Kisah Klasik Lima Bulan dan Kisah Seorang Adik Bungsu

Bersenang-senanglah
Karena hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
– Sheila on 7 (Kisah Klasik Untuk Masa Depan)

Kapan ya bisa liburan berempat lagi??
Angka lima tiba-tiba menjadi angka sakral bagi saya. Bukan angka togel ataupun angka berbau magis. Bukan juga seperti angka 3 kesukaan Benjo (sahabat saya). Tapi lebih kepada angka yang bermakna bagi saya. Banyak hikmah dari angka lima tersebut. Saya mendeskripsikan lima sebagai lima bulan terbentuknya sebuah keluarga baru yang saya miliki. Apa sih yang bisa dilakukan selama lima bulan?
Dan ternyata, angka lima tersebut membuat saya berat pergi dari Maumere. Saya menyebutnya kisah klasik lima bulan dan meninggalkan Maumere akan menjadi salah satu bagian terberat dalam hidup saya selama 23 tahun ini. Sama halnya ketika saya meninggalkan Bogor ketika umur 17 tahun dan meninggalkan Makassar pada umur 22 tahun. 
Saya akan mengingat Maumere sebagai rumah bagi saya. Walaupun saya tidak tahu, kapan rumah tersebut akan hilang. Ketika anggota keluarga yang terdiri dari Mas Budi, Mas Anang dan Mas Firman pindah ke tempat-tempat baru. Kemarin ketika di Pantai Koka saya tiba-tiba menuliskan kata B.A.F.A. “Sudah sesuai dengan urutan umur, Budi yang paling tua” kata Mas Anang sambil tertawa. Saya pun mengiyakan dan menamai hubungan aneh kita berempat dengan B.A.F.A (Budi.Anang.Firman.Adlien).
Danau Kelimutu tanpa Mas Budi
Ketika nanti kami semua sudah sukses dengan cara masing-masing, semoga dengan tulisan ini, kita masih bisa mengingat kenangan gila di kost dari 28 Januari – 8 Mei 2014. Saya benar-benar menganggap kalian sebagai saudara sendiri, kakak laki-laki yang tidak pernah saya miliki selama ini. Thanks atas kenangannya selama lima bulan. Walaupun kita memiliki banyak impian untuk sama-sama masak sahur bareng, buka puasa bareng bahkan untuk shalat taraweh bareng toh takdir berkata lain. Mungkin ini menjadi jawaban lebih baik. 
“Malah bagus, kamu yang pergi duluan daripada kamu yang ditinggal nanti,” ucap Mas Firman via media sosial. Mengingat Mas Budi yang akan melangsungkan pernikahnnya bulan Agustus, Mas Firman yang habis daftar Pelindo dan Mas Anang yang masih bertahan di Maumere. Kita akan terpencar-pencar. Mungkin saya yang duluan pergi, dan kalian akan menyusul, tapi paling tidak ingatan tentang kalian tersimpan rapi di hati dan di memori.
Ingatkan kalian dengan pertemuan awal mula kita?
Saya kenal Mas Anang karena Bang Wildan belum pulang dari rumah nelayan. Akhirnya saya nebeng naik motor sama Mas Anang ke Roxy (pusat perbelanjaan) untuk membeli peralatan mandi dan lain-lain. Mas Anang orangnya kurang ramah di awal perkenalan. Diem banget dan keliatan cool. Tapi ternyataaaaa… 
Saya ketemu Mas Firman pertama kali di depan kamar. Tapi saat itu sedang ga pake kacamata, jadi ga liat mukanya kayak gimana. Pas ketemu kedua kalinya di depan rumah Mama kost, sempat silau karena dia kalem dan he look’s charming. Hahaha. Tapi ternyataaaaaa…
Ketemu sama Mas Budi beda cerita lagi. Kita ketemu di Gramedia Maumere. Pada saat itu, Bang Wildan tiba-tiba ngomong bahasa Bima yang tidak saya mengerti. Ketika telah selesai berbicara, saya pun diajak kenalan sama temannya Bang Wildan tadi. Setelah nanya tinggal dimana, ternyata kami satu kost. Hahaha. 
Air Panas Blidit tanpa Mas Firman
Kisah perkenalanku dengan kakak-kakak ini sangat unforgettable dan membuat saya tidak akan melupakan kalian. Saya dipanggil Adli, tanpa embel-embel “N” seperti yang lain. Panggilan ini ditujukan oleh Mas Firman dan Mas Budi. Kalau Mas Anang tetap memanggil saya Adlien seperti yang lainnya. 
Selain keluarga buatan, saya juga akan merindukan keindahan alam Flores yang telah kita jelajahi. Mulai dari Tanjung Kajuwulu dengan Mas Firman, ke Pantai Koka berempat,ke Ende, ke Danau Kelimutu bertiga, ke Air Panas Blidit, ke Jong Dobo, ah semuanya keren. Dan semuanya tak akan terlupakan. 
Tapi apakah kalian tau apa yang membuat saya berat meninggalkan kalian? Karena PERBEDAAN kita dalam segala hal. Mulai hal remeh temeh hingga hal-hal yang sangat krusial. Misalnya saja tidak boleh ambil makanan di piring orang lain dengan tangan, mandi setiap hari, bersih-bersih kamar sendiri, pakai baju yang tidak sesuai dengan keadaan dan lain sebagainya. Walaupun sering saya bantah, tapi saya memungutnya satu-satu dan mencoba mempraktekkannya. Tahukah kalian kalau saya mulai pake handbody, lulur mandi dan parfum saat ini? Karena apa? Saya ga mau kalah dari kalian yang lebih terawat daripada saya. Hahaha. 
Terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang #ceilekepada adik bungsu. Haha. Saya benar-benar merasakan asiknya jadi seorang adik karena kalian. Karena selama ini saya selalu diajarkan untuk kuat dan terus tegar tanpa harus terlihat lemah di hadapan orang lain. Tapi dengan adanya kalian, saya bisa merasakan dimensi yang berbeda menjadi seorang manusia.  
Ini tulisan lebay dari yang akan meninggalkan kalian
,adik bungsu yang tak dianggap
Adlie
Ditulis di dalam kamar kost sambil denger lagu Tears in Heaven – Eric Clapton
Selasa, 20 Mei 2014 8:52 AM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *