Serunya WSKOV Winter Concert

Wageningen Studentent Koor en Orkest Vereniging atau disingkat sebagai WSKOV melakukan Winter Concert. Acaranya diadakan di Gereja Wageningen yang terletak di pusat kota. Salah satu teman koridor, Fifi menjadi salah satu anggota WSKOV. Jadilah kami beramai-ramai menuju gereja untuk menghadiri konsernya.

Perjalanan ditempuh sekitar 15 menit dari apartemen kami. Saya, Arif, Daniel dan Zoda mengayuh sepeda lumayan kencang. Karena waktu sudah  menunjukkan pukul 7.40 CET. Biasanya orang Belanda kalau mengadakan sesuatu gak akan pernah ngaret. Kami tidak ingin ketinggalan sesuatu yang spektakuler. Pintu masuk sudah dipadati oleh para pengunjung. Ada antrian untuk memeriksa tiket masuk. Seminggu yang lalu kami semua membeli tiket Winter Concert dengan harga 5 euro per person. Lumayan lah untuk bisa masuk ke gereja untuk pertama kalinya dan mendengarkan lagu-lagu yang sepertinya akan asik.

Kami harus mencari tempat duduk yang bagus agar bisa melihat Fifi nanti akan tampil di panggung. Awalnya kami mencoba duduk di balkon atas. Tapi ternyata kami malah mendapatkan bangku di paling ujung, sehingga tidak bisa melihat panggung. Setelah itu kami memutuskan untuk pindah ke bawah dan Orkestra pun dimulai tepat pukul 20.00 CET.

Kali pertama melihat Orkestra dari jarak dekat

Lagu pertama yang dibawakan oleh Okestra dari Juriaan Andriessen yaitu Symphony No.8 (La Celebrazione). Alunan musik yang sendu membawa para pengunjung menjadi bergairah. Komposisi ini diciptakan pada tahun 1977. Terdiri dari empat bagian yaitu

  1. Andante sostenuto
  2. Lento
  3. Tempo di menuetto
  4. Finale: Rondo festivo (Allegro giocoso)

Menyegarkan.. Setelah itu giliran kelompok Choir yang unjuk gigi. Mereka membawakan 7 lagu dengan bahasa yang berbeda-beda.

Lagu pertama adalah Pater Noster yang diciptakan oleh Albert de Klerk. Lagu ini menggunakan bahasa Latin tentang puji-pujian kepada Tuhan dan juga doa. Diciptakan pada tahun 1988S lagu ini dinyanyikan pada akhir minggu rehearsel pada waktu itu.

Saya membayangkan para penyanyi ini harus belajar beragam bahasa agar bisa melafalkan nyanyian dengan benar. Benar-benar salut dengan dedikasi orang-orang WSKOV untuk mempelajari lagu-lagu ini.

Lagu kedua adalah Wandrers Nachtlied & Chanson d’Automne yang diciptakan oleh Alphons Diepenbrock. Lagu ini menggunakan bahasa Jerman dan Perancis. hahah. berganti bahasa lagi. Lagu ini bercerita tentang puisi mengenai autumn. Lagu berikutnya berjudul Cantate Domino yang diciptakan oleh Jan Pieterszoon Sweelinck pada tahun 1619 di Cantiones Sacrae. Lagu ini menggunakan bahasa latin dan bercerita tentang Tuhan.

Kemudian lagu berganti lagi ke bahasa Latin lagi yang diciptakan oleh Anton Verheij pada tahun 1923. Lagu ini bercerita tentang Perawan Mary (Virgin Mary). Dan lagu terakhir adalah De nevel dekt ons yang dikomposisi oleh Johannes Verhulst pada tahun 1836. Lagu ini menggunakan bahasa Belanda, sehingga saya bisa paham sedikit. Walaupun cara para penyanyi agak sendu, sehingga saya kurang bisa menangkap bahasa belanda yang mereka ucapkan.

Setelah itu konser diistirahatkan sementara, dan orkestra dimulai lagi. Kali ini Violin Concerto yang dikomposisi oleh Hendrik Andriessin pada tahun 1969. Menurut buku yang dibagikan, tidak ada informasi latar belakang ketika lagu ini diciptakan. Masih misterius…

Hingga akhirnya lagu terakhir pun dimainkan. The Path merupakan tulisan di dalam diary Dag Hammerskjold yang meninggal dalam kecelakaan pesawat. Diary ini merupakan kontemplasi Dag di dalam kehidupannya yang menjabat sebagai anggota United Nation. dan salah satu bagiannya adalah The Path yang akhirnya dijadikan komposisi oleh Peter Kooreman pada tahun 2016.

Ternyata mendengarkan Orkestra itu menyenangkan

Kami semua mendengarkan lagu-lagu itu dengan khidmat. Mungkin karena semua orang berfokus pada musik, sehingga tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Saya benar-benar menikmati bagaimana musik berirama naik dan turun. Apalagi ketika melihat sang Conductor pada malam itu, Frank Adams dan Krista Audere sangat lucu. Mas Frank selalu mengajak pada pemain orkes untuk lebih bersemangat dan mengontrol semua bunyi agar tidak ada kesalahan.

Saya melihat pemain harpa dari jarak dekat, itu salah satu hal yang membuat saya senang. Karena selama ini saya melihat harpa hanya dari video ataupun televisi. Sama juga dengan orkestra seperti ini, ini adalah kali pertama bagi saya. Dan ternyata mendengarkan konser musik klasik bisa sangat menyenangkan.

ditulis di Asserpark

2:17 CET Sunday, 17 December 2017

sambil ngedit video pake aplikasi Filmora

You may also like

Leave a Reply