Ketika Pemburu, Diburu!! (kasus perburuan hiu di Indonesia)

Pasti di dalam pikiran anda, hiu adalah hewan pemangsa yang bergerak sesuai dengan insting. Apalagi film-film hiu pemburu seperti Jaws dan Shark memengaruhi alam bawah sadar anda bahwa hiu adalah hewan buas pemakan manusia. Tapi realitasnya hiu yang diburu manusia, bukan memburu manusia.
Perikanan tangkap komersial yang memburu hiu semakin marak setiap harinya di dunia. Hiu diambil siripnya (untuk dijadikan sup sirip) selain itu daging, minyak, tulang rawan, hati dan kulitnya juga diambil. 73 juta hiu dibunuh setiap tahunnya, hal ini didasarkan pada analisis Hong Kong Shark Fin Trade. Selain itu banyak peneliti yang memprediksikan 100 juta hiu dibunuh setiap tahunnya. 
Populasi hiu menurun sebanyak 70 – 80 % setiap tahunnya, merujuk pada penelitian global tentang hiu. Beberapa populasi hiu sepeti Hiu Porbeagle di Atlantic Utara dan Spiny Dogfish di Baratdaya Atlantik semakin berkurang secara bertahap hingga 90 %.
Tiga puluh persen hiu dan ikan pari sekarang menjadi hewan yang terancam punah dan masuk dalam kategori Threatened (Terancam) atau Near Threatened with extinction (terancam punah). Prediksi ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat perburuan hiu yang sangat tinggi. Parah!!!
Penangkapan hiu pada perikanan terkadang adalah hasil tangkapan yang bukan dijadikan tangkapan target atau biasa disebut dengan istilah bycatch. Kejadian bycatch biasa dilaporkan karena penggunaan alat tangkap longline yang seharusnya menangkap ikan tuna dan swordfish. Bycatch merupakan salah satu sumber kematian bagi para ikan hiu di dunia. 
Nilai ekonomis ikan hiu ini menaikkan pertumbuhan ekonomi di Asia (sebagian besar di Cina). Kenaikan ini adalah salah satu faktor eksploitasi hiu di seluruh dunia. Satu mangkuk sup sirip ikan hiu berharga US$100 atau setara 1 juta rupiah. 
Padahal ikan hiu memainkan pernan penting dalam struktur dan fungsi di dalam sebuah ekosistem. Hiu memiliki kemampuan untuk meregulasi dan mengontrol tingkat variasi dan kepadatan spesies di bawah tingkat trofi mereka. Hilangnya hiu di dalam sebuah rantai makanan akan dirasakan oleh seluruh ekosistem di laut. 
Selain itu, hiu memiliki nilai untuk bidang ekoturisme seperti diving, snorkelling dan melihat keberadaan hiu (shark watching). Jika hal ini digalakkan, hiu bisa memiliki nilai yang lebih dibandingkan jika sekedar digunakan sebagai makanan. Sebagai contoh, ekoturisme Whale Shark bernilai sekitar $47.5 juta setiap tahunnya dan ekoturisme hiu jinak di Bahamas bisa meningkatkan perekonomian disana setiap tahunnya. 
Untuk melindungi hiu dari kepunahan diperlukan hukum perlindungan hiu yang berkelanjutan, kuat dan berbasiskan ilmu pengetahuan. Dimana semua itu harus diperkuat dengan regulasi perikanan yang melarang perdagangan daging dan sirip hiu.
Identitas, 9 November 2013
Lagi buat karya tulis kemaritiman. πŸ˜€

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *