Kemiskinan di Lumbung Timah

Tampak depan Museum Timah Indonesia
Perjalanan pulang dari Universitas Bangka Belitung ke Pangkal Pinang saya melihat Museum Timah Indonesia. Melihat plang museum, saya pun berteriak kepada supir bis untuk berhenti. Ternyata sudah sangat jauh dari tempat pemberhentian bis tadi. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.40 WIB membuat saya khawatir. Jangan-jangan museumnya sudah tutup. Saya pun berlari tanpa memedulikan tatapan aneh orang yang berlalu. Mungkin mereka bingung dengan perempuan yang membawa carrier 70 liter dan berlari-lari. πŸ˜€
bentuk timah yang diekspor ke luar negeri
Setelah menempuh jalan yang lumayan jauh, museum ternyata masih terbuka. Alhamdulillah.. ada seorang bule yang keluar. Saya langsung foto-foto dan memperkenalkan diri kepada bapak petugas museum. Namanya Pak Taufik. Saya taksir umunya sekitar 40 tahun dan beliau mulai memperkenalkan seluk beluk dan sejarah museum ini. 
Museum Timah Indonesia adalah museum teknologi pertimahan yang dikelola oleh PT Tambang Timah (Persero). Untuk masuk ke museum ini kita tidak perlu membayar sepeserpun. Cukup menuliskan nama dan alamat kita di buku tamu. Museum yang berdiri pada tahun 1958, dibangun dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkenalkannya pada masyarakat.  
Di dalam museum kita bisa melihat awal sejarah penambangan timah di Pulau Bangka yang sudah dimulai sejak abad 18. Hal ini bisa dibuktikan dengan diketemukannya peralatan penambangan timah di daerah Penagan, dekat Kota Kapur.
penggambaran penggalian timah secara ilegal
Museum timah seperti ini hanya ada satu di Asia Tenggara. Menurut pak Taufik, sebagai penghasil timah, negara lain seperti Malaysia dan Singapura tidak punya museum seperti ini. Timah di Indonesia dengan kualitas paling baik tidak mendapatkan harga yang sesuai. Padahal timah di Indonesia mengandung mineral ikutan (rare earth) yang harganya lebih mahal dibandingkan timah itu sendiri. Misalnya saja mineral jenis monozit yang turunannya uranium dan torkium. Uranium dikenal sebagai penghasil nuklir dan memiliki harga yang sangat tinggi di pasar dunia. selain itu mineral seperti zirkon, elminit juga dihasilkan disini. Parahnya mineral seperti Uranium yang menghasilkan radiasi belum bisa diolah dengan baik dan baik untuk lingkungan. Apalagi para penambang liar yang tidak mengerti apapun mengenai hal tersebut.
Karena itulah saat ini banyak anak muda Bangka yang disekolahkan untuk mempelajari mineral-mineral ini. Mudah-mudahan mereka bisa merubah nasib warga Bangka menjadi lebih baik. Karena di tangan merekalah, Bangka memiliki harapan besar. 
Informasi dari Pak Taufik, timah ilegal di Indonesia biasa di ekspor ke Cina. Maka jangan heran jika banyak produk-produk handphone murah. Karena mereka mendapatkan bahan baku dari Indonesia dengan harga yang sangat murah. Namun saat ini sudah ada aturan yang lebih mengikat. Penjualan timah harus dilakukan di Bursa Efek Jakarta, jadi mulai agak sulit untuk menjual timah ke luar negeri. Semoga saja aturan ini diberlakukan dengan cepat, agar para penjual timah ilegal tidak bisa mendapatkan keuntungan. 
Karena hal ini bisa merugikan negara. Bayangkan saja Malaysia dan Singapura yang daerah penambangan timahnya tidak seluas Indonesia, malah memiliki hasil tambang yang lebih besar daripada Indonesia. Banyaknya penambangan ilegal yang menjual ke luar negeri tanpa dokumen yang jelas dan tidak melalui badan penjualan yang sah. Menyedihkan… 
Tapi, saya dan Pak Taufik yakin bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik. Jika anak-anak muda saat ini bekerja dengan hati dan tidak akan mengulangi kesalahan para pemimpin di saat ini. Kami sama-sama saling berdoa agar anak muda Indonesia bisa memajukan negara… Aamin Ya Rabbal Alamin..  

Saat itu saya meneteskan airmata selama perjalanan pulang…

Bandara Depati Amir
6 Desember 2013 10:30 WIB

Jenis mineral yang ada di Bangka
Replika prasasti Kota Kapur

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *