Keseruan Gathering Pertama TBI di Villa La Lita

peserta 1st TBI Gathering (exclude kak Vika)
Setelah dipaksa minum susu cokelat oleh Bunda, saya pun berangkat dari rumah. Jam menunjukkan pukul 6.45 WIB. Saya segera meminta Majid untuk mengantar saya ke pangkalan angkot. “wah, bisa-bisa saya telat nih tiba di Stasiun Bogor,” pikir saya saat itu. Karena dua hari sebelumnya, saya berjanji akan mengibarkan bendera di Stasiun Bogor. Lokasi titik kumpul teman-teman Travel Blogger Indonesia (TBI) pada hari Sabtu (29/8).
Akhirnya saya tiba di Stasiun Bojonggede pada pukul 7.24 WIB, saya pun segera mengejar kereta ke Bogor yang sudah datang di Peron 1. Setibanya di Stasiun Bogor, perut tiba-tiba melilit. Saya pun segera kabur ke WC. Setelah menghabiskan beberapa menit di dalam WC, saya pun segera mengibarkan bendera merah putih. Menjadi titik kumpul para blogger-blogger yang selalu saya temui di dunia maya.
Saya bertemu Wira Nurmansyah pertama kali. Ia tak sebesar yang saya kira. Karena ada foto dirinya dalam bentuk yang sangat jumbo. Hahah. #sorry kak Wir. Kemudian menyusul Kak Bobby, Kak Indri, kak Bulan, kak Titi di kereta berikutnya. Setelah itu kak Firsta dan Shabrina di kedatangan berikutnya. Kami pun segera berkumpul dengan geng mobil yang dikemudikan oleh Koh Har. Disana saya bertemu dengan kak Lee, kak Fahmi Kucing, kak Putri, kak Tracy, kak Nugi. Kemudian ada geng Bogor yaitu kak Badai dan kak Fel. Sedangkan kak Astin jauh-jauh datang dari Semarang untuk menghadiri acara ini. Hingga akhirnya kak Olyvia dan kak Ridwan datang menyusul sebagai kloter terakhir.
kloter pertama anak kereta. 😀
Setelah itu, kami menunggu kedatangan kak Vika, untuk segera berangkat menuju Villa La Lita di Gunung Bunder. Kami menyewa angkot seharga 200 ribu untuk diantar hingga di depan pintu Villa La Lita. Harga tersebut disepakati setelah terjadi tawar menawar yang sangat alot dan berganti beberapa sopir angkot. Kami pun segera membagi diri dengan cantik di tiga mobil. Saya menaiki angkot bersama dengan kak Olive, kak Badai, kak Bulan, kak Titi, kak Firsta, kak Lee, dan Nugie. Tunggu, apa ada yang saya lupakan? #lanjut….
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kami pun tiba di Villa La Lita. Lokasi villa yang terpencil membuat villa ini berkesan eksklusif. Ketika memasuki pintu masuk, kita disajikan kopi atau teh sebagai minuman pembuka. Saya tertarik dengan jajaran koteka dan juga sangkar burung di tepi ruang makan. Saya menangkap si pemilik villa ini mempunyai selera artistik yang sangat unik. Ia mampu memadumadankan ruangan makan yang cozy dan terlihat hangat.
Di villa ada 5 ruang kamar yang nyaman. Empat kamar di lantai atas, dan satu kamar di lantai bawah. Selain itu ada ruang televisi untuk bersantai, ada juga ruang keluarga dimana semua anggota TBI bisa ngobrol. Desain interior villa ini sangat lembut dan terkesan mewah. Karena penggunaan lantai dan dinding dari kayu mahoni. Satu lagi, setiap sudut rumah ini sangat instagramable. Karena sudut-sudut rumah ini sangat unik.
Setelah memilih kamar di lantai atas, saya pun segera berkumpul dengan teman-teman TBI di ruang makan. Kak Bulan sudah memperkenalkan diri sebagai moderator di acara games siang kali ini. Ia membuat permainan yang membuat semua orang saling mengenal satu sama lain. Kami diminta untuk menuliskan kalimat yang menunjukkan ‘siapa diri kita’. Saya segera menuliskannya :
1.       Paling suka naik motor gede
2.       Suka naik sepeda, tapi gak bisa boncengan. Karena belum ada boncengannya
3.       Punya 6 kacamata tapi patah semua
4.       Lupa
5.       Lupa
Setelah menuliskannya, kami pun mengumpulkan kertas tersebut dan segera dikocok oleh kak Bulan. kami disuruh menebak milik siapa kertas tersebut. agak sulit untuk menebak di awal-awal, karena ada bebe
rapa peserta TBI yang belum saya kenal dengan baik. Karena ini adalah gathering pertama bagi saya. Namun hal ini tidak berlaku bagi kak Titi, ia dengan mudah menyebut empu si pemilik kertas. Hingga di akhir games, ia pun didaulat sebagai pemenang.
Setelah puas bermain games, pihak panitia pun menyediakan makan siang. Menu siang itu sangat lezat, rasanya sangat aneh jika harga yang dibayarkan mampu menyediakan makanan selezat itu.
SKIP
Puas makan dan sempat tambah, kami pun digiring menuju teras villa oleh kak Olyv. Menurutnya sang pemilik villa, kak Lita Jonathans akan memberikan kami kelas gratis cara berkreativitas dengan telur. Selama ini jika mengingat telur yang diwarnai, pikiran saya akan segera melayang ke acara paskah. Di sebuah game racing yang mainkan ketika SD dulu, ada sebuah event Easter Egg. Setiap pembalap harus mengumpulkan telur-telur yang sudah diwarnai. Dan disini, saya diajarkan untuk membuat telur-telur tersebut.

 

salah satu telur lukis
Pertama-tama kak Lita mencontohkan cara mengosongkan isi telur. Telur ayam yang masih bagus, dilubangi dengan menggunakan paku. Sebelumnya di bagian yang tidak runcing, telur diberikan tanda titik menggunakan pensil. Setelah terlubangi, siapkan suntikan besar. Masukkan jarum suntik ke dalam lubang tersebut. jangan disedot, tapi keluarkan anginnya di dalam telur. Hal ini membuat isi telur keluar dan tidak merusak kulit telur.
Setelah telur dirasa kosong, masukkan air yang sudah dicampur dengan cuka (konsentrasi 70%). Hal ini dilakukan agar telur benar-benar bersih dari isi telur. Karena menurut kak Lita, ia pernah mendapatkan belatung hidup di dalam telur yang sudah siap dijual. Dari pengalamannya, jika masih ada sisa telur di dalam cangkang telur, lalat akan hinggap dan menyimpan telur dan berkembang biak menjadi belatung di dalam cangkang yang telah diwarnai.
Karena itu proses pembersihan menggunakan cuka sangat penting. Namun yang perlu diingat, jangan terlalu banyak cuka, karena akan melembutkan cangkang telur sehingga tidak bisa dihias. Setelah cangkang telur dirasa sudah bersih, keringkan di bawah sinar matahari. Agar air cuka yang masih tertinggal di dalam cangkang benar-benar kering.
Cangkang telur pun siap dihias. Ada beberapa metode penghiasan, ada metode lukis, metode pemberian manik, metode telur lepas, dan lain sebagainya. Menurut kak Lita, telur yang digunakan bukan hanya telur ayam. Namun ada juga telur burung Kasuari, Cendrawasih, bebek. Ia juga pernah mencoba telur reptil sebagai bahan percobaannya, namun gagal. Karena karakteristik telur reptil gampang lunak di bawah sinar matahari. Ini kenapa telur reptil disimpan di dalam sarang oleh induknya.
Setelah puas mendapatkan pengajaran dari kak Lita, kami diajak untuk melihat galery La Lita secara langsung. Ternyata usut punya usut, kak Lita adalah seorang pengrajin telur yang sudah sangat terkenal. Kemahiran beliau dalam menyulap cangkang telur menjadi bernilai membuat ia termasuk jajaran seniman ternama.
Galeri sekaligus rumah milik kak Lita sangat mengesankan. Walaupun saya memiliki selera seni yang rendah, namun saya paham bahwa rumah kak Lita ini memiliki karya seni yang sangat tinggi. Saya bisa dengan mudah menemukan hiasan-hiasan ataupun ornamen yang sangat indah. Kami diajak berkeliling, ada kambing, kelinci, anjing, burung-burung, selain itu kami diajak melihat langsung galeri dan ruang pembuatan karya seni yang dihasilkan oleh kak Lita. Awesome!

 

sudut teras villa la lita
Setelah itu, kami segera beristirahat dan bergantian memasuki kamar mandi. Sesi acara pun dilanjutkan untuk sesi makan malam dan bercengkrama di ruang keluarga. Kami berbincang-bincang mengenai TBI dan apa yang harus dilakukan kedepannya. Tapi di dalam forum ini, rasanya kami lebih banyak bercanda dan tertawa hingga akhirnya jam dinding tua sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami segera tidur karena besok pagi akan ada sesi hunting sunrise di hutan pinus.
Skip.. saya kayaknya ngiler nih… 
Pagi di hari Minggu, saya menemukan pintu kamar sudah terbuka lebar. Saya tidur sendirian di atas kasur. Saya pun segera mengecek perlengkapan kamera dan lain sebagainya. Dalam pikiran saya, apapun yang terjadi saya harus menyusul mereka.
peserta hunting sunrise di hutan pinus
Saya pun melompat pagar untuk keluar dari villa. Karena pintu pagar terkunci. Saya segera mengikuti insting dan bertanya pada seorang ibu yang kebetulan akan pergi ke pasar. Ia menunjukkan bahwa hutan pinus berada di dekat pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya pun segera mengucap salam pada penjaga gerbang. Mereka pun menyilahkan saya masuk tanpa membayar apapun. Hihi. Mungkin muka saya terlihat seperti warlok. #wargalokal
instagramable banget kan tempatnya. hehehe
Sudah ada beberapa anggota TBI yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kami dipandu oleh kak Wira untuk mengambil gambar sunrise. Tapi sayangnya perut saya tidak bisa diajak kompromi, dua kali saya bolak-balik kamar mandi. #abaikan. Setelah itu kami hunting di sekitaran hutan pinus. Tempat ini cocok untuk melakukan foto pra wedding. #eh. Puas mengambil foto, kami pun segera pulang dan menikmati sarapan yang sudah disediakan.
Setelah sarapan selesai, kami segera bersiap-siap untuk pergi ke air terjun Cigamea. Dengan tiket 10 ribu untuk masuk ke TNGHS, kami bisa memilih untuk masuk ke 6 air terjun yang tersedia. Yaitu Curug Cihurang (8 km), Curug Ngumpet I (3 km), Curug Pangeran (3km), Curug Ngumpet II (2.5 km) dan Curug Cigamea (1.5 km). Dan pilihan kami jatuh di Curug Cigamea, sepertinya karena trek yang paling pendek deh. Hihih.
perjalanan menuju air terjun Cigamea 😀
kece banget kan pemandangannya. heheh
Untuk menuju Curug Cigamea dibutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk tiba disana. Setibanya di air terjun, ternyata debit air sedang sedikit, sehingga air tidak terlalu deras. Sayangnya banyak sampah disana-sini. Malah saya sempat menemukan kotoran manusia diantara sampah-sampah. #hiks. Untung gak keinjek. 🙁
Setelah puas berfoto, kami pun segera pamit dan berangkat menuju villa. Karena kamar mandi hanya tiga, kami pun harus puas untuk mengantri kamar mandi. Hihi. Lucu. Tak lama kemudian, kami dipanggil untuk melakukan games lagi di ruang keluarga. Kali ini adalah games menebak mimik muka. Ada tiga kategori yang ditebak, yaitu Pepatah, Istilah dan Goyang. Pastilah yang paling mudah itu goyang. Hahah. Lucu aja lihat kak Ridwan, kak Putri dan kak Fel harus menirukan goyangan yang terkenal di Indonesia. Saya malah dapat giliran untuk memberikan clue tentang Peribahasa. Yang lucu adalah ketika kak Ridwan menebak peribahasa tersebut. “Gajah di pelupuk mata tak terlihat, kuman di seberang terlihat juga,” ujarnya polos. Wkwkwkw. Kami spontan langsung tertawa dan mengingat kata-katanya tentang kuman..

Games tersebut dimenangkan oleh kelompok tiga. Masing-masing mendapatkan kaos keren. Hiks. Mauuuuu… tapi liburan bersama geng TBI ternyata sangat seru dan menyenangkan. Saya sudah berhasil menjadi anak yang baik dan tidak banyak cincong. hihihi

Terima kasih kak Lita dan Olyvia atas kebaikannya. Hihi. Terimakasih untuk para panitia yang sudah susah-susah mau ngumpulin kita-kita (kak Firsta, kak Hartadi, kak Indri). Terima kasih juga untuk MC gila, kak Bulan. terima kasih untuk semua member geng yang hadir dan sudah gila-gilaan. Walaupun saya tetap gak ikutan gila. Ahaha. DANKE!!!
Ditulis di ruang tunggu intermediate Rumah Sakit Harapan Kita
22:16 PM Minggu, 6 September 2015
 credit photo : Wira Nurmansyah, Hartadi Putro, Felicia Lesmana
senyum bahagia. hehehe.

You may also like

19 Comments

  1. seruuuu banget. ternyata anak TBI gila-gila. 😀
    Yaahhh. inshaa Allah akan ada gathering lagi kok kak. Prepare yourself yaaa kak. hihihi. 😀

  2. serruuu. ayok gabung. 😀
    inshaa Allah akan ada gathering kayak gini lagi, 6 bulan ke depan. so prepare yourself yaaa . eh kapan nih kita meet up lagi? sebelum kamu balik ke Makassar. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *