Kepada Konsumen yang Terhormat. . .

sehabis pembakaran hutan, muncul bibit-bibit kelapa sawit (sumber : kaskus.co.id)
Sudah lebih dari tiga bulan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan tidak mereda. Walaupun sudah dilakukan banyak hal, namun asap tetap ada. Hingga tulisan ini terbit di hadapan anda, asap masih setia berkelindan di langit barat Indonesia. 
Pembakaran lahan yang diasumsikan berasal dari para industri kelapa sawit, membuat ribuan orang menderita. Udara segar menjadi barang langka yang didapatkan para warga. Sudah puluhan korban tak berdosa yang mati sia-sia. Mereka menghirup asap berhari-hari tanpa jeda. Hingga akhirnya kumpulan asap bertahan lama di dalam rongga paru-paru mereka. Dan penyakit pun mulai berdatangan. 
Pertanyaannya sekarang, “kepada siapa keresahan ini harus dialamatkan?”. Apakah kepada Presiden? kepada Industri? kepada pembakar lahan? Atau mungkin kepada diri kita sendiri? 

Pasti banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya mengalamatkan keresahan pada diri kita sendiri? Bukankah kita hanya manusia biasa yang tidak memiliki power apa-apa dalam masalah besar sedemikian rupa? 
Kawan, bukankah semua yang kita pakai saat ini memiliki dampak besar dalam kebakaran hutan? Coba kalian periksa setiap benda yang kalian gunakan sehari-hari. Apakah disana tertulis mengandung “palm oil atau kelapa sawit” atau mungkin sudah hasil turunan dari minyak kelapa sawit?. Seperti mentega, selai kacang, minyak goreng, sabun, sampo, deterjen, tinta, dan lain sebagainya. 
kelapa sawit dan turunannya (sumber : hopland.com)
Nah, produk-produk itulah yang memiliki imbas signifikan terhadap keadaan di Sumatera dan Kalimantan saat ini. Karena apa? Karena permintaan produsen yang terus membesar terhadap produk-produk ini, industri pun semakin membuka lahan kelapa sawit besar-besaran. Pembukaan lahan hutan tropis untuk menjadi lahan kelapa sawit secara tidak langsung didukung oleh para konsumen di luar sana. 
Konsumen merupakan tingkat paling atas dalam rantai perdagangan. Setiap barang yang dipilih oleh konsumen memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Walaupun setiap barang yang memiliki eco-label biasanya lebih mahal, namun artinya kita ikut berkontribusi terhadap kelanjutan dunia yang sudah semakin tua dan renta. 
Konsumen memiliki power yang bisa kita andaikan sebagai People Power. Kekuatan inilah yang bisa membuat dunia lebih baik walaupun sedikit. Dan sebenarnya apa sih yang bisa dilakukan oleh konsumen seperti kita dalam hal ini? 

Menurut WWF, konsumen bisa memulai dengan gerakan #beliyangbaik. Sebuah gerakan yang membuat hidup lebih baik. Ada tiga cara sederhana yang bisa kita lakukan, yaitu : mengenal: mencari tahu serta memahami tentang latar belakang produk sebelum mengkonsumsinya, meminta: penjual untuk menghadirkan produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta mengajak: lebih banyak orang untuk menerapkan gaya hidup hijau dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenali produk yang baik adalah melihat asal usul produk tersebut. Satu hal mudah untuk mengetahui produk kelapa sawit yang ramah lingkungan, kamu bisa mengecheck apakah pabrik pengolahan kelapa sawit tersebut sudah menjadi anggota Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Didirikan pada tahun 2004, organisasi nirlaba ini menjadi salah satu organisasi yang diakui oleh dunia. Saat ini sudah memiliki 2.300 anggota dari 78 negara termasuk Indone
sia. Dengan melacak kelapa sawit yang digunakan oleh sebuah produk, kita bisa mengurangi para pelaku industri nakal yang seringkali membakar hutan. 
produk-produk yang sudah menggunakan label RSPO (sumber : @RSPO.org)
Namun masalahnya saat ini adalah, produk-produk yang sudah menggunakan kelapa sawit ramah lingkungan belum memberikan keterangan jelas pada produknya. Konsumen belum bisa menemukan stiker berlabel RSPO pada produk-produk di pasaran. Padahal label ini sangat penting bagi konsumen, agar konsumen bisa memilih produk mana yang baik. Sehingga para konsumen dapat membeli dengan bijak. Disinilah tugas para konsumen untuk meminta produsen untuk menghadirkan produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta memberikan label sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. 
Cara ketiga adalah mengajak lebih banyak orang untuk melakukan gaya hidup hijau. Misalnya saja mengurangi penggunaan bahan-bahan yang menggunakan kelapa sawit serta turunannya. Sebagai contoh menghemat penggunaan sabun dan membeli produk sabun alami, mengurangi penggunaan margarin atau minyak goreng (disiasati dengan mengukus bahan makanan), dan juga dengan cara mandi sehari sekali. Hehehe. 
Itulah cara-cara sederhana yang bisa dilakukan oleh seorang konsumen. Terlihat mudah dan sepele, namun hal ini benar adanya. Jika bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? 
Semoga kejadian kabut asap di Sumatera dan Kalimantan segera diselesaikan. Dan para oknum-oknum industri pembakar hutan segera ditangkap. Jika ternyata terbukti para pelaku industri pembakar hutan adalah anggota RSPO, maka tolong segera tindaklanjuti masalah ini. Jangan sampai ada korban lagi. . .

dan harus diingat eco label atau dalam hal ini RSPO tidak akan memperbaiki pembakaran hutan secara langsung, namun bisa dikatakan sebagai salah satu jawaban kepada deforestasi hutan yang sudah sangat menyedihkan.

“RSPO wont be the answer of deforestation, it will be part of the answer”…


Nah, selama Produsen produk belum mengeluarkan label RSPO di produknya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung pelestarian hutan dari pengambilan lahan kelapa sawit.

  • 1.       Pilih produk yang tidak menggunakan kelapa sawit. Misalnya, untuk minyak goreng, gunakan minyak Cranola, minyak jagung atau minyak dari biji bunga matahari.

  • 2.       Jika membeli sabun atau shampo yang mengandung minyak kelapa sawit, gunakan sehemat mungkin. Mandi sehari sekali sudah cukup kok. 😀

  • 3.       Jika memungkinkan, belilah sabun batang. Dibandingkan sabun cair, sabun batang mengandung minyak kelapa sawit lebih sedikit. Saya menyarankan untuk membeli sabun batang alami yang dibuat dari rempah-rempah, karena tidak menggunakan minyak kelapa sawit sama sekali dan lebih sehat.

  • 4.       Jangan gunakan produk seperti tisu, kertas yang disinyalir berasal dari perusahaan yang membakar lahan hutan.

 

beberapa produk Luar Negeri yang sudah menggunakan label RSPO
beberapa artis yang mendukung #beliyangbaik

Ditulis di kantor Kak Agus
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis #beliyangbaik WWF dan RSPO
23:05 WIB Kamis, 22 Oktober 2015
#melawanasap #beliyangbaik

You may also like

6 Comments

  1. Saking dendamnya sm sawit, aku skr masaknya pake minyak Barco. Yaa meskipun lbh mahal sedikit dan blm mengenal penggunaan lainnya, paling enggak dendam sedikit terbalas #putrianaknyadendaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *