Ketika Pendidikan Indonesia Pudar di Tapal Batas

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku….”
Ingat dengan sepenggal lirik diatas? Atau sudah lupa dengan lagu yang biasa dinyanyikan ketika upacara bendera setiap senin pagi di sekolah? Setelah sekian lama tak bersenandung, saya menyanyikan lagu itu di daerah perbatasan, Indonesia – Malaysia. Pulau Sebatik namanya, singkat dan jelas. 
Sebait lirik yang sangat mendayu didengar ketika kita berada di antara anak-anak wilayah perbatasan. Lagu kebangsaan yang mungkin sudah kita lupakan ,namun itulah salah satu hal yang bisa mengenang para pahlawan ketika mereka merebut kemerdekaan dengan darah dan tangis.
Mari saya perkenalkan pada realita. Namanya SDN 06 Mantikas, Sebatik Barat. Letaknya dipinggir jalan trans menuju Sungai Nyamuk. Kalau pernah menginjakkan kaki di Sebatik, silahkan lihat bagian kanan jalan dan kalian akan menemukan sebuah sekolah yang dicat dengan warna merah-putih.
Coba singgah dan resapi keinginan anak-anak itu untuk belajar. Berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk mengecap sesuatu yang bernama “pendidikan”. Bukan hanya satu atau dua orang anak yang memiliki kisah yang sama, tapi nyaris semua anak-anak jauh dari rumahnya. Mereka berjalan kaki ramai-ramai untuk menghilangkan lelah dan rasa capai ketika menapaki jalan aspal pergi dan pulang sekolah. Setiap hari mereka lakoni dengan penuh semangat untuk menggapai cita serta asa sebagai orang berhasil dan masuk dalam kategori sukses.
Sayangnya semangat bersekolah anak-anak itu tidak dibarengi ketersediaan fasilitas belajar yang cukup. Bahkan, banyak sekolah di pedalaman dan perbatasan di Kalimantan yang kekurangan guru sehingga siswa belajar seadanya, (Kompas, April 2011).
Untuk jumlah sekolah dasar negeri hanya 6 di satu kecamatan, rasionya 1 : 30. Jika dihitung kasar, ada 1.152 murid yang dapat pengajaran oleh 65 guru. Metode pengajaran konvensional juga masih digunakan oleh para murid yang kewalahan menghadapi murid yang sangat banyak. Sumber pengetahuan hanya dari guru seorang, tidak ada fasilitas yang bisa menambah pengetahuan murid. 
Coba saja kita tengok gedungnya yang terbuat dari kayu mahoni, lapangannya dibuat dari tanah berpasir, berhiaskan satu tiang bendera di tengah lapangan. Masuk ke dalam ruang kelasnya, kita tidak akan menemukan papan tulis whiteboard, meja plastik, atau LCD yang biasa terpajang di Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI).
Ruang kelas sederhana itu hanya terdiri dari 10 meja kayu lengkap dengan bangku reotnya. Papan tulis berwarna hitam yang sudah putih disana-sini karena seringkali ditulisi oleh kapur murah. Dindingnya yang terbuat dari kayu dihiasi gambar-gambar pahlawan masa kemerdekaan. Jika mereka masih hidup, mungkin mereka akan tersenyum getir melihat keadaan ini. Itulah sedikit gambaran wajah pendidikan kita saat ini.
Mereka hidup jauh dari pusat keramaian, yang mereka kenal tentang Indonesia hanya sebatas pengetahuan mereka yang didapat dari buku pelajaran terbitan lima tahun lalu. Mereka hanya tahu bahwa Makassar ataupun Jakarta ada di Indonesia. Ketika ditanya nama pulau-pulau dimana kota-kota tersebut berada, mereka hanya menggeleng. Mereka tak mengetahui persis letak kota besar tersebut. Di dada mereka terpasang bendera kecil, merah putih. Warnanya tak lagi cerah, sama seperti pengetahuan mereka tentang negara yang benderanya mereka pakai di dadanya.
Pengetahuan mereka datang dari negeri tetangga. Maklum saja, di wilayah ini, siaran Indonesia tidak akan didapatkan jika tidak menggunakan receiver. Wajarlah jika mereka lebih memahami keadaan di negeri tetangga dibandingkan negara ini. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan mereka ketika seluruh warga Indonesia angkat senjata untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia yang diinjak-injak oleh Malaysia. Di Sebatik, mereka tidak mengerti apapun. Mereka tidak paham apa yang terjadi di Indonesia. Tak ayal mereka tetap melaksanakan kegiatan perekonomian seperti biasa, tanpa terusik oleh berita gempar di negeri Indonesia.
Jangan salahkan ketika mereka lebih hafal lagu kebangsaan Malaysia dibandingkan lagu kebangsaan kita. Kedekatan kita terhadap pendidikan di beranda Indonesia tidak dirasakan oleh mereka. Pendidikan kita tidak hadir dan tumbuh bersama mereka. Pendidikan menjadi suatu hal yang sulit dijangkau, namun ingin mereka rasakan.
Tengok sekolah lain dengan nasib yang sama. Sekolah Kolong namanya. Dinamakan seperti itu karena murid-muridnya bukan belajar di gedung sekolah, tapi di kolong rumah warga yang berbaik hati menjadi guru dan mengajar anak-anak tersebut tanpa dibayar. Jumlah muridnya hanya 7 orang, umurnya nyaris seragam. Sekitar 7 – 9 tahun, jika mereka sekolah dasar formal, mungkin mereka akan masuk kelas 2 dan 3.
Anak-anak masuk sekitar jam 10 pagi, berbeda dengan sekolah pada umumnya. Sekolah Kolong hanya bisa dilaksanakan pada siang hari. Karena jika dilaksanakan pada pagi hari, tidak ada cahaya masuk untuk menerangi kelas kecil mereka. Hal ini sudah dilaksanakan selama beberapa tahun dengan murid yang terus berganti, namun dengan semangat belajar yang sama.
Kita punya aturan dasar yang mewajibkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di kota-kota besar memang tumbuh banyak gedung dan institusi pendidikan, namun semua itu tak beda dengan tempat dan lembaga dagang, dimana status dan pengetahuan menjadi komoditi yang hanya mungkin dinikmati oleh kaum capital. Di berbagai pelosok negeri terdapat  begitu banyak gedung sekolah yang reot bahkan rubuh, juga fasilitas belajar mengajar yang tak memungkinkan pendidikan berlangsung secara baik, tapi rupanya pemerintah lebih asyik melakukan manipulasi data tentang pemerataan dan keberhasilan pendidikan. Kenyataannya : klaim bahwa bangsa kita telah terbebas dari buta huruf adalah dusta.
Aku tak hanya selalu menyalahkan negara, aku pun menyalahkan diri sendiri. Mengutuk negara ini karena tak berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan mengutuk diriku karena tak bisa berbuat banyak. Waktu satu bulan di Pulau Sebatik banyak membuatku belajar bahwa pendidikan Indonesia masih pudar di tapal batas. Jauh dan tak terjangkau. Aku pun berjanji, suatu saat nanti akan ku buat anak-anak Indonesia bisa mengecap pendidikan tak berbayar. Semoga….

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *