asep, para petani ini mengelola masing-masing sekitar 2000m2 . Dimana 1500m2 dibidik untuk target pasar konvensional, sedangkan sisanya ditujukan kepada pasar pertanian organik. Sayuran yang mereka hasilkan mulai dari wortel, pokcoy, kailan, bayam jepang, jagung, lobak, seledri, bit, selada, kol, kembang kol, buncis, daun bawang dan brokoli. Hasil pertanian ini ada yang dijual ke pasar biasa, dan sisanya dijual ke supermarket. Kedepannya, Kang Asep berharap pasar ke mini market bisa lebih besar dibandingkan ke pasar konvensional. Karena itu Kang Asep beserta mitra tani terus melakukan inovasi.

Melepas Sistem Kerja Tengkulak

Hampir di setiap tempat selalu ada yang namanya tengkulak. Merekalah yang memberikan harga yang terkadang seenak hatinya kepada para petani. Hal inilah yang membuat para petani agak sulit untuk berkembang. Biasanya tengkulak memiliki moda transportasi dan jaringan di pasar-pasar. Sehingga para petani hanya tinggal membawa hasil panen ke tengkulak untuk dijual. Karena itulah, tengkulak bisa dengan mudahnya menentukan harga. Itu adalah tipikal kejadian yang sering ditemui di daerah-daerah pegunungan dan pesisir.

Kang Asep dan Mang Jajat di deket Butternut Pumpkin

Selama ini para petani hanya menjual sayurannya ke tengkulak di daerah Cipanas. Para tengkulak ini biasanya membanderol harga dari petani dengan sangat murah. Pembayaran pun dilakukan seminggu sekali. “Bahkan tidak jarang, jika sayuran tidak laku di Jakarta, ada kemungkinan pembayaran harga tidak dilakukan sama sekali,” ujar Kang Asep. Karena itulah Green Horti ini memiliki target agar sayuran para petani ini bisa habis dan mempunyai harga jual yang lebih tinggi. Kang Asep bersama tim tani memiliki jadwal panen seminggu sekali yang sudah memiliki target jual. Setiap Selasa dan Rabu, sayuran organik dipanen dan dipasarkan ke daerah Jakarta, Bogor, Depok dan sekitarnya.

Prosesnya setelah sayuran dipanen dan kemudian dibersihkan, sayuran ini ditimbang sesuai dengan permintaan pasar. Kemudian sayuran melalui proses packing yang lebih baik, sehingga sayuran terlihat bagus dan segar. Mereka bekerja di sebuah saung yang terletak di dekat jalan raya. Para petani biasanya bekerja hingga malam hari. Setelah itu saat subuh, sayuran ini mulai diantarkan ke agen-agen. “Biasanya agen-agen ini adalah ibu-ibu yang bekerja di perusahaan,koperasi karyawan, guru-guru sekolah. Kami belum bisa masuk ke supermarket besar karena modalnya belum masuk dengan cepat. Semoga ke depannya kita bisa memasukkan produk disana,” ujar Kang Asep.

Sehingga saat ini para petani yang tergabung di dalam kelompok tani bisa melepaskan diri dari sistem kerja tengkulak yang seringkali mencekik. Bagaimana para petani akan maju jika harga sayuran yang terus dibeli dengan harga rendah? Hiks.

Jerih Payah yang Terbayar

Packing sayuran

Setelah berbincang dengan Kang Asep, kami diajak untuk mengelilingi salah satu kebun milik kelompok tani. Kami bertemu dengan Pak Jajat, si pemilik kebun. Ia menjelaskan mengenai skema bantuan yang diberikan oleh Dompet Dhuafa sangat bermanfaat bagi dirinya serta keluarganya. Menurut catatan dari Dompet Dhuafa, dengan program ini, para petani sudah bisa menghasilkan 1,5 – 4 juta setiap anggota kelompok. Tapi ternyata ada manfaat lain bagi Pak Jajat. “Sekarang para anggota tani senang berdiskusi, apapun kita omongin. Mulai dari tanaman yang akan ditanam, diskusi tentang keuangan, dan lainnya. Dulu tidak ada kegiatan diskusi seperti sekarang. Selain itu sudah terasa gotong royongnya” ujarnya.

Kebun Pak Jajat masuk dalam golongan tumpang sari. Tidak hanya satu jenis sayuran yang ia tanam. Biasanya satu petak lahannya ditanami oleh dua jenis tanaman. Misalnya saja kembang kol dengan daun bawang, lobak dengan daun bawang, wortel dengan daun bawang, pokcoy dengan tomat, dan lain sebagainya. Hal ini membuat tingkat produktivitas lahannya digunakan secara optimal.

segar banget kan?

Setelah itu kami diajak untuk melihat saung dimana sayuran ini dipacking sebelum dijual ke kota-kota. Saat ini pihak Dompet Dhuafa telah memberikan pelatihan packing kepada para petani, sehingga sayuran mereka tidak seperti sayuran biasa. Ada plastik dengan nama kelompok tani. Nama produknya adalah SAE. Keren bukan?

#Zakat360 Buka Belenggu Kemiskinan

Rasanya, program seperti ini harus dibuat lebih banyak lagi. Pendampingan agar para penerima zakat bisa bergerak menuju kemandirian dan pada akhirnya bisa menjadi pemberi zakat. Saya jadi ingat pepatah Cina, janganlah beri seseorang ikan, tapi berilah ia pancingan agar bisa mencari ikan setiap hari. Hal inilah yang sepertinya diterapkan oleh Dompet Dhuafa dalam mendampingi para petani. Mereka ikut mendampingi dari setiap sendi yang dibutuhkan oleh para petani agar bisa mandiri.

Tapi darimana Dompet Dhuafa bisa ikut bersinergi bersama para petani ini? Uang zakat yang selama ini diterima dari para muzakki di seluruh Indonesia, digunakan untuk memberikan bantuan kepada para petani ini. Mulai dari pemberian bibit, mobil, sprayer, dan lainnya. Namun diharapkan para petani ini akan menuju kemandirian, setelah dua tahun, Dompet Dhuafa akan melepas pendampingan para petani. Saat ini sudah berjalan selama setahun, para petani memiliki iuran yang digunakan sebagai kas bersama.

Kegiatan Media & Blogger Gathering

Program Green Horti ini merupakan salah satu bagian dari #zakat360 yang digagas oleh Dompet Dhuafa. Dimana diharapkan penerima manfaat akan benar-benar mengubah 360 derajat hidupnya menjadi lebih baik.

Tapi apa itu Dompet Dhuafa?

Dompet Dhuafa merupakan lembaga amil yang menerima zakat, sedekah dan wakaf untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak. Selama lebih dari 23 tahun, Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, kebencanaan serta CSR.

Saya merasa #zakat360 bisa dijadikan sebuah gerakan bagi seluruh pemberi zakat untuk bisa merubah ekonomi. Karena dengan zakat, banyak hal yang bisa diintervensi . Yuk, mulai zakat di lembaga zakat. Karena dengan uang saya sendiri tidak mungkin bisa membuat program sekeren ini. Namun kalau kita lakukan ramai-ramai, secara otomatis program keren seperti ini akan terus berjalan dan menciptakan kemandirian sosial.

Zakat bisa dilakukan di stand-stand Dompet Dhuafa dimanapun. Biasanya banyak stand Dompet Dhuafa di mall besar. Atau bisa langsung membayar zakat melalui website online www.dompetdhuafa.org milik Dompet Dhuafa.

 

Ditulis di Kamar kost Depok

10:00 WIB Sabtu, 10 Juni 2017

sambil mendengarkan suara kipas dan playlist milik Yiruma

You may also like

4 Comments

  1. xoxoxo…
    itu atas foto kang dian mulya dah saes kang Asep.
    Keceh ya dari zakat yang terkumpul DD mrmberi manfaat memberdayakan banyak pihak

  2. iya. seneng ngeliat progress para petani ini. Sudah bisa menuju kemandirian. semoga ke depannya semakin banyak kelompok petani yang diberdayakan. aamin ya rabbal alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *